Sunday, August 14, 2022

ROBOT BERTANI

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pertanian berbasis robot siap beroperasi penuh di Jepang mulai 2017 mendatang. Beritanya sudah muncul pada Februari 2016. Tujuannya untuk meningkatkan panen sebanyak-banyaknya dan menurunkan harga jual semurah-murahnya. Contohnya di lahan 4.400 meter persegi, bisa menghasilkan 7,7 juta selada. Petani menerapkan teknologi hidroponik dengan 98 persen air didaur ulang.

Eka Budianta*
Eka Budianta*

Sekarang robot belum sepenuhnya menjalankan sistem pertanian itu, karena manusia masih mengawasi proses penyebaran benih. Namun, pada masa mendatang semua dilakukan oleh komputer. Jadi, separuh dari tenaga manusia harus siap pamit. Di Australia hal yang sama juga ramai dibicarakan. Pada Mei 2016 diperkenalkan robot pemanen tomat. Robot memilih tomat matang berdasarkan sensor warna yang dikirim oleh kamera.

Manusia 9-miliar
Sebetulnya robot sudah lama berperan dalam pertanian di negeri kanguru itu. Pertama, robot sangat penting dalam pengolahan lahan yang luas. Di negara bagian Queensland, ada robot pendangir, yang pandai mencabuti gulma sebelum penanaman. Bentuknya seperti kepik raksasa, dengan totol-totol merah. Sayapnya terbuat dari panel energi matahari. Jadi robot itu hidup karena tenaga surya.

Pada 2016 robot untuk pertanian mendapat perhatian besar di seluruh dunia. Di Indiana, Amerika Serikat, ada insentif Rp800-juta untuk mengoperasikan robot penyebar benih. Berbagai kompetisi merakit robot pertanian berlanjut terus untuk 2017 dan 2018. Mengapa perlu gencar? Tantangannya adalah memberi makan 9-miliar manusia pada 2050. Dunia memerlukan banyak sekali makanan.

Padahal tenaga sektor pertanian semakin berkurang. Di semua negara minat untuk menjadi petani semakin rendah. Robotisasi diharapkan dapat memacu perhatian generasi muda. Indonesia selalu memerlukan mesin-mesin pencetak sawah. Direktur Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Suprapti, pada 2015 berkata, “Pemerintah memberikan bantuan alat dan mesin pertanian secara besar di seluruh Indonesia.”

Media masa mencatat, “Bantuan alat mesin pertanian yang diberikan pemerintah meliputi 16.100 traktor roda dua, 1.259 traktor roda empat, 18.528 pompa air, 2.790 alat pemanen, 170 pengering padi vertikal, 220 pengering jagung vertikal, 2.000 pemipil jagung,  1.500 power thresher, 666 rice miling unit, 5.304 mesin penanam padi.” Apakah robot pengolah tanah sudah masuk? Belum.

Lebih efisien
Semoga generasi muda Indonesia terpacu untuk menciptakan robot pengolah tanah yang sangat diperlukan di sini. Selama bertahun-tahun, mekanisasi pertanian kita baru puas dengan aneka traktor. Ada traktor mini dengan kapasitas di bawah 17 tenaga kuda, sampai traktor raksasa di atas 117 tenaga kuda. Padahal yang diperlukan lebih dari itu. Sejarah teknologi pengolahan tanah oleh manusia dimulai dengan penemuan cangkul.

Selanjutnya penggunaan bajak sejak zaman Mesir kuno. Setelah revolusi industri, traktor membantu manusia. Mulai 1850-an di Inggris bermacam traktor menderu-deru di ladang sehingga proses produksi lebih efisien. Jumlah petani pun menyusut terus. Tenaga manusia digantikan oleh mesin yang kerjanya lebih efisien. Mesin untuk pertanian dan perkebunan semakin diperlukan, terutama yang dapat beroperasi tanpa awak.

Itulah tantangan dunia agroindustri masa kini. Pertanyaannya apakah Indonesia harus dikecualikan? Apakah dengan banyaknya tenaga kerja murah, mesin canggih dan robot tidak diperlukan di sini? Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hal itu sudah diperdebatkan. Pada 2010, pakar robotika pertanian Universitas Gadjah Mada Dr Ir Lilik Sutiarso, mengingatkan pentingnya robotisasi.

“Banyak aktivitas yang monoton dan berbahaya, selain makin berkurangnya tenaga kerja, harus diantisipasi dengan penciptaan dan penggunaan robot.” Demikian hasil seminar nasional yang digelar untuk membahasnya. “Saya belum melihat robot pertanian di Indonesia. Mungkin belum perlu.” Begitu opini seorang master planologi, dan pengajar widya iswara di Kementerian Pekerjaan Umum.

