Monday, August 8, 2022

Rupiah dari Air Mata

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Jali toleran banjir, kekeringan, dan kekurangan haraTriono Untung Piryadi menanam komoditas lawas yang terlupakan.

 

Triono Untung Piryadi mengembangkan jali di lahan seluas 4 haJali sangat lezat saat diolah menjadi buburJali yang sudah berubah warna dan tanaman yang mulai menguning menandakan siap panenRibuan jali yang berbaris rapi di lahan 4 ha itu seperti merunduk menahan malai. Tanaman berumur 105 hari itu mulai mengering dan buah menua pertanda siap panen. Empat pekerja memotong batang jali dan menyisakan sekitar 30 cm di atas tanah. Batang-batang bermalai itu lalu terkumpul di atas terpal biru. Pekerja memeram batang jali selama semalam agar buah jali mudah rontok.

Keesokan hari para pekerja merontokkan jali dengan cara memukulkan pada papan perontok seperti panen padi. Dari lahan 4 ha pekebun di Cugenang, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, Triono Untung Piryadi, menuai total 40 ton biji kering. Produktivitas jali mencapai 10 ton per ha. Triono menjual jali kepada produsen herbal dengan harga Rp2.500-4.000 per kg tergantung ketersediaan.

Hemat benih

Menurut Triono Untung Piryadi biaya budidaya tanaman anggota famili Poaceae itu Rp6-juta per ha, di luar biaya sewa lahan. Itu menggambarkan penanaman jali sangat menguntungkan. Ia tertarik mengebunkan kerabat jagung itu setelah ada permintaan dari produsen herbal di Jakarta. Saat itu, pada kurun 2000-2009, ia hanya mengumpulkan 1.000 kg biji jali per bulan dari petani-petani di Cianjur dan sekitarnya.

Untuk memenuhi permintaan itulah ia mengebunkan tanaman bernama ilmiah Coix lacryma itu. Dalam bahasa Latin lacryma berarti air mata. Bentuk biji jali yang bulat menyerupai tetesan air mengilhami masyarakat Inggris menjuluki jali sebagai Job’s tears alias tetesan air mata Ayub. Triono memanfaatkan ladang menganggur yang penuh ilalang untuk membudidayakan jali.

Mula-mula, ia membabat bersih alang-alang yang tumbuh di lahan yang berada pada ketinggian 750 m di atas permukaan laut. Setelah itu Triono langsung menanam jali. “Tanaman jali dapat tumbuh di tanah yang  belum diolah,” ujar Triono. Namun, ia memilih membibitkan dalam polibag. Penanaman biji secara langsung menyebabkan kebutuhan benih melonjak 6 kali lipat. Musababnya, banyak biji hilang akibat dimakan burung atau kesalahan pekerja.

Untuk menumbuhkan bibit, para pekerja menyemai biji dalam polibag dengan media 80% bekas media penanaman jamur tiram dan 20% tanah. Penyemaian bertujuan agar pertumbuhan bibit seragam dan menekan bibit yang mati. Dengan cara itu, keberhasilan biji menjadi bibit mencapai 82%. Triono memerlukan 1-1,5 kg biji jali per hektar lahan. Para pekerja menanam bibit berumur 30 hari dengan jarak tanam 1 m x 1 m x 1 m.

Pada saat bersamaan, mereka membenamkan 10 g pupuk NPK majemuk per tanaman. Sebelum kemudian, mereka memberikan pupuk susulan dengan dosis yang sama. Penyiraman bergantung pada hujan. Jali termasuk tanaman yang tahan serangan hama dan penyakit. Triono belum menemui serangan hama dan penyakit sehingga tak perlu pestisida.

Panen berkali-kali

Seminggu pascatanam, tanaman akan memunculkan 25-35 batang anakan. Bunga muncul 2,5 bulan pascatanam dan siap panen sebulan kemudian. Ketika panen para pekerja menyisakan batang 30 cm di atas tanah. Batang yang tersisa itu lalu tumbuh kembali membentuk rumpun pada tujuh hari usai panen. Triono mempertahankan batang itu hingga 4 kali panen sebelum membongkar tanaman dan mengganti dengan bibit baru.

