Sunday, May 19, 2024

Remajakan Kakao dari Akar

Rekomendasi
- Advertisement -
Kakao mengalami penurunan produksi ketika berumur 20 tahun.
Kakao mengalami penurunan produksi ketika berumur 20 tahun.

Modifikasi akar lateral meremajakan pohon kakao. Produksi kembali melambung.

Sarono masygul karena produktivitas kakao di lahannya terus melorot. Ia hanya memetik 80 kg biji kering dari 100 pohon. Padahal, biasanya pekebun di Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung itu menuai hingga 150—200 kg. Penyebab produksi anjlok umur tanaman yang tua. Menurut peneliti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Dr Agung Wahyu Susilo SP MP, usia produktif kakao berkisar antara 20—25 tahun, setelah itu produktivitas menurun.

Jalan pintas mengembalikan produktivitas Theobroma cacao dengan meremajakan. Namun, banyak pekebun menghindari teknik itu karena merasa sayang jika menebang tanaman. Pilihan lain dengan sambung samping. Teknik itu yang paling umum untuk mengembalikan produktivitas tanaman kakao. Selain penanaman ulang dan sambung samping, kini ada teknik baru mengembalikan produktivitas kakao, yakni modifikasi akar lateral (MAL)

Pohon tua
Peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulawesi Selatan, Muhammad Idrus Hafied, mencetuskan teknik modifikasi akar lateral di beberapa perkebunan rakyat itu. Idrus terdorong menerapkan teknik itu karena sangat banyak pohon kakao di Provinsi Sulawesi Selatan yang berumur hampir 30 tahun. Itu menyebabkan penurunan produktivitas kakao, 1,3 ton kakao menjadi 450 kg—600 kg per ha.

Penurunan produktivitas berpengaruh pada anjloknya pendapatan daerah. Bila harga kakao Rp32.000 per kilogram, dengan luasan 300.000 ha Sulawesi Selatan kehilangan Rp3-triliun per tahun. Pada dasarnya modifikasi akar lateral adalah memotong akar lateral dan pemangkasan. Akar lateral adalah cabang dari akar utama yang tumbuh melebar ke samping.

Waktu yang tepat untuk menerapkan teknik itu adalah menjelang akhir musim kemarau. Pekebun memilih tanaman tua yang produktivitasnya turun untuk modifikasi akar lateral. Jarak akar yang dipotong 50—100 cm dari batang pohon dan kedalaman 20 cm. Bila berhasrat menerapkan teknik itu, pekebun menggali tanah di sekitar pohon untuk menemukan akar lateral. Kemudian pilih akar yang berukuran diameter 1 cm, potong dengan pisau tajam yang bersih.

Jumlah akar yang dipotong maksimal 4 buah per tanaman. Setelah pemotongan akar, berikan pupuk cair dengan cara infus ke akar yang dipotong. Caranya larutkan 10 ml pupuk cair ke dalam 1 liter air. Pilih pupuk cair dengan kandungan lengkap, dan kandungan nitrogen tinggi. Fungsi nitrogen untuk memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman. Kemudian masukkan 5 ml larutan pupuk dan infuskan di akar lateral yang baru saja dipotong.

Artinya bekas potongan akar masuk ke dalam plastik berisi pupuk dan segera ikat kuat. Penggunaan pupuk cair agar mempermudah penyerapan pupuk oleh tanaman. Pupuk juga berfungsi sebagai biostimulan bagi tanaman. Setelah itu timbun akar dengan pupuk organik atau kompos. Pemberian ulang pupuk berupa pupuk kandang dan kompos dari daun atau kulit kakao pada 3—4 bulan kemudian ketika memasuki musim hujan. Dosis pemupukan 2 kg per tanaman.

Cabang bekas pangkasan dimanfaatkan untuk sambung samping yang juga meningkatkan produktivitas tanaman.
Cabang bekas pangkasan dimanfaatkan untuk sambung samping yang juga meningkatkan produktivitas tanaman.

Pangkas tajuk
Sepekan setelah pemotongan akar, pangkas cabang hingga 30%. Pemangkasan merangsang akar agar lebih cepat tumbuh dan munculnya cabang-cabang produktif yang baru. Hindari perlakuan MAL pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau, karena dapat menyebabkan cabang yang dipotong menjadi kering. Ini memicu pertumbuhan tertunda pada musim hujan berikutnya.

Enam bulan setelah perlakuan, tanaman terlihat lebih segar, muncul cabang-cabang baru dari bekas pemangkasan. Tanaman yang pada 2012 hanya memproduksi 450—600 kg per ha, pada 2015 menghasilkan 800 kg per ha. Teknik itu relatif mudah, murah, dan ramah lingkungan karena tanpa bahan kimia. Selain itu kondisi tanah yang sebelumnya rusak karena penggunaan pupuk kimia lambat-laun terperbaiki karena penggunaan pupuk organik
Menurut Dr Agung bila perbaikan hanya pada akar maka hasilnya kurang maksimal. Oleh karena itu diperlukan juga pembenahan di bagian atas, dalam hal ini pemangkasan tajuk. Selain perbaikan pada tumbuhan, juga harus ada perbaikan kondisi lingkungan tanah. Karena selama penanaman dengan produksi yang berkelanjutan akan menyebabkan tanah kekurangan zat tertentu yang selalu dibutuhkan pohon.

Menurut Muh Idrus MAL dapat dikombinasikan dengan sambung samping. Cabang baru yang tumbuh setelah pemangkasan, dapat digunakan untuk teknik sambung samping. Sejauh ini, teknik ini sudah di aplikasikan di beberapa kabupaten di Sulawesi selatan, antara lain Kabupaten Luwu, Soppeng, Luwu Utara dan beberapa daerah lain. (Muhammad Awaluddin)

Modifikasi Akar Literal

COVER 1234.pdf

COVER 1234.pdf

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Pilihan Mengolah Biji Ketumbar Praktis  

Trubus.id–Ketumbar berpotensi sebagai penurun gula darah. Hal itu sesuai peneliti di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img