Wednesday, August 17, 2022

Rumah Nyaman Periuk Monyet

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Kasus serupa dialami Wahyu Nano, pekebun nepenthes di Batu, Malang. Kematian massal 100 pot N. maxima yang didapat dari seorang teman tak terhapus dari ingatannya. Lagi-lagi media yang jadi penyebab. ‘Waktu itu saya hanya menggunakan media tanah,’ ujar Wahyu. Akibatnya media terlalu padat sehingga air siraman menggenang.

Media tanaman memang kerap dianaktirikan. Hobiis tanaman hias lebih sering memanfaatkan beragam suplemen dan pupuk supaya penampilan tanaman prima. Padahal, semua itu tidak akan bekerja optimal jika media yang digunakan tidak tepat.

Pasalnya, media jadi ‘rumah penampungan’ unsur hara sebelum disedot akar, lalu disalurkan ke batang, daun, dan bunga. Bila media tepat, pertumbuhan tanaman optimal. Semua jenis media dapat digunakan untuk nepenthes, asal formulanya tepat. Bisa tunggal, seperti sphagnum moss atau campuran beberapa media. Florida S Marbun, pemilik Ridho Orchids di Cikole, Bandung, menggunakan media pakis, sama dengan koleksi anggreknya.

Pakis sanggup menyimpan air dalam jumlah cukup, tetapi drainase dan aerasinya bagus sekali. Ia memiliki rongga udara yang banyak sehingga akar leluasa berkembang. Jumlah pori-pori atau lubang yang tercipta dari potongan pakis mencapai 40%. Periuk monyet pun dapat tumbuh baik meski dengan media tunggal.

Menurut M Apriza Suska, hobiis nepenthes di Bogor, sphagnum moss paling aman dipakai sebagai media karena sifatnya bagus. Ia mampu memegang air lantaran memiliki banyak rongga udara. Jumlah air yang terpegang, volumenya 8 kali bobot spahgnum moss. Kelebihan lain, drainasenya bagus.

Campuran

Hobiis dan pekebun lain memilih media campuran supaya murah. Bayangkan bila hanya memakai sphagnum moss, biaya pasti tinggi. Harga per kilo sphagnum moss mencapai Rp35.000. Sedangkan media lain, misal sekam bakar, hanya Rp12.500/kg. Selain itu, kemudahan memperoleh media juga jadi pertimbangan. Sekam bakar, pakis, atau serbuk sabut kelapa lebih mudah didapat dibandingkan sphagnum moss. Sphagnum moss hanya tersedia di toko-toko pertanian besar.

Idealnya kantong semar membutuhkan media tanam porous dan lembap. Media porous dicirikan: remah dan tidak ada air yang menggenang saat penyiraman. Air tergenang menjadi surga bagi cendawan. Pada akhirnya tanaman mati. Kondisi lembap diindikasikan media selalu basah, tapi tidak becek. Periuk monyet tumbuh baik pada pH 6?7.

Tidak ada standar media yang tepat untuk anggota famili Nepenthaceae itu. Meski demikian, ada prinsip dasar yang selalu dipakai, yakni pertimbangan tempat tumbuh. Ketinggian tempat dan kelembapan mempengaruhi komposisi media yang dipakai. Di daerah pegunungan atau yang bercurah hujan tinggi, pilih media yang sangat porous agar air mudah keluar dari pot. Sebaliknya di tempat panas, pilih media yang dapat menahan air cukup lama sehingga media tidak cepat kering.

Agus Setyo Yudhanto, Yanuar, dan Ferry Siamena, hobiis nepenthes di Surabaya, menggunakan media cocopeat dan sekam bakar dengan komposisi 1:1. Masing-masing media memiliki tugas. Serbuk kelapa?sebutan lain cocopeat?sanggup menahan air dalam jumlah banyak dan waktu lama, sehingga kelembapan tinggi. Sedangkan sekam bakar kurang menyerap air. Namun, ia membuat aerasi udara sangat baik. Akibatnya media tidak terlalu padat sehingga tanaman terhindar dari busuk.

Di Bandung Selatan, Ir Uhan Suhanta, hobiis nepenthes, menggunakan media campuran cocopeat dan sekam bakar. Pemilik nurseri Kineka Flora Gemilang itu juga menambahkan pakis dan batu apung. Perbandingan masing-masing media 1:1:1:1. ?Cocopeat berfungsi menyimpan air. Batu apung menjaga pH. Sedangkan arang sekam (sekam bakar, red) dan pakis menjaga keporousan,? ujar pria kelahiran Yogyakarta 39 tahun silam itu.

Berdasarkan jenis

Dr Purbo Djojokusumo, pemilik Kreatif Flora di Pancawati, Bogor, Jawa Barat, menggunakan andam dan sekam bakar 3:1. Campuran media tersebut dipakai untuk kantong semar berakar. Sedangkan untuk nepenthes yang belum berakar, seperti bibit setekan, cukup menggunakan media tunggal, sekam bakar. ?Hanya saja peletakannya harus di tempat ternaungi. Bila tidak, daun akan kering,? ujarnya. Bibit setek membutuhkan naungan 80?90%, sedangkan kantong semar yang berakar cukup dengan shading net 60?70%.

Setelah satu tahun bergelut di nepenthes, akhirnya Wahyu menemukan media tepat bagi kantong semar itu. Di kebun yang terletak pada ketinggian 900 m dpl, ia menggunakan formulasi berbeda untuk masing-masing jenis kendi kera. Untuk spesies epifit digunakan media arang sekam dan pakis dengan perbandingan 1:1. Sementara nepenthes terrestrial, seperti N. gracilis, dipakai media tanah dan pakis. Komposisinya 1:1.

Alternatif lain, menggunakan media yang berasal dari daerah asal periuk monyet. Itu yang dilakukan Ceko Mulyando, hobiis nepenthes di Bogor. Mahasiswa Jurusan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, itu menggunakan tanah liat asli Wonosobo lantaran N. gymnamphora yang dikoleksinya berasal dari daerah itu.

Beragam alternatif media tanam dapat digunakan untuk nepenthes. Namun, yang perlu diperhatikan sebelum media dimasukkan ke dalam pot, pastikan dasar pot diberi benda yang berongga. Pecahan batubata atau styrofoam yang telah dipotong-potong bisa menjadi pilihan. Styrofoam diperlukan untuk mencegah agar air tidak terlalu lama menggenang di pot.

Kini tinggal Anda menentukan media tanam yang cocok untuk nepenthes kesayangan. Perhatikan agar media tetap porous dan lembap. Media pilihan Anda pun siap menjadi saksi kehidupan periuk monyet. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan dan Syalita Fawnia)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img