Sunday, November 27, 2022

Saat Asap Berubah Padat

Rekomendasi

 

Keheranan Dian mewakili masyarakat pada umumnya. Jangankan asap tepung, asap cair juga sedikit yang tahu. Memang lazimnya asap berupa gas. Menurut Dr Purnama Darmadji, dosen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Gadjah Mada, asap dapat diubah bentuknya menjadi cair ataupun padat. Produsen seperti Imam Nurhidayat di Kulonprogo, Provinsi Yogyakarta, membakar tempurung kelapa dengan sistem pirolisis sehingga menghasilkan asap. Ia lalu mengkondensasi asap sehingga berubah bentuk menjadi cair.

Kini asap yang semula berbentuk cairan diolah lagi menjadi tepung. Itu yang membuat Dian Lestari terheran-heran. Perubahan bentuk dari cair ke tepung karena campuran maltodekstrin. Maltodekstrin merupakan hasil hidrolisis pati berupa tepung berwarna putih yang terdiri dari campuran glukosa, maltosa, dan polisakarida. Pati bersumber dari berbagai tanaman penghasil karbohidrat seperti singkong, sagu, kentang, dan jagung.

Dalam kehidupan sehari-hari maltodekstrin mensubstitusi lemak dalam makanan pencuci mulut, yoghurt, bakery dan es krim, serta bahan tambahan margarin dan makanan rendah kalori. Penambahan maltodekstrin dalam jumlah besar tidak meningkatkan kemanisan produk. Selain maltodekstrin, yang aman dikonsumsi sebagai media pengisi dalam produk makanan adalah gum arab seperti pada kacang goreng berlapis dan permen.

Buang tar

Pada pembuatan asap tepung, Purnama menggunakan maltodekstrin sebagai media untuk mengikat asap cair. Kadar air maltodekstrin rendah sehingga mampu mengikat cairan. Kelebihan lain maltodekstrin tidak bereaksi dengan komponen bahan yang diikat, hanya berikatan secara fisik. Itulah sebabnya saat konsumen melarutkan asap tepung dalam olahan makanan, komponen di dalamnya masih bercitarasa asap seperti halnya asap cair.

Purnama mencampurkan asap cair dan maltodekstrin dengan perbandingan 1:1. Ia mengaduk rata campuran itu dan mengeringkan adonan asap cair itu dengan pemanasan oven hingga terbentuk kristal kering. Proses pengeringan berlangsung selama 8 jam pada suhu 70-80oC. Lalu Purnama menghaluskan kristal kering yang terbentuk itu hingga menjadi bubuk, alias asap tepung.

Sebelum digunakan sebagai bahan baku asap tepung, Purnama terlebih dahulu mendestilasi asap cair hasil pirolisis tempurung kelapa. Tujuannya supaya asap terbebas dari kandungan tar dan senyawa penyebab kanker seperti benzo(a)pirene. ‘Senyawa-senyawa itu berbahaya bagi tubuh, tar bersifat toksik sedangkan benzo(a)pirene karsinogenik pemicu kanker, ‘ ujar doktor alumnus Universitas Okayama, Jepang, itu.

Purnama terinspirasi mengubah asap cair menjadi tepung karena banyaknya orang yang menyukai makanan yang dibakar, tetapi enggan repot untuk membuatnya. ‘Masyarakat sekarang ingin yang praktis dan cepat saji. Salah satu caranya adalah menyulap asap cair menjadi tepung’ ujarnya. Untuk menggunakannya juga praktis. Hanya dengan menabur asap tepung pada makanan, dalam sekejap tersaji hidangan bercitarasa panggang tanpa perlu lama membakar di atas pemanggang. (Ari Chaidir)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img