Friday, December 2, 2022

Rohmat Susetyo Dari PNS jadi Raja Sereh

Rekomendasi

 

Julukan ‘raja’ serehwangi Cymbopogon nardus itu memang pantas disematkan pada Rohmat. Dalam sebulan Tio-pangilan Rohmat-menghasilkan 600-800 kg minyak serehwangi. Itu setara dengan produksi 7,2-9,6 ton per tahun. Dengan rata-rata ekspor minyak serehwangi Indonesia 100-200 ton per tahun, seorang diri Tio menyumbangkan 5-10% pasokan Indonesia. Bahan baku diperoleh dari kebun serehwangi milik sendiri seluas 50 ha.

Hasil produksi minyak serehwangi Tio pun stabil. Itu karena kebun digarap secara industri. Lahan seluas 50 ha dibagi menjadi 25 blok masingmasing 2 ha. ‘Dengan begitu saya bisa panen dan menyuling setiap hari,’ kata ayah 3 anak itu. Dengan dibantu 38 tenaga kerja, setiap hari dihasilkan 20 kg minyak serehwangi dari 2 ton bahan baku. Setiap hari ketel penyulingan berkapasitas 500 kg berproduksi 4 kali.

Saat wartawan Trubus Faiz Yajri, berkunjung ke kediaman Tio di Kroya, Cilacap, penghujung Mei 2008, wajah Tio terlihat sumringah. Ia tengah membangun rumah megah seluas 400 m2 di lahan seluas 0,4 ha. ‘Ini hasil dari minyak serehwangi. Harganya terus naik sehingga saya semakin untung,’ katanya. Ia menyebut pada 2004 harga sekilo serehwangi Rp48.000. Pada 2006, Rp65.000; 2007, Rp75.000; dan Juni 2008, Rp85.000.

Banyak diserap

Sukses Tio menyuling dan mengebunkan serehwangi berkat kejeliannya membaca pasar. Ketika itu pada 1999 Tio menghidupkan kembali penyulingan nilam milik ayahnya yang terhenti pada 1979. ‘Dulu 20 tahun lalu ayah saya seorang penyuling, tapi berhenti karena usianya semakin tua dan tak ada anaknya yang meneruskan,’ katanya. Pada 1999 itu Tio menyuling nilam, serehwangi, dan daun cengkih. Dari 3 komoditas itu harga serehwangi paling murah, tapi paling banyak diserap dengan harga stabil.

Berbeda dengan nilam yang harganya naik-turun, kadang melonjak Rp1-juta per kg, tapi kerap juga terjun bebas Rp200.000 per kg. Akibatnya pekebun ramai-ramai menanam saat harga tinggi, lalu malas menanam saat harga melorot. ‘Dari hitung-hitungan usaha, banyak spekulasinya. Budidaya pun lebih sulit,’ katanya. Pada serehwangi hal seperti itu tak terjadi, meski harganya rendah-ketika itu Rp24.000 per kg-banyak pengepul bersedia membayar di muka. Penanaman pun mudah karena serehwangi bandel dan berumur panjang, dapat mencapai 4-5 tahun.

Menurut Suwandi, manajer pemasaran internasional PT Djasula Wangi, eksportir minyak asiri, harga minyak serehwangi di Indonesia memang cenderung naik dari waktu ke waktu. ‘Pasokan kian menurun akibat jumlah pekebun dan penyuling serehwangi semakin sedikit,’ katanya. Ia menggambarkan 10 tahun silam Indonesia mengekspor 600 ton per tahun. Namun, kini maksimal hanya 200 ton per tahun. Penelusuran Trubus, pada 1980 ekspor serehwangi bahkan mencapai 1.300 ton. Permintaan dunia terhadap minyak serehwangi Indonesia itu kini diambilalih China.

Peluang

Bagi Tio penurunan jumlah penyuling dan pekebun Indonesia berarti peluang, karena lambat laun harga bakal merangkak naik. ‘Dengan tanah dan mesin suling sendiri, harga bahan baku bisa ditekan. Itu yang tak dimiliki pemain lain,’ katanya. Lantaran itulah pada 1999 tanah warisan seluas 80 ha mulai dibuka untuk serehwangi. Selama setahun ia membuka lahan serehwangi seluas 5 ha, lalu meluas hingga 50 ha pada 2003. Sisa lahan 30 ha dimanfaatkan untuk kayuputih dan sengon.

Sejatinya, produksi Tio sebesar 600-800 kg per bulan belum mencukupi permintaan pengepul. ‘Berapa pun tersedia minyak, pasti dibeli pengepul,’ katanya. Lantaran itu kini Tio mencoba mengembangkan kemitraan dengan pekebun di Sampang, Banyumas dan Sidareja, Cilacap. Ia pun berencana menambah kapasitas pabrik menjadi 2 kali lipat. Agar pekebun terangsang menanam, ia membagikan bibit sereh wangi secara gratis. Pekebun pun diajari memanfaatkan kotoran sapi yang difermentasi sebagai pupuk.

Menurut Tio, serehwangi bandel karena cukup ditanam sekali dan dapat dipanen minimal 16 kali. Sejak ditanam Cymbopogon nardus itu mulai dipanen saat berumur 6-8 bulan. Setelah itu tanaman dipanen setiap 2,5-3 bulan selama 4 tahun. ‘Tahun pertama 3 kali panen. Tiga tahun berikutnya 5 kali panen per tahun,’ katanya. Dalam 1 tahun setiap rumpun menghasilkan 0,75-1,5 kg serehwangi segar.

Sukses keturunan demang dari Kerajaan Majapahit-yang mewarisi puluhan hektar lahan di Purbalingga itu-menghasilkan minyak asiri bukan tanpa kendala. Sebelum memilih serehwangi, Tio merugi Rp50-juta dari luasan 300 ha yang ditanam untuk nilam. ‘Nilam banyak diserang ulat, wereng, dan mati karena kekeringan,’ katanya. Ia pun kerap dituduh pekebun mempermainkan harga karena membeli bahan baku dengan harga berbeda-beda.

Toh, kendala di nilam itu tak membuatnya surut di serehwangi. ‘Orang lain bisa sukses di nilam, saya cukup di serehwangi saja,’ katanya. Kini dengan perusahaan berbendera PT Cipta Asiri Raya, mantan pegawai negeri sipil itu merajai serehwangi di Pulau Jawa. Ia bagai raja yang muncul dikala raja-raja serehwangi lain tumbang dikalahkan citronella oil asal China. (Destika Cahyana).

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img