Artinya, sekali tanam pekebun itu 4 kali panen jali. Menurut guru besar Fakultas Pertanian, Uiversitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, Prof  Dr Ir Tati Nurmala MS, tanaman jali termasuk serealia yang akarnya mampu membentuk anakan baru. Kemampuan ini memang biasa dimanfaatkan petani untuk menanam secara ratoon alias tanam berulang. “Hasil yang didapat tidak sebagus tanaman awal, bisa berkurang sampai 50%”, tutur Tati.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik memerlukan tambahan nutrisi. Itulah sebabnya Triono memberikan pupuk dua kali lipat pada periode budidaya yang kedua hingga keempat. “Alokasi dana untuk bibit dapat dialihkan untuk menambah jumlah pupuk sampai dua kali lipat,” ujar Triono. Wajar jika produksi pada panen kedua hingga keempat relatif stabil, yakni 10 ton per ha alias tak terjadi penurunan hasil.

Triono mengatakan jali toleran kondisi lingkungan ekstrem. Ia pernah menanam jali di lahan yang selalu basah dan tergenang air seluas kira-kira 150 m2. Di lahan itu jali tetap tumbuh subur. Itu karena damu Ayub-sebutan jali di Arab-menyesuaikan diri dengan membentuk akar udara. Syarat utamanya, bebas naungan. “Jika ternaungi, hasilnya hanya 1-2 ton per ha,” ujar Triono.

Serbaguna

Budidaya jali relatif mudah lantaran toleran banjir, kekeringan, dan kekurangan hara. Yang pasti jali juga bergizi. Grubben dan Partohardjono dalam Prosea Plant Resources of South-East Asia menyebutkan kandungan protein jali mencapai 14,1% per 100 g, lebih tinggi ketimbang jagung, sorgum, atau beras sekalipun. Begitu pun lemak, kalsium, dan vitamin B1 pada jali.

Itulah sebabnya Filipina mengembangkan jali sebagai substitusi padi. Periset di Biro Penelitian Pertanian, Dr Nicomedes P Eleazar, mengembangkan jali sebagai pengganti beras. Sinaing na adlai, maja blanca, dan sinukmani adalah jenis kuliner berbahan jali di Filipina. Nicomedes menyebutkan jali juga dapat menjadi tepung, minuman siap seduh, dan minuman fermentasi.

Di tanahair, jali menjadi komoditas asing yang kian langka. Pengembangannya sporadis dalam skala kecil seperti di Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lembang, Bandung Selatan, dan Cianjur, Jawa Barat. Masyarakat mengenal jali dengan nama lain hanjeli, singkoru, batu, kemangge, bukehang, atau kaselore. Kini tanaman asli Asia Tenggara itu nyaris tinggal cerita di tanahair, hanya sedikit yang tahu pemanfaatan jali sebagai bahan pangan.

Sebagian masyarakat hanya tahu biji jali sebagai bahan tasbih, mainan, atau aksesori. Padahal, anggota famili Poaceae itu berpotensi sebagai alternatif pangan, herbal, dan pakan. Itu membuktikan bahwa jali merupakan komoditas potensial. Budidaya relatif mudah, pasar terbuka, dan berkhasiat pula. Di mancanegara, jali pun kondang sebagai bahan makanan dan herbal lantaran bersifat antiinflamasi, antialergi, dan antidiabetes. Bagi pekebun seperti Triono, jali adalah air mata bahagia karena mendatangkan laba. (Susirani Kusumaputri/Peliput: M Khais Prayoga)

Keterangan Foto :

  1. Triono Untung Piryadi mengembangkan jali di lahan seluas 4 ha
  2. Jali toleran banjir, kekeringan, dan kekurangan hara
  3. Jali sangat lezat saat diolah menjadi bubur
  4. Jali hasil panen diperam selama semalam supaya mudah dirontokkan
Previous articleSensasi Baru si Pedas
Next articleFikri 35 Ton/Ha
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img