Friday, December 2, 2022

Ramuan untuk Autisme

Rekomendasi

Daun sukun memperbaiki fungsi lever sebagai organ detoksHerbal membantu mengatasi autisme ringan pada anak.

Rina Widiwati cemas ketika anaknya, Andi Jatmika­-kedua narasumber enggan disebut namanya-memperlihatkan gelagat aneh. “Saya kasih makanan, dia malah bingung cara makannya,” ujar Rina. Jika anak pada umumnya menggunakan tangan untuk makan, Andi justru langsung menyantap makanan itu menggunakan mulut. Andi yang kala itu berusia 16 bulan juga sulit berinteraksi dan cenderung hiperaktif.

Menyaksikan perilaku sang anak, Rina merasa khawatir. Itulah sebabnya pada 2008 ia memeriksakan buah hatinya ke bagian saraf anak di sebuah rumahsakit di Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Diagnosis dokter menyebutkan putranya mengalami gejala autisme. Andi baru terindikasi gejala autisme karena masih memperlihatkan emosi. “Dikasih mainan masih bisa tertawa,” kata Rina.

Autisme ringan

Hasil diagnosis lengkap akhirnya Rina peroleh pada 2011 saat memeriksakan Andi ke sebuah rumahsakit di Jakarta. Kala itu dokter menyarankan agar Andi menjalani pemeriksaan darah, rambut, dan feses. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar logam pada tubuh Andi cukup tinggi.

Kadar aluminium (Al) mencapai 25 µg/g, normal kurang dari 8 µg/g; merkuri (Hg) 0,48 µg/g, normal kurang dari 0,4 µg/g; timbel (Pb) 7,2 µg/g, normal kurang dari 1,0 µg/g; dan kadmium (Cd) 0,13, normal kurang dari 0,07 µg/g. Itu artinya tubuh Andi keracunan logam. Dokter mendiagnosis Andi mengalami PDD NOS (pervasive developmental disorder not otherwise specified) alias autisme ringan. Itu karena Andi masih memiliki emosi dan mampu berkomunikasi nonverbal.

dr Paulus Wahyudi Halim, “Pemberian herbal memperbaiki keseimbangan otak, detoksifikasi terhadap racun tubuh, dan memperbaiki kemampuan anak untuk menyerap informasiMenurut psikolog di Jakarta, Kasandra Putranto Psi, autisme merupakan gangguan perkembangan pada anak-anak. Cirinya di antaranya sulit berinteraksi dengan orang lain, tidak suka diganggu bila sedang melakukan sesuatu, susah berkomunikasi, jarang berinteraksi dengan teman sebaya, hiperaktif, jarang melakukan kontak mata dan tersenyum, tingkah laku berulang dan minatnya kecil. “Bila menyukai benda tertentu ia akan terobsesi dan menolak benda lain,” ujarnya.

Gejala yang sama juga ditemukan pada Andi. Ketika bermain bersama teman-temannya, tiba-tiba dia menghilang dan ternyata asyik bermain sendiri. Andi juga tergolong anak yang hiperaktif.  “Jangankan disuruh diam selama lima menit, semenit saja sulit. Saat duduk, tangan atau kaki terus bergerak,” ujar perempuan  berusia 33 tahun itu.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada 2004 jumlah penderita autisme di Indonesia mencapai 475.000 orang. Sebanyak 1 dari 150 anak lahir menderita autisme. Gejala autisme biasanya muncul sejak bayi. Namun, ada juga anak yang lahir dan berkembang normal, tapi pada usia 2 tahun, mental anak mulai mengalami kemunduran. “Meski belum diketahui penyebab khusus dan metode penyembuhan autisme, tapi sebetulnya dapat diatasi,” ujar Kasandra.

Penderita autisme membaik bila memperoleh penanganan medis, psikis, sensorik, dan edukasi yang tepat dan intensif secara dini. Kasandra menjelaskan, langkah pertama yang harus orang tua lakukan bila mengetahui anak autisme adalah segera membawa dia ke dokter spesialis anak, psikolog, atau psikiater anak yang mendalami autisme.

3.	Penderita autisme berpantang konsumsi kacang-kacanganHerbal

Untuk mengatasi autisme ringan Andi, Rina hanya memberikan suplemen dan beragam terapi. Andi juga harus berpantang beberapa jenis makanan seperti gula, susu dan produk turunannya, kacang-kacangan, makanan laut, jahe, cabai, lada, labu siam, apel, belimbing, pisang, lemon, jeruk, stroberi, serta kuning telur. “Seluruh makanan yang ia konsumsi harus organik,” ujar Rina.

