Thursday, December 8, 2022

Raup Untung dari si Mini

Rekomendasi

Dari 5 rumah tanam setinggi 3 m berisi 1.000 tanaman itulah M. Wasil Sayuti memanen sekitar 50 kg mentimun setiap hari. Ia menjualnya ke pemasok sayur-sayuran sebuah pasar swalayan. Dengan harga jual Rp9.000 per kg, setidaknya Rp450.000 memenuhi pundi-pundinya.

‘Permintaan mentimun stabil,’ katanya. Harga pun tidak terlalu fl uktuatif, karena sudah ditentukan oleh pengumpul. Biaya produksi tidak terlalu besar, berkisar Rp7.000-Rp7.500/kg. Artinya, dengan harga jual Rp9.000/kg, Wasil mengantongi keuntungan bersih Rp500.000-Rp700.000 per minggu.

Mentimun yang dibudidayakan Wasil bukan mentimun kebanyakan. Ia menanam mentimun mini khusus untuk memenuhi pasar swalayan. Sesuai namanya, buah mentimun ini hanya berukuran 12 cm dengan diameter sekitar 1 cm. Kualitas dan spesifikasi ukuran harus terjaga. Mentimun mini hanya cocok jika dibudidayakan secara hidroponik yang penanamannya lebih intensif,’ kata Wasil.

Mini

Wasil mulai menanam si mini sejak Januari 2007. Pekebun yang berpengalaman selama 10 tahun itu berniat terus mengembangkannya lantaran memberikan keuntungan lebih tinggi dibandingkan mentimun jenis lain. Selain harganya tinggi, juga genjah.

Anggota famili Cucurbitaceae itu mulai berbunga setelah 3 minggu tanam. Seminggu kemudian dipanen. Pertama kali panen menghasilkan 3-4 buah. Seiring dengan bertambahnya umur, produksi pun kian bertambah. Mentimun siap panen dicirikan dengan ukuran panjang mencapai 12 cm. ‘Permintaan konsumen memang panjangnya hanya 12 cm. Kalau umur panen ditambah pun panjangnya paling 15 cm,’ papar pria kelahiran Jember itu.

Yang juga mencecap manisnya berbisnis sayuran mini adalah Adeng Permana. Manajer kebun Saung Mirwan di Garut itu menanam buncis mini. Sejak 90-an ia mengusahakan jenis Pisum sativum itu. Buncis mini dipilih karena permintaan cukup tinggi. ‘Dari 1 konsumen saja setiap minggunya mencapai 3 kuintal,’ ucap Adeng. Makanya untuk memenuhi pasokan itu Adeng menjalin kemitraan dengan 20 petani di Garut. Sekilo buncis mini dibeli Adeng dari pekebun plasma Rp6.000.

Menurut Adeng permintaan buncis mini sebetulnya mencapai ratusan ton. Maklum buncis itu tidak hanya diminta pasar lokal, tapi juga diekspor ke negeri tetangga yaitu Singapura. ‘Kami baru sanggup memasok 6 kuintal/minggu. Itu pun terbatas untuk pasar lokal,’ katanya. Wajar jika lulusan Institut Pertanian Bogor itu kini tengah menyiapkan lahan baru untuk memenuhi permintaan Singapura.

Wortel

Tak hanya mentimun dan buncis mini yang diminta pasar, tapi juga wortel mini. Berbeda dengan buncis dan mentimun mini yang memang mini secara genetik, wortel menjadi mini karena perlakuan jarak tanam. ‘Jarak tanam yang sangat rapat memacu munculnya wortel mini,’ kata Husin Kusnadi, pekebun di Pangalengan, Bandung. Idealnya jarak tanam wortel 10- 12 cm. Jika jarak tanam dirapatkan menjadi 5 cm, maka umur wortel berukuran kecil.

Awalnya jika ada wortel mini pada hasil panen langsung dibuang. Namun, sejak bekerja sama dengan pemasok sayuran di Bandung, pada 1998, wortel mini ternyata memiliki nilai jual cukup tinggi. Permintaannya pun relatif stabil. Dalam sebulan Husin memasok 600 kg wortel mini ke pemasok di Lembang, Bandung. Wortel sebanyak itu tidak dari lahan Husin semata, tapi juga dipasok dari 10 petani lain.

