Monday, August 8, 2022

Raja Buah Istimewa dari Lereng Menoreh

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Namun, “Siapa pun yang memakannya pasti puas,” papar Sugito, penangkar di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo. Rasa buah manis agak pahit, alkoholik, dan beraroma harum khas durian lokal. Daging berwarna kuning cerah cukup tebal, agak berserat dan bertekstur kering, membungkus biji bulat kecil.

Lantaran istimewa, durian milik Sukidal, di Petronalan, Desa Banjaroyo, Kalibawang , dinobatkan oleh Balai Pengawasan dan Sertifi kasi Benih (BPSB) Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai durian unggul lokal pada 2001. Di daerah asal ia sudah tersohor dan banyak diburu konsumen. Hobiis dan para pengepul rela antre berbulan-bulan untuk mendapatkannya. “Baru muncul sebesar pentil pun sudah dipesan orang,” ungkap Sukidal.

Ukuran buah tergolong besar, bobot mencapai 4 kg. Bentuknya bulat lonjong, berkulit hijau kecokelatan dengan duri rapat, runcing, dan panjang. Buah normal memiliki 5 juring, masing-masing berisi 5—6 pongge. Biji sempurna mencapai 26 per buah.

Warisan

Kini pohon induk di halaman rumah Sukidal sudah mencapai 20 m. Sang empunya tidak mengetahui kapan durian itu ditanam. Waktu ia menempati rumah itu pada 1973 pohon sudah berproduksi 25—30 buah. Melihat diameter batang pada ketinggian 1 m dari tanah mencapai 2 pelukan orang dewasa, diduga umurnya minimal 50 tahun.

Tajuk seperti payung dengan diameter 10 m cukup rimbun. Percabangan agak lebat dengan arah mendatar. Ujung-ujung cabang hampir bersilangan satu sama lain. Tinggi batang bebas cabang hanya sekitar 5 meter.

Produksi tertinggi mencapai 500 buah, rata-rata 200—300 buah per musim. Musim panen berlangsung pada September hingga Januari. Namun, “Panen besar hanya berlangsung 2—3 tahun sekali,” papar Sukidal. Produksi tahun ini diperkirakan 200 buah. Kemarau berkepanjangan menyebabkan banyak bunga rontok.

Tiga induk

Adalah Dipo S Toyo, Bupati Kulonprogo yang mengusulkan nama menoreh untuk durian itu. Buah asal pohon terletak di tepi jalan raya Wates- Magelang itu memang salah satu raja buah terbaik dari lereng Gunung Menoreh. Nama itu resmi disandang setelah BPSB DIY memasang label pada pohon induk dengan nomor registrasi PI/Dr/ XVI/226101. Kini instansi di bawah kepemimpinan Ir Joko Hartoyo itu sedang mempersiapkan usulan untuk melepaskannya sebagai varietas unggul nasional.

Menurut Ir Martapa Indria Wiweko, fungsional pengawas benih tanaman BPSB DIY, saat ini ada 3 pohon induk yang diakui sebagai durian menoreh. Selain milik Sukidal, 2 pohon lainnya milik Suwartoyo di Desa Banjararum, Kecamatan Kali bawang . Meski umur t a n a m a n diperkirakan lebih muda, deskripsi kedua pohon milik Lurah Banjararum itu mirip menoreh di halaman rumah Sukidal. Apalagi analisa isozim terhadap ketiganya membuktikan adanya kesamaan varietas.

Sejak dinyatakan sebagai varietas unggul lokal, Sugito, penangkar di Banjaroyo langsung melakukan penangkaran. Pada 2003 tak kurang dari 600 bibit telah diproduksi. Sumber entris juga diperoleh dari tiga pohon induk. Bibit produksi anggota KTNA Kalibawang itu telah menyebar hingga ke kota-kota Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Ia sendiri menanam sekitar 60 bibit dengan jarak tanam 10 m x 10 m. Tanaman kini sudah setinggi 1—1,5 m. Boleh jadi Sugito orang pertama yang mengebunkan menoreh secara intensif. (Fendy R Paimin)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img