Thursday, August 18, 2022

Reinkarnasi Brandon Teena di Pamulang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Beralasan Brandon melakukan hal ‘gila’ itu. Ia ingin menjadi pria yang selalu dikelilingi wanita-wanita cantik. Nun di Pamulang, Tangerang, meski tak se-ekstrim Brandon, Bernard Raharjo juga menyulap seluruh burayak lobster air tawar menjadi jantan. Upaya itu dilakukannya untuk menyingkat waktu produksi. Jantan memang memiliki sejumlah keunggulan. Seekor jantan yang dibesarkan selama 2,5 bulan dari ukuran 5 cm bisa mencapai panjang 12,5-15 cm; betina 9-12 cm.

Bejo-sapaan akrab Bernard-mencetak lobster jantan dengan menerapkan teknik maskulinisasi ikan mas dan nila. Teknik itu memanfaatkan hormon pengubah kelamin-metiltestosteron. Tidak dengan cara suntik, asupan itu diberikan lewat pakan yang telah dicampur hormon. ‘Tingkat keberhasilan mencapai 95%,’ katanya.

Tidak langsung

Ada beberapa tahap agar diperoleh hasil maksimal. Pertama pilih jantan dan betina berkualitas dari strain walkamin. Burayak asal sungai Flinders dan Gilbert itu tumbuh lebih cepat 1-2 bulan dibanding strain lokal. Seleksi lanjutan dilakukan dengan menyortir burayak yang pertumbuhannya bongsor. Seekor betina umumnya menghasilkan 600 burayak. Dari jumlah itu yang masuk kategori bongsor sekitar 60%.

Burayak-burayak itu lalu dipisahkan ke kolam pembesaran berukuran 4 m x 12 m. Selama berada di kolam, burayak diberi aneka pakan seperti rebon dan cincangan daging. Setelah mencapai ukuran 15 cm, walkamin pilihan itu siap dikawinkan dengan indukan lokal. Saat itulah metiltestosteron diberikan.

Dosis metiltestosteron yang dipakai 100 ppm setara 100 mg/kg. Ia dicampur dengan alkohol 5% agar mudah melekat pada pelet. Hormon dan alkohol itu diaduk rata, lalu dimasukkan dalam botol spray sebelum disemprotkan ke pelet. Setelah disemprot, pelet dan hormon itu diaduk secara merata. ‘Setelah alkohol menguap pakan itu dapat diberikan ke lobster yang sedang kawin,’ tutur alumnus Ekonomi Universitas Atmajaya di Jakarta itu.

Pemberian pakan berhormon terus berlanjut hingga betina menggendong telur dan burayak menetas. Sejak saat itu hanya burayak yang diberi pakan berhormon. Namun, dosis hormon dikurangi menjadi 50 ppm setara 50 mg/kg. Pakan itu diberikan setiap hari selama 2 pekan.

Setelah burayak mencapai panjang tubuh 5 cm pakan berhormon dihentikan. Itu karena umumnya lobster sudah berkelamin jantan. Dari 600 burayak dapat diperoleh 95% lobster jantan. Sifat jantan itu permanen. ‘Sisanya betina tapi bersosok jantan, capitnya tampak besar,’ ungkap Bejo.

Suhu tinggi

Kerja hormon maksimal jika digunakan pakan hewani. Pakan hewani dapat menambah nafsu makan lobster. Tak hanya itu saja, produksi kromoson Y-pembawa gen jantan-pun menjadi lebih banyak. Bila menggunakan pakan nabati seperti tauge dan kacang kedelai produksi kromoson X-pembawa gen betina-malah meningkat. Hasilnya, burayak yang ditetaskan cenderung betina.

Selain pakan, suhu juga berperan menunjang maskulinisasi. Persentase kehadiran jantan meningkat seiring naiknya suhu air saat betina menggendong telur sampai burayak menetas 2 minggu kemudian. Idealnya suhu air dinaikkan mencapai 30-31oC. Suhu panas meningkatkan proses metabolisme tubuh dan penyerapan pakan. Suhu tinggi itu juga berujung pada melonjaknya produksi kromoson Y. Manfaat lainnya, gonad cepat menerima stimulasi dari hormon.

Sebetulnya kenaikan suhu tanpa diimbangi hormon mampu meningkatkan persentase kemunculan jantan. Umumnya produksi sperma meningkat saat suhu air naik. Memang jumlah jantan yang dihasilkan tak sebanyak bila menggunakan hormon. ‘Dengan meningkatkan suhu, persentase jantan sekitar 70%,’ ujar Bejo.

Dosis tepat

Keberhasilan maskulinisasi dengan hormon lebih tinggi. Namun, ketepatan dosis harus benar-benar diperhatikan. Sedikit saja, salah berakibat lobster mati. Itu pula yang dialami Sugeng, peternak lobster di Ragunan, Jakarta Selatan. Gara-gara berlebihan memberikan hormon, seminggu kemudian satu per satu burayak mati.

Menurut FX Santoso, peternak di Surabaya, salah dosis metiltestosteron mendorong lobster menjadi banci. ‘Biasanya itu karena dosisnya kurang,’ ujar pemilik Santoso Farm itu. Tak hanya itu saja, lobster juga rentan cacat. Contohnya capit kiri dan kanan tidak sama ukurannya.

Ir Cuncun Setiawan di Bintaro, Tangerang, mengungkapkan lobster konsumsi berkelamin jantan disukai karena saat disajikan tampak gagah. Capit dan kepala besar dan ekor kecil. ‘Itu yang menjadi alasan peternak memakai hormon,’ ujar pemilik Bintaro Fish Farm itu. Namun bila salah, lobster bisa cacat dan rentan terserang penyakit.

Metiltestosteron sah-sah saja digunakan. Yang penting dosisnya tepat: 100 mg/kg saat kawin dan 50 mg/kg saat burayak. Jika semua itu berjalan sesuai, niscaya 95% burayak menjadi jantan. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img