Setiap petani rata-rata mengelola 1 hektar lahan. Dari hasil panen 25 ton per hektar, yang berukuran mini hanya sekitar 40-50 kg. Walaupun harga jual wortel mini lebih murah dibandingkan wortel standar, Rp1.250/kg, ‘Tapi itu lebih baik, daripada dibuang,’ kata Husin. Wortel standar dihargai sampai Rp6.000/kg.

Pemasaran sayuran mini, seperti wortel mini, mentimun mini dan buncis mini tidaklah sulit. Beberapa eksportir dan pemasok pasar-pasar swalayan masih bersedia menampung dalam jumlah besar. Sebut saja Saung Mirwan. Perusahaan yang didirikan Tatang Hadinata itu membutuhkan pasokan buncis mini mencapai beberapa ton per minggu untuk memenuhi permintaan pasar swalayan, di antaranya Hypermarket dan Ranch. Belum lagi untuk memenuhi pasar ekspor.

Pelengkap

Menurut Denny Hidajat dari bagian Penelitian dan Pengembangan PT Bimandiri, sejak 4 tahun lalu Permintaan sayuran mini sudah ada dan sampai saat ini pun tetap stabil. Ketertarikan konsumen pada sayuran mini, ‘Itu hanya variasi selera saja. Bukan perubahan pola konsumsi,’ katanya.

Denny yang memasok wortel mini, kol merah mini, dan kol putih mini ke beberapa pasar swalayan di Jakarta melihat sayuran-sayuran mini tak akan mengalami lonjakan permintaan berarti. ‘Secara volume tetap kalah besar dibanding sayuran normal,’ lanjut alumnus Universitas Padjadjaran Bandung itu. Sebab, sayuran mini posisinya hanya sebagai pelengkap.

Hal serupa diungkapkan Catur Winarko dari Puteri Segar, perusahaan yang memasok sayuran mini di Bandung. ‘Pengiriman sayuran mini hanya 5% dari total pasokan sayuran,’ ujar manajer marketing Puteri Segar itu. Berdasarkan tingginya harga, pekebun memang banyak yang tertarik menanam sayuran mini. Namun, ‘Jika ramai-ramai terjun mengebunkan sayuran mini, ada kemungkinan over produksi. Kecuali jika membidik pasar ekspor, peluang masih terbuka,’ ucap Catur.

Sarat kendala

Meski bisnis sayuran mini menguntungkan, bukan berarti tanpa kendala. Wasil misalnya. Untuk memilih varietas yang tepat, ia harus mencoba menanam 5 varietas berbeda. Setelah beberapa kali diuji tanam akhirnya ia memutuskan menggunakan varietas melon. ‘Sampai saat ini varietas itu yang produktivitasnya paling tinggi. Pasarnya juga kencang,’ kata alumnus Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember itu.

Ia juga pernah mengalami penurunan produksi akibat penyakit. Pada Februari 2007, sebagian besar tanamannya terserang busuk daun alias downy mildew. Penyakit yang disebabkan cendawan Pseudoperonospora cubensis itu menyebabkan daun berbercak-bercak kuning. Akibatnya fotosintesis terhambat, hasil pun berkurang, cuma 25%. Lalu, saat musim hujan penanganan harus superintensif. Pekebun wortel yang akrab disapa Aseng itu pernah mengalami kerugian hingga Rp80-juta karena wortel yang dipanen hanya 50%-nya.

Hal sama dialami Adeng Permana. Alumnus Institut Pertanian Bogor itu selalu mengalami kesulitan ketika musim penghujan datang. Kelembapan yang tinggi menyebabkan beragam penyakit menyerang. Dampaknya kuantitas buncis mini pun menurun drastis. Namun, jika kendala-kendala itu bisa diatasi, bisnis syuran mini menjanjikan keuntungan besar. (Lani Marliani)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img