Monday, November 28, 2022

Ratu dari Timur Bersolek

Rekomendasi

MEREKA INGIN MENGEMBALIKAN JULUKAN VENEZIA DARI TIMUR BAGI SUNGAI CILIWUNG.

Memori Jumari masih merekam dengan baik aktivitas ketika kanak-kanak: berenang di Sungai Ciliwung yang airnya masih bersih dan jernih. Jumari lahir dan besar di Condet, Jakarta Timur, yang dilintasi sungai itu. Kini jangan harap pria 44 tahun itu berenang di sana. Ciliwung kini yang kotor dan bau berbeda dengan zaman Jumari kecil. Kenangan indah itulah yang mendorong Jumari dan rekan-rekannya membersihkan sampah di Sungai Ciliwung. Ia dan ketiga rekannya menyusuri keruhnya Sungai Ciliwung dengan perahu karet bermesin sumbangan sebuah perusahaan. Ketika melintasi sungai, biasanya Jumari berdua atau bertiga. Seorang mengemudikan perahu, 2 lainnya mengambil sampah di sepanjang lintasan sungai dan tersangkut di pepohonan seperti randu, bambu, lo, dan mangga. Mereka menggenggam jaring untuk menampung sampah.

518-HAL-114-116.
Jumari (kanan) dan kedua rekan kumpulkan sampah di Sungai Ciliwung

Jumari memungut sampah 1-2 kali setiap hari selama total 3-4 jam. Wilayah pengambilan sampah sepanjang 1 kilometer. Sehari ia mengangkat 250 kg sampah plastik, 300 kg sampah lain, dan 15 kg sampah daun atau total 565 kg sampah. Sampah-sampah itu kemudian ia relokasi ke tempat pembuangan akhir di Bantargebang, Jakarta Timur. Menurut Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto seperti termaktub dalam situs resmi kementerian itu, www.pustaka.pu.go.id, saat ini sampah yang mengotori Sungai Ciliwung mencapai 360 m3 per hari. Itu berarti dalam setahun sampah Sungai Ciliwung mencapai 131.400 m3 atau setara dengan dua Candi Borobudur. Volume Candi Borobudur 55.000 m3. Jumari juga memanfaatkan lahan di bantaran sungai seluas 500 m2. Lahan itu semula hanya menjadi endapan sampah dari Sungai Ciliwung. Ketika air meluap membawa sampah dan tersangkut di area itu. Ayah 5 anak itu menanam beragam komoditas seperti belimbing dewi terdiri atas 12 pohon, salak condet (15), mangga (3), jambu biji (1), nangka (1), jambu air (3), dan sawo durian (10) pada 2009. Belimbing dan salak telah berproduksi. Sekali panen belimbing ia menuai 8 kg.

Ciliwung yang kian bersih ternyata menarik wisatawan. Rata-rata sebuah rombongan-terdiri atas 5 hingga 10 orang-mengunjungi lokasi itu setiap pekan. Mereka menyusuri sungai sembari memungut sampah. Dalam sejarahnya, Sungai Ciliwung memang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Sungai itu sumber air bersih untuk minum, masak, mandi, sumber air pertanian, dan jalur transportasi perdagangan masyarakat di tanah Pasundan atau Provinsi Jawa Barat hingga Batavia. Menurut Dr Ir Siti Badriyah Rushayati, MSi, peneliti di Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, kini kualitas air sungai Ciliwung terkontaminasi aneka polutan limbah industri dan rumah tangga. Air yang mengalir sepanjang sungai tampak cokelat pekat, bau tak sedap, dan mengandung beragam polutan. Riset Badriyah pada 1985 saja membuktikan bahwa beragam polutan seperti nitrat, nitrit, amonia, sulfat, dan bakteri Eschericia coli yang menjadi sumber penyakit terkandung dalam air sungai itu. “Sekarang kondisinya makin parah,” kata doktor Konservasi Biodeversitas Tropika alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Polutan nitrit itu tinggi karena banyak industri, terutama di sepanjang DAS Ciliwung hulu- tengah, membuang limbahnya ke Ciliwung. Sementara itu peningkatan pemukiman di DAS Ciliwung tengah menyebabkan pasokan limbah domestik seperti sampah rumah tangga, sampah pasar, kotoran hewan, dan manusia kian meningkat. Dampaknya, menurut Badriyah, kandungan beragam polutan seperti amonia, nitrat, dan ortofosfat kian meningkat.