Dua tahun lamanya Andi menjaga pola makan dan melakukan terapi sensory integration, okupasi, wicara, serta perilaku. Namun, Andi belum banyak berubah. Ia yang kini berusia lima tahun itu masih hiperaktif dan sulit berkomunikasi.

Pada Januari 2012, Rina bertemu dokter dan herbalis di Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr Paulus Wahyudi Halim. Rina lalu menceritakan kondisi putranya. Paulus menyarankan agar Rina memberikan ramuan herbal untuk memperbaiki fokus Andi. “Selama anak tidak fokus, diajari apa pun tidak akan ada yang terserap,” ujar Paulus.

Dokter Paulus memberikan ramuan berupa campuran rimpang lengkuas, sidowayah, daun johar, daun melati, daun sukun, putri malu, sambiloto, meniran, daun kedondong, bekatul, asam jawa, daun kangkung, rimpang kunyit, dan temulawak. Dokter ahli bedah itu mengombinasikan aneka jenis herbal untuk mencapai efek sinergisme yang maksimal.

Rina merebus ramuan herbal itu dalam setengah gelas air hingga mendidih dan tersisa separuhnya. Ia memberikan air rebusan itu ke putranya 3 kali sehari masing-masing 2 sendok makan. Andi juga mengikuti terapi kraniosakral atau terapi untuk memperbaiki keseimbangan otak kiri dan kanan, serta memperbaiki sirkulasi cairan serebrospinal di otak sehingga mengalir lancar.

Herbal Vs AutismeMembaik

Setelah 6 pekan rutin mengonsumsi herbal dan menjalani terapi, perilaku Andi mulai membaik. Andi yang sebelumnya pemarah, susah berkomunikasi, dan hiperaktif menjadi lebih tenang. “Kini sudah bisa mulai berhitung, menulis, dan berkomunikasi. Jika diajari, makin banyak yang ia tangkap,” ujar  Rina. Guru di sekolahnya pun merasakan perubahan positif. “Sekarang sudah pintar, penurut, tidak berlari-larian, dan jarang marah,” kata Rina menirukan ucapan sang guru.

Menurut dr Paulus, ramuan herbal racikannya itu untuk memperbaiki keseimbangan otak, detoksifikasi racun tubuh, dan memperbaiki kemampuan anak menyerap informasi. Pegagan, lengkuas, dan sidowayah dalam ramuan berperan memperbaiki kinerja otak. Peran pegagan Cantella asiatica memperbaiki daya ingat dibuktikan Herlina dan Lentary Hutasoit dari Jurusan Kimia Universitas Brawijaya.

Hasil penelitian menunjukkan mencit yang mengonsumsi senyawa aktif triterpen dari pegagan berdosis 40 mg/kg bobot tubuh, mampu mengingat lebih lama ketimbang kontrol. Meningkatnya daya ingat mencit itu akibat pelepasan asetilkolin di dalam sel otak yang meningkat sehingga memacu reseptor muskarinik yang memfasilitasi neurokolinergik di otak. Akibatnya kemampuan mengingat dan fungsi kognitif belajar meningkat.

Sementara daun sukun, kunyit, dan temulawak memperbaiki fungsi lever sebagai organ yang berperan dalam detoksifikasi. Sambiloto dan meniran meningkatkan kekebalan tubuh. Daun melati, putri malu, dan kangkung sebagai penenang. Bekatul kaya vitamin B yang baik untuk saraf. Sementara asam jawa memperbaiki pencernaan sekaligus desinfektan.

Hasil pemeriksaan laboratorium pada Januari 2012 menunjukkan kadar aluminium pada darah Andi turun dari 25 menjadi 19 µg/g dan timbal dari 7,2 menjadi 4,5 µg/g. Kadar kedua logam memang masih di atas normal. Karena itu Andi melanjutkan konsumsi herbal. (Desi Sayyidati Rahimah)

Herbal Vs Autisme

 

Keterangan Foto :

  1. Daun sukun memperbaiki fungsi lever sebagai organ detoks
  2. dr Paulus Wahyudi Halim, “Pemberian herbal memperbaiki keseimbangan otak, detoksifikasi terhadap racun tubuh, dan memperbaiki kemampuan anak untuk menyerap informasi.”
  3. Penderita autisme berpantang konsumsi kacang-kacangan

 

Previous articleIkon Herbal Nusantara
Next articleCegah Hipertensi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Balitbangtan Menjajaki Kolaborasi dengan Turki atas Keberhasilannya Sertifikasi Varietas

Trubus.id — Balitbangtan yang telah bertransformasi Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) mulai memperkuat jejaring internasional salah satunya dengan kunjungan ke...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img