Sunday, August 14, 2022

Ratu Peniup Kehidupan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Berkat aglaonema Adrian seperti hidup kembali. Sepuluh tahun silam, April 1999, sebuah kecelakaan merenggut masa muda Adrian yang ceria. Mobil yang ditumpanginya tergelincir saat melintas di jalan raya di Lampung. Saat tersadar, kelahiran 20 Juni 1972 itu bagai terlempar ke dunia tak bercahaya. ‘Saya diopname 7 bulan, bagian dada ke bawah semua lumpuh. Ketika itu saya tak bisa menerima keadaan,’ katanya. Saat ditemui di Jakarta Barat, hanya kedua tangan Adrian yang bisa digerakkan, itu pun dengan genggaman yang lemah.

Namun, kondisi itu tak melemahkan semangat Ian-panggilannya-untuk berburu aglaonema. Sejak 2006, Ian gemar berburu sri rejeki di atas kursi roda dengan ditemani suster dan sopir pribadi. ‘Semula saya hanya ikut orangtua yang senang mencari tanaman ke pameran. Lama-lama saya yang suka sehingga berburu sendiri,’ katanya. Kedua orangtua Ian menyenangi euphorbia, adenium, dan tabulampot.

Mantan mahasiswa Manajemen Universitas Tarumanegara itu juga mengusir sepi dengan berselancar di dunia maya. Dari sana ia tahu, ‘Dari sekian banyak ragam tanaman hias, aglaonema lokal paling banyak diperjualbelikan di dunia maya,’ tuturnya. Ia lantas memutuskan menekuni hobi merawat aglaonema lebih serius ketimbang tanaman hias lain seperti adenium dan anthurium. Selama 2 tahun Ian fokus merawat dan memperbanyak sri rejeki.

Mandiri

Keputusan Ian tak keliru. Iseng-iseng ia memposting gambar widuri, tiara, dan hot lady hasil perbanyakannya di situs lelang di dunia maya. Tak disangka peminatnya berlimpah. ‘Pada masa-masa awal posting saya sudah bisa melepas 20-30 pot per bulan,’ katanya. Mereka, para pembeli, berasal dari seputaran Jabodetabek hingga luar Pulau Jawa: Sumatera, Kalimantan, dan Lombok. Berikutnya pelanggan yang sudah mengenal cukup mengontak Ian atau mengunjungi situs pribadinya.

Dari waktu ke waktu volume penjualannya kian meningkat. ‘Saat ini bisa 30-50 pot per bulan,’ kata pria berdarah Padang itu. Menurut Ian peningkatan itu karena saat ini harga sri rejeki mulai terkoreksi sehingga terjangkau. Ia menyebut dolores, widuri, tiara, dan hot lady sebagai jenis yang paling banyak diburu. Waktu Trubus mengunjungi situs pribadi Ian pada awal April 2009 keempat jenis itu sudah banyak terjual. Dalam 6 bulan terakhir jenis paling anyar seperti sexy pink dan harlequin pun mulai ditawarkan, termasuk jenis thailand di antaranya legacy.

Di situs, Ian juga memikat pelanggan dengan menunjukkan gambar akar yang subur tanda pertumbuhan sudah stabil. Adrian menjamin tanaman tetap utuh dan tidak terluka meski dikemas dan dikirim via udara. ‘Saya melindungi tanaman dengan pipa PVC. Meski terbentur, tetap aman,’ katanya. Di atas kursi roda itulah ia menjalankan usaha dibantu suster dan pengemudi pribadi yang setia menemani. Ketiganya bahu membahu merawat 300 pot aglaonema-indukan dan anakan-di halaman seluas 8 m x 6 m.

Dari hobi yang mendatangkan uang itulah hidup Ian lebih berarti. ‘Dulu saya sempat menggantungkan hidup pada keluarga. Berkat aglaonema, saya bisa membuktikan, saya pun bisa mandiri,’ tuturnya. Kisah Ian dan sri rejeki mirip dengan Syahrial Usman. Pengusaha kelapa sawit di Pekanbaru, Riau, itu menderita rematik akut. Berkat ‘pergaulan’ dengan aglaonema, kondisi kesehatan Yank kian membaik. Sebuah nurseri pun dimiliki.

Terpesona batik

Di Jakarta Barat Rocky Suryanto juga kepincut aglaonema. Pengusaha pet shop itu tertarik memelihara indonesia rainbow plant sejak setahun silam. Mulanya ia hanya memiliki sri rejeki sejenis cochin, siam aurora, dan lady valentine. Kecintaannya pada aglaonema kian lekat saat melihat jenis lokal: tiara, widuri, hot lady, dan dolores. ‘Ketika itu saya kaget ada daun bercorak batik. Beda banget dengan jenis yang saya miliki,’ katanya.

Perjumpaan dengan silangan lokal di awal Januari 2008 itu membuat Rocky terbayang-bayang ingin memiliki. Lantai 3 rumahnya disulap menjadi ‘kandang’ aglaonema berukuran 4 m x 8 m. Sebagai atap dipakai plastik transparan dan jaring penaung 50%. Dalam waktu 3 bulan ‘kandang’ itu dipenuhi silangan lokal. Total belanjanya senilai Rp150-juta-Rp200-juta. Itu karena ia sengaja memilih tanaman yang menginjak dewasa berdaun 9-10 helai.

November 2008, berbekal koleksinya, pengusaha otomotif itu memberanikan diri mengikuti kontes sri rejeki. Tak disangka 2 pot aglaonemanya merengkuh takhta juara pertama (hot lady) dan runner up (sexy pink) di kelas remaja. Padahal kontes itu pertama kali diikutinya. Kedua koleksinya pun banyak dipajang di dunia maya. ‘Dari situ publik mengenal saya. Mereka lalu banyak yang memesan koleksi saya,’ ujar Rocky.

Pemesan berasal dari seputaran Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Dalam 5 bulan terakhir modal yang dibenamkan untuk belanja indukan pun kembali. Itu berasal dari penjualan 200 pot anakan harlequin, sexy pink, tiara, widuri, dan sinta. Di kalangan pemain aglaonema Rocky juga dikenal sebagai gudangnya jenis mutasi: juliet, widuri, tiara, dan hot lady mutasi. ‘Kini saya tinggal memetik laba. Hitung-hitung hobi yang membiayai dirinya sendiri,’ katanya.

Bagi Adrian dan Rocky si ratu daun tak hanya penghias kediaman. Namun, juga peniup ruh kehidupan bagi mereka. (Destika Cahyana/Peliput: Imam Wiguna)

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img