Sunday, August 14, 2022

Saat Air Bah Menyapu Tanaman Hias

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Padahal baru kemarin pagi Syairoji melayani pelanggan dari Tangerang, Bekasi, dan Jakarta. Mereka memborong euphorbia, adenium obesum, dan diamond crown senilai total Rp 750.000. Laki-laki berambut putih itu pun tengah mempersiapkan 6.000 batang adenium sambungan berbagai jenis bunga untuk pameran di Trubus Agro Expo Mei 2007. Dengan harga rata-rata Rp25.000-Rp35.000, Syairoji menghitung 3 bulan ke depan pendapatan Rp150-juta bakal digenggam.

Belum lagi pesanan euphorbia dan adenium dari pembeli di Jakarta dan Yogyakarta. Total pembelian Rp26-juta yang rencananya diambil pada Senin, 5 Februari 2007. Namun, apa lacur rupiah itu tinggal impian semata. Banjir besar yang datang tiba-tiba merendam kebun produksi seluas 2.000 m2 di halaman belakang rumah. Adenium, euphorbia, sansevieria, dan tanaman hias lain yang berdesak-desakan di atas rak kayu setinggi 20-75 cm tersapu air.

Syairoji dan istri Hj Ika, hanya bisa berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan adenium yang terendam banjir.Ia berteriak memanggil karyawan dan karyawan temannya yang tinggal di sekitar kebun. Ber-15 mereka tergopoh-gopoh mencabut tanaman dari media lalu memindahkan ke depan rumah yang letaknya lebih tinggi. Tiga mesin diesel yang dipakai untuk memompa air ke luar kebun tak banyak membantu. Tepat pukul 17.00 proses evakuasi dihentikan dan dilanjutkan keesokan harinya. Dari 40.000 tanaman, hanya 10% yang berhasil diselamatkan. ‘Ini pun belum tentu sehat semua,’ Ujar Syairoji kelu. Paling separuhnya yang bisa ditanam.

Bencana kali itu sungguh tak terduga. ‘Saya tidak sangka banjir akan sebesar ini. Makanya Kamis itu saya masih duduk santai ketika hujan turun,’ tutur pemilik nurseri Wahana Florist itu. Namun, dalam hitungan jam, hujan yang turun deras meluapkan air dari sungai di sekitar kediaman di Karangmulia, Karangtengah, Tangerang. Jalan-jalan berubah jadi sungai. Air pun menerjang rumah dan kebunnya setinggi 2 m.

Rugi Rp200-juta

Luapan itu juga meluluh-lantakkan kebun-kebun lain di sekitar kediaman Syairoji. Karangtengah-juga Gondrong, Cipondoh, Tangerang-memang dikenal sebagai sentra tanaman hias. Kedua sentra itu sama-sama terkena amukan banjir. Total jenderal 80% pekebun di Karantengah dan 20% di Gondrong rusak. Hal sama terjadi di Taman Anggrek Ragunan, Jakarta Selatan, dan pasar tanaman hias di perumahan Regensi Bintaro, Tangerang. Air bah setinggi 1,5 m menyapu showroom sekaligus kebun produksi di kanan-kiri jalan masuk perumahan.

Trubus melihat pot, styrofoam, dan media berserakan di atas rak asbes yang kondisinya rusak di nurseri Flora Alam Lestari. Pagar kebun terbuat dari seng doyong ke belakang karena tak kuat menahan derasnya aliran air. Edie Suhary-sang pemilik-memprediksi kerugian sekitar Rp200-juta. Itu belum termasuk adenium yang sempat terendam dan belum pasti bisa ditanam kembali.

Di Sawangan, Depok, nurseri Godongijo juga tak luput dari amukan air bah. Jumat pukul 00.30, air masuk dan langsung menggenangi kebun. Air terus merangkak naik hingga hampir menyentuh rak setinggi 60-75 cm. Pukul 01.30 Chandra Gunawan, sang empunya, langsung mengerahkan 100 pekerja untuk mengevakuasi 15.000- 20.000 adenium ke lokasi aman.

Begitu fajar menyingsing, Chandra langsung menginstruksikan pekerja membuat saluran pembuangan sepanjang 80 m, lebar 1 m, dan dalam 1,7 m. Air pun berangsur surut.

Pasokan anjlok

Eddy Sutioso di Surabaya lebih dulu merasakan musibah. Dua minggu sebelum banjir melanda Jakarta dan sekitarnya, 500 caladium berdaun 3-5 helai setinggi 5-12 cm diterjang air bah. Padahal kerabat aglaonema itu siap dijual dengan harga Rp30.000/pot. Air masuk dari bagian atas kebun yang lebih tinggi. Akibat terendam banjir, daun rusak dan hanya menyisakan umbi. Untuk memperbaiki penampilan caladium seperti semula, dibutuhkan waktu 1,5 bulan. Pria kelahiran Jatinegara 43 tahun silam itu pun mesti menunda keuntungan.

Yang jelas, banjir mengguncang pasar tanaman hias, terutama adenium. Dari Karangtengah dan Gondrong setiap bulan sekitar 120.000 tanaman adenium beragam ukuran dikirim ke seluruh Indonesia, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akibatnya bisa ditebak: pascabanjir pasokan ke daerah anjlok. Harga pun merangkak naik. Menurut Ambri, pekebun di Gondrong, Ciledug, harga batang bawah kualitas A naik menjadi Rp6.500/pot dari Rp5.000/tanaman. Biji obesum yang biasa dijual Rp400-Rp500/biji melonjak jadi Rp650 per biji. Tjandra Ronywidjaja, SSos, pemain adenium di Ponorogo, Jawa Timur, memprediksi kenaikan harga adenium pascabanjir mencapai 20-40%.

Pasokan dari 2 sentra diprediksi kembali pulih 6 bulan ke depan. Itu waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan batang bawah adenium siap jual. Bonggol yang lebih besar, butuh waktu lebih lama. Seperti kata Syairoji, ‘saya harus mulai lagi dari awal.’ (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Destika Cahyana)

 

JUAL HORMON PERANGSANG TUNAS & AKAR Aglaonema dll.

ESHA FLORA
Jl. Kemuning VI Blok M6 No 9 Taman Cimanggu Bogor. 0251-344879. CP: Ir. Edhi Sandra MSi 0812 821 3720 Ir. Hapsiati 0817 154 375

PELATIHAN KULTUR JARINGAN

SKALA RUMAH TANGGA selama 5 hari. 80% praktek, 20% wawasan. Biaya Rp2-jt, termasuk snack, makan siang, pelatihan kit, sarana praktek
ESHA FLORA
Jl. Kemuning VI Blok M6 No 9 Taman Cimanggu Bogor. 0251-344879. CP: Ir. Edhi Sandra MSi 0812 821 3720 Ir. Hapsiati 0817 154 375

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img