Otomatisasi
Mengapa robot pertanian belum perlu? Alasan pertama, biaya robotisasi terlalu tinggi dan tidak ekonomis. Kedua, masih banyak tenaga murah meskipun belum tentu berminat pada dunia pertanian. Meskipun demikian banyak bidang yang diakuinya memerlukan tenaga robot.Terutama yang terkait dengan ketelitian dan keteraturan seperti hidroponik.“Penyaluran nutrisi untuk tanaman, perawatan reguler 24 jam lebih bagus dijalankan dengan robot,” katanya.

Selama ini teknologi pertanian dan peternakan di Indonesia baru dalam tingkat mekanisasi dan otomatisasi. Mekanisasi sudah dimulai dengan traktor tangan, pemompa air untuk irigasi, dan mesin-mesin pengangkut panen. Almarhum Prof. Ing. Iskandar Alisjahbana, misalnya, menciptakan “kerbau besi” yang dapat membawa panenan kelapa sawit turun dan naik bukit.

Selain itu masih sering muncul kearifan organik yang perlu diperhatikan. Banyak petani lebih suka menggunakan bantuan sapi, kerbau atau kuda, ketimbang mesin. Terutama untuk lahan-lahan yang dapat dikelola secara manual. Pemerintah dan multinasional yang mendapat porsi besar. Di sana penggunaan mesin, robot, dan teknologi canggih perlu diperhitungkan karena peran yang besar.

Teknologi robotik banyak digunakan oleh nurseri Belanda.
Teknologi robotik banyak digunakan oleh nurseri Belanda.

Pada masa akhir Orde Baru sarana produksi pertanian (saprotan) mencakup 17 persen dari kontribusi sektor pertanian pada penghasilan produk domestik bruto. Saprotan bukan hanya meliputi mesin dan peralatan pertanian, peternakan, tetapi juga penyediaan pupuk. Dalam kenyataannya negara berkewajiban membangun pabrik-pabrik pupuk dan pakan ternak yang canggih dan supermodern.

Wajah baru
Para petani di Thailand mulai menggunakan drone – kamera yang bisa terbang untuk memantau perkebunannya. Sementara itu di Jawa Tengah, bengkel-bengkel alsintan mulai bermunculan. Agus Mahroji dari Balai Alat Mesin dan Pengujian Mutu Hasil Pertanian Jawa Tengah, mengatakan para petani beralih ke mekanisasi. Ada 2.000 Unit Pelayanan Jasa Alasintan (UPJA) tersebar di provinsi itu.

Australia merintis teknologi robot untuk pertanian sejak 2010. Dampaknya banyak generasi muda yang semula tidak tertarik pada pertanian, menjadi penggiat dan penemu dalam industri robotika. Di Indonesia pun hal serupa juga terjadi. Mekanisasi sawah dan kebun membuat seorang pemuda di Aceh menciptakan bajak bermotor untuk menggarap sawahnya yang luas seorang diri.

Semakin sering kita melihat penggunaan teknologi untuk ladang, kebun, dan peternakan. Di toko-toko pertanian kita bisa membeli peralatan impor maupun buatan sendiri, antara lain semprot mini sampai penangkal petir untuk pohon durian.

Sekarang robot-robot mulai bersiap untuk mengubah wajah baru pertanian di seluruh dunia. Revolusi agrikultur yang dipicu robot sudah di ambang pintu. Andrew Bate, petani Australia mengatakan, mekanisasi pertanian yang gencar dilakukan sejak 1980-an sudah jalan di tempat. Penggunaan herbisida bahkan membuat gulma menjadi resistan. Artinya, modernisasi yang dahulu membantu, sekarang mandek bahkan menimbulkan masalah baru.

Ternyata hal itu dapat diatasi dengan robot yang dapat menggunakan mesin lebih kecil, bekerja lebih teliti, dan lebih efisien. Universitas Teknologi Queensland memperkenalkan robot penumpas gulma dengan presisi yang tanpa merusak dan membuat padat lahan pertanian. Itulah robot penumpas gulma mirip serangga ladybird yang mengawali kisah ini.

Generasi muda Indonesia juga mulai melirik teknologi robotika untuk pertanian. Misalnya dalam ajang kompetisi Indo Robo Master Cup yang dimulai pada 2013. Bukan tidak mungkin akan ada robot untuk memetik daun teh. Itu bisa menyelamatkan ribuan perempuan Indonesia. Diperlukan pula robot untuk memetik kelapa, menanam terumbu karang, dan menyemai rumput laut. Semoga robot bisa membawa kemakmuran dan menolong manusia mencukupi pangan, sandang, dan energi untuk kehidupan yang lebih berbudi-pekerti. ***


*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktifis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img