Friday, December 2, 2022

Rumah Hijau Mufidah Jusuf

Rekomendasi

Suasana asri sudah tampak saat Trubus masuk gerbang kediaman wakil presiden Muhammad Jusuf Kalla itu. Begitu memasuki pekarangan, di sisi kanan tampak tabulampot nangka mini setinggi 1,8 m yang digelayuti satu buah seukuran bola futsal. Menurut Buya, tukang kebun, sebelumnya ada 3 buah yang menggelantung.

Satu sudah jatuh lantaran matang dan satunya lagi dipetik cucu Mufidah. Padahal, istri wakil presiden itu melarang buah diambil sebelum jatuh. Maklum, tabulampot indah saat berbuah. ‘Kalau mau makan buah bisa beli di pasar swalayan,’ kata Mufidah.

Buah nangka muncul di dekat pangkal batang. Sang cucu yang baru berusia 4 tahun pun mudah menggapainya. Lantaran penasaran, buah diputar-putar sehingga terlepas dari tangkai. Meski sedih Mufidah tak bisa berbuat banyak karena cucu kesayangan yang memetik. ‘Kalau orang lain, pasti sudah saya marahi,’ ujar wanita kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, itu.

Pergola anggur

Di depan ruang tamu ada pelataran yang didominasi tabulampot jambu air dan mangga. Untuk memasuki pelataran itu harus melewati pergola anggur. Ibu 5 anak itu punya pengalaman yang mengesankan dengan pergola anggur. Waktu itu, Idul Fitri 1425 Hijriah atau 2004 Masehi, Mufidah dan suami, Jusuf Kalla, menerima kedatangan duta besar dari berbagai negara. Agar halaman rumah terlihat cantik, ia menyuruh pekerjanya untuk menggantung anggur berwarna merah yang dibelinya di pasar swalayan di pergola.

Hasilnya, semua tamu yang berkunjung kagum melihat dompolan-dompolan anggur menggelantung. Mereka pun diperbolehkan memetik dan mencicipi kelezatan anggota famili Vitaceae itu. ‘Tak ada yang tahu kalau itu anggur tempelan,’ kata Mufidah sambil tertawa mengenang kejadian itu. Padahal, jenis anggur yang ditanamnya asli berbuah warna hijau dan rasanya asam. ‘Buahnya juga sedikit,’ kata sulung dari 10 bersaudara itu.

Di pelataran yang penuh tabulampot – pun sisi-sisi lain pekarangan – Mufidah kerap menghabiskan waktu. Bersenjata gunting lipat berwarna hijau di tangan, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar itu menyambangi tabulampot koleksi. Daun kering dan benalu disingkirkan.

Percabangan yang tumpang-tindih dirapikan. Jika tanaman mulai berbuah, buah diseleksi yang ukurannya lebih kecil dibuang. ‘Biar buah tersisi besar,’ kata perempuan yang pandai menari serampang 12 itu.

11 jenis

Upaya Mufi dah menghijaukan rumah dinasnya bukan tanpa alasan. Ia ingin kediamannya di Jakarta seperti di Makassar yang penuh tanaman. Di pekarangan belakang rumah di Sulawesi Selatan, Mufidah menanam sawo, pisang, sukun, asam jawa, dan alpukat. Yang paling spektakuler: mangga kombinasi, satu pohon terdiri atas 11 jenis mangga. Ada arumanis, gadung, gedong gincu, golek, hingga kueni. Semuanya hasil okulasi. Mangga memang buah favorit Mufidah dan suami.

Pohon mangga di halaman belakang seluas 4.500 m2 itu selalu berbuah bergantian. Sepanjang tahun, tak pernah putus. ‘Kadang yang berbuah 5 macam dan jenis lain berbunga,’ kata Mufidah.

Bukti cintanya pada mangga Mufidah pernah mengetuk pintu rumah orang yang tak dikenal. Ketika itu, wanita kelahiran 12 Februari 1943 itu sedang berjalan-jalan di Hawaii dan melihat pohon mangga berbuah lebat di pekarangan. Ia langsung meminta kepada si pemilik. Dua ranting muda yang diberikan tukang kebun dibungkus kapas basah lalu dimasukkan ke plastik. Di Makassar, ujung ranting segera disambung ke pohon mangga di belakang rumah.

Buah mangga asal Hawaii itu bulat berukuran jumbo mirip mangga apel. Pangkal buah merah hati dan berasa manis seperti gedong gincu, tapi tak semanis arumanis. ‘Ada asam sedikit sehingga rasanya segar,’ ujarnya.

Warisan

Kegemaran Mufidah pada tanaman diwariskan sang ayah, H Buya Mi’ad. Di waktu luang setelah mengajar Buya habiskan untuk berkebun. Selain tanaman buah, Mufidah juga mengoleksi anggrek. Bahkan dulu putri tunggal pasangan H Buya Mi’ad dan Sitti Baheram itu punya tempat khusus untuk anggrek. Karena anggota famili Orchidaceae itu ia dipercaya rekan-rekan Perhimpunan Anggrek Indonesia untuk menjadi ketua umum.

Di rumah dinas, anggrek menempel di batang pohon atau digantung di pot berdampingan dengan tabulampot. Tabulampot dipilih karena gampang dipindah-pindah dan bentuknya ‘ringkas’. Di lahan terbatas bisa memuat banyak tanaman ketimbang menanam di tanah. Yang ditanam di lahan hanya durian monthong, jeruk, rambutan, dan pisang kepok asal Makassar.

Untuk mngatasi halaman yang mulai sesak, Mufidah membeli kebun khusus di Gunung Geulis, Bogor. Di sana tabulampot yang cocok berbuah di dataran lebih tinggi ditanam. Ketika buahnya bermunculan jadi obat kerinduan Mufi dah pada kebun buah di kampung halaman. (Rosy Nur Apriyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img