Thursday, July 25, 2024

Roti-roti Termahal dari Afrika

Rekomendasi
- Advertisement -

Puluhan telepon dan email tak putus ia layangkan pada Loran Whitelock—kolega di negeri Paman Sam. Penantian panjang itu akhirnya berujung sudah. Encephalartos heenanii idaman kini ada di tangan.

Pantas bila Tommy—sapaan akrab Th omas Zainal—ngotot mendapatkan anggota famili Cycadaceae itu. E. heenanii terbilang sangat langka. Dalam IUCN Red List of Th reatened Plants—“primbon” yang memuat pengategorian status konservasi berbagai jenis tanaman—ence yang ditemukan oleh botanis R Aelen Dryer pada 1969 itu masuk kategori E. Itu berarti di alam tanaman asli Afrika Selatan itu nyaris punah. Apalagi ia sulit dibudidayakan.

Pantas jika kerabat zamia itu dibandrol dengan harga ratusan juta rupiah. Toh, itu tak mengurungkan niat Tommy untuk memiliki ence yang habitatnya di tebingtebing terjal itu. Ayah 4 anak itu beruntung mendapatkan 3 pot E. heenanii berumur 60 tahun sejak akhir 2003. Kolektor lain di dunia paling hanya memiliki satu pot.

Sekilas E. heenanii sangat mirip dengan E. paucidentatus. Yang disebut terakhir bersosok bongsor. Tinggi batang bisa mencapai 6 m, dengan diameter 70 cm. E. heenanii bersosok lebih pendek.

Yang dimiliki Tommy hanya setinggi 20 cm, diameter bonggol 16,25 cm. Daun berwarna hijau muda terang, lurus dari pangkal sampai ujung, dan kaku. Bentuknya lancet sepanjang 0,8—1 meter, meski ada juga yang berdaun pendek. Bulu halus berwarna cokelat emas menutupi seluruh batang. Secara keseluruhan penampilan kerabat sikas itu terlihat anggun. E. heenanii menghasilkan buah berwarna cokelat kehijauan.

Si penuh bulu

Meski 3 pot sudah ada dalam genggaman, pencarian Tommy tak berhenti. Ia rela merogoh kocek lagi bila ada yang menawarkan seedling E. heenanii. Pun jenisjenis encephalartos—namanya dalam bahasa Latin berarti roti di atas kepala, karena ada bagian di batang yang bisa dimakan—lain. “Sepertinya tanaman ini punya sihir. Saya selalu ketagihan untuk mencari jenis baru,” kata penggemar biliar itu.

Selain E. heenanii, Tommy pun memburu E. hirsutus. Ence yang ditemukan ahli hortikultura Afrika Selatan, PJH Hunter itu salah satu dari 3 koleksi termahal. E. hirsutus tampil istimewa dengan warna daun yang bergradasi. Waktu muda berwarna hijau, semakin tua berubah menjadi kebiruan.

Sekujur batang dan permukaan daun dipenuhi bulu. Pantas bila nama hirsutus— kata Latin yang berarti berambut—disematkan. Tommy mendapatkan E. hirsutus pada akhir 2003 dari seorang kolektor di Jakarta. Negosiasi yang dilakukan pun tak kalah seru. Butuh waktu hampir 3 bulan untuk mendapatkan ence yang kini berdiameter bonggol 15 cm itu.

Koleksi lain yang tak kalah istimewa E. trispinosus ‘kudu’. Tanaman unik itu adalah mutasi dari E. trispinosus—si ence berdaun kebiruan. Bentuk daun ‘kudu’ melintir seperti mata bor. Ujung daunnya pun melengkung. E. trispinosus lazimnya berdaun lurus. Ukuran bonggol besar, 25 cm. Tinggi maksimal bisa mencapai 1 m. Semula ia dimiliki seorang kolektor di Amerika Serikat. Barulah pada pertengahan 2004, ence berumur 50 tahun itu Tommy miliki. (Rosy Nur Apriyanti)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kelapa Genjah Merah Bali, Eksotis dan Produktif

Trubus.id—Kelapa genjah merah bali merupakan kelapa baru yang eksotis dan produktif. Secara umum berbunga pada umur 2—2,5 tahun dan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img