Polutan menjadi malapetaka bagi kesehatan masyarakat di sekitar bantaran sungai. Terlebih ketika musim hujan, badan sungai yang tak mampu menampung air hujan dan menimbulkan banjir. “Keadaan itu diperparah dengan vegetasi yang sedikit dan jumlah bangunan yang rapat dan kokoh, layaknya sebuah kolam beton raksasa,” ujar Badriyah. Ketika hujan tiba, fungsinya hanya menampung air, tak ada air yang terserap tanah. Siti Badriyah Rushayati mengatakan kerusakan Sungai Ciliwung akibat penutupan lahan di daerah aliran sungai yang didominasi lahan terbangun seperti pemukiman dan industri. Sungai pun menjadi tempat berlalu-lalangnya limbah rumah tangga dan industri. Fungsinya sebagai penyedia air untuk kebutuhan sehari-hari pun jauh dari harapan.

Peran masyarakat

Fluktuasi debit air Sungai Ciliwung antara musim kemarau dan musim hujan juga tinggi. Kondisi ini mengindikasikan daya infiltrasi sempadan sungai yang sangat rendah sehingga mengakibatkan limpasan dan run off yang tinggi. Oleh karena itu, “Manajemen daerah aliran sungai Ciliwung harus segera diperbaiki,” tutur Badriyah. Masalah itu harus ditangani secara komprehensif antarwilayah administratif, Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat, masyarakat, instansi terkait, LSM, tokoh masyarakat, serta perguruan tinggi. Jumari dan rekannya yang tergabung dalam Komunitas Pencinta Ciliwung (KPC) sudah menunjukkan

langkahnya untuk merawat Ciliwung. Komunitas itu berdiri pada 12 November 2009 untuk menciptakan Sungai Ciliwung yang bersih, aman, dan nyaman seperti tempo dulu. Menurut penasihat KPC, Augustina Priyanto, terdapat 18 komunitas pencinta Ciliwung yang peduli terhadap kebersihan sungai itu dan terdaftar di Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Jakarta (LPMJ).

Bahkan, di luar itu terdapat lebih dari 50 komunitas yang belum mendaftar. Setiap komunitas memiliki program kerja yang berbeda, sesuai dengan potensi wilayahnya. Komunitas Pencinta Ciliwung Bojonggede, misalnya, mengarah pada pelestarian lingkungan dengan penanaman bambu di sekitar bantaran sungai (lihat ilustrasi). Dengan adanya komunitas-komunitas peduli Ciliwung, tumpukan sampah yang menggunung mulai berkurang. Artis senior, Niniek L Karim, memelopori gerakan The Jakarta Glue dan mengajak masyarakat untuk peduli terhadap kebersihan Ciliwung. Gerakan itu yang dibentuk pada Oktober 2010. Niniek terinspirasi gerakan bernama “Chicago Glue” yang membersihkan sampah di Sungai Chicago pada 1980-an sehingga sungai kembali bersih. Bintang film “Ketika Cinta Bertasbih” itu ingin Sungai Ciliwung kembali bersih dan nyaman. Perempuan 63 tahun itu begitu antusias mendatangi berbagai kelompok untuk mengampanyekan “Queen of the East” yang bersih. Pada akhir abad ke 17, Gubernur Jenderal Hindia- Belanda, Herman Williem Daendels, memang menobatkan Ciliwung sebagai Ratu dari Timur sebagai penghargaan atas keindahan sungai sepanjang 120 km itu. Saat itu Ciliwung menjadi jantung transportasi air untuk berdagang. Nasib sang ratu kini nestapa karena menjadi tempat pembuangan limbah. Kita dapat membersihkannya agar wajah ratu kembali bersih seperti semula. (Rona Mas’ud/Peliput: Muhamad Khais Prayoga)

518-HAL-114-116-1

Keterangan Foto :

  1. Panorama Sungai Ciliwung yang melintasi Condet, Jakarta Timur
  2. Jumari (kanan) dan kedua rekankumpulkan sampah di Sungai Ciliwung
  3. Dr Ir Siti Badriyah Rushayati, MSi peneliti dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata,Fakultas Kehutanan IPB
  4. Penanaman belimbing dewi di bantaran sungai Ciliwung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img