Friday, December 9, 2022

Riset Membuktikan Bioetanol Singkong Lebih Unggul

Rekomendasi

Artinya, total kapasitas 80 liter tangki mobilnya, diisi dengan 68 liter bensin yang dioplos 12 liter etanol asal singkong. Menurut alumnus Hiroshima University, Jepang itu, dengan etanol daya pelumasan meningkat sehingga tarikan mesin lebih ringan.

 

Itu cuma salah satu kelebihan oplosan gasohol-campuran etanol dan bensin, red,’ kata Prawoto, kepala Balai Termodinamika, Motor, dan Propulsi (TMP), BPPT, Serpong. Keefektifan bahan bakar asal fermentasi singkong itu telah dibuktikan di sebuah ruangan berukuran 15 m x 10 m di Laboratorium TMP BPPT.

Bukan hanya laju mesin berbahan bakar nabati oplosan yang diuji, tapi juga perbandingannya dengan bahan bakar fosil. Yaitu minyak bensin murni, minyak bensin bercampur minyak etanol 3, 10, 20%, (selanjutnya disebut E3, E10, dan E20). Penelitiannya menggunakan kendaraan yang berjalan di tempat (idle) dan penerapan langsung di jalan.

Saat idle, pengujiannya meliputi dua hal; pengujian unjuk kerja seperti gaya traksi, daya, kecepatan, dan pemakaian bahan bakar serta pengujian emisi buang seperti karbon monoksida, hidrokarbon, dan nitrogen oksida. Sebelum dilakukan penghitungan, kondisi lingkungan harus berada pada temperatur 25oC dan tekanan 100 kPa. Setelah pedal gas terinjak penuh, kecepatan semakin meningkat hingga mencapai 30 km/jam, kondisi distabilkan selama 5 detik untuk pengambilan data. Kecepatannya kemudian ditingkatkan hingga 40, 50, 70, dan 80 km/jam.

Menurut Dr Prawoto, kepala pengujian bioetanol dan bensin, penambahan etanol ke bensin telah diketahui efektif sebagai bahan pembentuk oxygenated atau bahan bakar dengan ikatan karbon-hidrogen-oksigen. Biasanya timbal, aromatik, olefin/diolefin serta butan menjadi bahan kimia pencampur yang digunakan. Sayang, dampaknya kian terlihat; timbal terbukti menurunkan intelegensia anak, benzen penyebab kanker. Oleh karena itu sangat penting mengganti bahan-bahan kimia itu dengan bahan yang ramah lingkungan. Hasil uji lab Balai TMP BPPT, bioetanol terbukti memiliki karakteristik yang lebih baik. Inilah beberapa parameter pengujiannya.

Karbonmonoksida (CO)

Emisi CO mobil berbahan bakar bioetanol E3 1,35% ppm; E10, 1,38%; dan E20, 0,76%. Itu berarti emisi CO akan turun seiring dengan penambahan bioetanol. Penambahan etanol sebanyak 10% mampu mengurangi emisi buangan CO sebanyak 70%. Sebab pada bensin nilai buangan emisi CO mencapai 4,51%.

Minimnya buangan senyawa yang dapat memicu sel kanker itu dapat meningkatkan mutu kesegaran udara. Karbondioksida yang dihirup berlebih dapat mengikat hemoglobin dalam darah sehingga mengganggu konsentrasi.

Nitrogen oksida (NOx)

Sayang, penurunan jumlah emisi CO tidak dibarengi oleh penurunan nilai nitrogen oksida (NOx). Buangan nitrogen oksida pemicu pemanasan global pada bioetanol lebih tinggi mencapai 1.272 ppm pada E3, 1.078 ppm pada E10, dan 1.870 ppm pada E20. Sedangkan bensin hanya mengandung NOx 953 ppm.

Tingginya emisi NOx dapat diatasi lantaran, ‘Mesin kendaraan sekarang sudah dilengkapi catalytic converter,’ kata Soni Sulistia Wirawan, periset BPPT. Catalytic converter merupakan keramik berbentuk telur berbalut besi atau platina. Fungsinya menurunkan jumlah emisi nitrogen oksida. Molekul NOx yang menyentuh katalisator diikat oleh reduksi katalisator lantas diubah menjadi nitrogen dioksida. Sedangkan O2 dilepas ke udara.

Hidrokarbon

Dengan E20 , emisi buangan hidrokarbon 1% lebih rendah ketimbang bensin murni. Rendahnya buangan hidrokarbon berdampak ganda. Bagi kesehatan manusia berdampak positif. Hidrokarbon memicu bahaya gangguan kecerdasan, kesehatan reproduksi, dan gejala sakit kepala pada manusia. Sedangkan bagi mesin tahan lama.

Selain CO, NOx, dan hidrokarbon yang lebih unggul dari bensin, nilai buangan toluene juga lebih rendah. Pada E3, nilainya 81,00 deg C dan semakin menurun pada E20; yakni 80,00 deg C. Bandingkan dengan buangan toluene bensin yang mencapai 84,00 deg C. Itu berarti semakin tinggi kandungan etanol pada bensin, asap buangan tak lagi berwarna putih tetapi bening.

Konsumsi bahan bakar

Konsumsi bahan bakar mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya kandungan etanol pada seluruh tingkatan pengujian. Pada kecepatan 30 km/jam, konsumsi bahan bakar E20, 20% lebih rendah dibandingkan bensin. Kemudian jumlah itu meningkat menjadi 50% saat kecepatannya 80 km/jam. Hal ini menunjukkan, penambahan etanol menyebabkan pembakaran makin efisien karena etanol lebih cepat terbakar dibandingkan bensin murni. Oleh sebab itu, semakin banyak etanol yang digunakan proses pembakaran semakin singkat.

Pembakaran sempurna itu juga disebabkan bilangan oktan etanol yang lebih tinggi daripada bensin. Nilai oktan bensin hanya 87-88, sedangkan etanol 117. Makin tinggi bilangan oktan, makin tahan bahan bakar untuk tidak terbakar sendiri sehingga menghasilkan kestabilan proses pembakaran untuk memperoleh daya yang lebih stabil.

Otomatis

Dari keseluruhan hasil uji coba, etanol menunjukkan kinerja lebih baik pada mesin kendaraan, meski perlu dilakukan penyetelan pada karburator. Efek negatif yang mungkin timbul adalah karat pada tangki karena pada etanol itu mengandung air 5%. ‘Pada proyek pembuatan etanol saat ini dihasilkan etanol berkadar lebih tinggi mencapai 99%. Hal ini akan mengurangi kemungkinan terjadinya korosi,’ ujar Agus Eko.

Kini beberapa merk mobil ternama dunia mulai memproduksi Flexible-Fuel Vehicle (FFV). Dengan teknologi tersebut, mesin mobil secara otomatis dapat mengkonsumsi bioetanol maupun bahan bakar konvensional karena dilengkapi dengan sensor dan panel. Di Indonesia baru Ford Focus, produksi teranyar produsen mobil asal Amerika Serikat yang menyerap etanol 20% atau E20. Dengan begitu, tak hanya Agus Eko yang bisa mengendarai mobil berbahan bakar ramah lingkungan. (Vina Fitriani).

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img