Tuesday, July 23, 2024

Rainamira Taklukkan Merah Delima

Rekomendasi
- Advertisement -

Pantas aglaonema merah asal Th ailand itu meraih gelar juara 1. “Sosoknya kompak dan banyak anakan. Bentuknya juga simetris sehingga indah dilihat dari segala penjuru,” kata Surawit Wanna Khairoj, PhD, juri internasional asal Th ailand. Aglaonema milik Leni Leman itu kian gagah karena warna daun merah mengkilap dan terkesan berani. Pun kesehatannya, sangat prima. Lantaran itulah penyandang gelar grand champion 2 kali di Th ailand itu diganjar nilai 261. Pesaing terberatnya, merah delima, hanya mendapat nilai 243.

Sebetulnya penampilan runner up tak kalah cantik. “Warnanya ngejreng dan langka,” kata Anshori, juri lomba. Konon,ia adalah aglaonema paling menyala di Indonesia. Aglaonema koleksi Suhardi itu juga terlihat perkasa karena cabang kokoh dan daun tebal. Sayang, penampilan sri rejeki itu kurang simetris sehingga hanya indah dipandang dari 1 sisi. Menurut Anshori, seandainya ia diikutkan 1 tahun lagi—sampai rimbun—predikat juara 1 pasti dipegang.

Petita di tempat ke-3 pun kompak meskipun berukuran mini. Sayang, warna merahnya kalah ngejreng dibanding 2 pesaingnya. Tiga juri hanya memberi nilai 240. Persaingan 3 besar itu kian membuktikan perang 2 kutub antara Indonesia dan Th ailand untuk menghasilkan aglaonema merah tetap ketat. Harap mafh um, sang jawara pertama berasal dari Th ailand, sementara tempat ke-2 dan ke-3 dipegang oleh aglaonema silangan Greg Hambali, penyilang dari tanahair.

Berbagi tempat

Tak hanya aglaonema merah yang menarik perhatian pengunjung. Perebutan tempat terhormat di kategori aglaonema putih pun seru. Dari seluruh kontestan lomba, hanya 3 yang masuk kelas tersebut. Namun, menurut Anshori ketiganya berkualitas setara sehingga tidak terdegradasi pada tahap pertama. “Semuanya layak kontes. Tinggal mencari yang paling banyak kelemahan,” kata pemilik Zikita Nurseri itu.

Akhirnya mereka hanya berbagi tempat. Aglaonema asal Florida milik AniS mengukuhkan diri sebagai yang terbaik dengan nilai 234. Di tempat ke-2 ada white dalmation, aglaonema milik Gunawan, yang diganjar poin 230. “Pemenang pertama lebih kompak dan rimbun,” kata Anshori. Sementara itu white angel, aglaonema milik Leni, harus puas sebagai juru kunci dengan nilai 230.

Menurut Syah Angkasa, panitia kontes, ada 24 aglaonema beradu cantik memperebutkan gelar terhormat. Penilaian dibagi 2 tahap: 10 besar dan 3 besar. Trubus melihat persaingan sudah terlihat sejak tahap pertama. Berulangkali 3 juri—Surawit, Debora Herlina, dan Anshori—beradu argumentasi untuk menyisihkan 11 aglaonema tak lolos seleksi.

Adenium dan anggrek

Persaingan ketat pun terlihat pada lomba adenium. Kamboja jepang putih milik Awang dan Ricky dinobatkan sebagai yang terbaik dengan nilai 126. “Bunganya paling kompak, kondisinya pun sehat,” kata Anshori sambil menunjuk pot nomor 8. Ia mengalahkan 2 rival terberatnya—adenium bunga merah milik Handri Chuhairy—masing-masing dengan poin 115 dan 111.

Kontes tanaman hias dalam rangkaian acara Trubus Agro Expo 2005 itu juga melombakan kategori anggrek. Sebanyak 31 phalaenopsis dan dendrobium beradu penampilan. Dendrobium spesies bunga bintang milik Ery Hanandita merebut gelar grand champion. Ia mengalahkan kampiun anggrek hibrid milik Eti Rustiati. “Anggrek spesies dengan kualitas bagus langka. Biasanya bila berbunga tak memunculkan tunas baru. Yang ini luar biasa. Layak jadi indukan unggul,” kata Dyah Widyastuti, juri lomba. (Destika Cahyana/Peliput: Rosy Nur Aprianti, Dewi Permas, Lastioro Anmi, Hanni Sofi a, dan Rahmansyah Dermawan)

 

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Pakai IoT di Kebun Jeruk, Hasil Panen Optimal

Trubus.id—Penggunaan internet of things (IoT) untuk pertanian turut membantu meningkatkan hasil panen dan kualitas produk. Pekebun jeruk di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img