Wednesday, August 10, 2022

Sabar Menanti Hoya Mekar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Hoya spartioides spesies yang unik asal Kalimantan karena hampir seluruhnya berupa tangkai bunga. Bunga mekar hanya beberapa jam.

Hoya-hoya unik ada yang sosoknya hanya tangkai bunga, ada pula yang mekar pada dinihari.

Trubus — “Menanti bunga hoya mekar ibarat menunggu kembali kekasih yang merantau,” kata kolektor hoya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Dian Rahmawati. Harap mafhum, sulit memprediksi waktu mekar bunga hoya. “Bahkan, sering kali setiap spesies dan varietas punya waktu mekar berbunga yang berbeda,” kata Dian yang mengoleksi Hoya spartioides sejak 2005. Spesies asal Kalimantan itu hampir seluruhnya berupa tangkai bunga atau peduncle.

Sekilas sosok hoya itu mirip daun atau batang tanaman semak. “Sudah sering berbunga, tetapi sulit diprediksi dan waktu mekarnya pendek. Hoya spartioides mekar hanya beberapa jam sehingga selalu kecolongan untuk mendokumentasikannya langsung,” kata Dian. Beruntung Dian memiliki banyak koleksi sehingga rindunya pada mekar hoya dapat terobati dengan menikmati jenis lain seperti Hoya imperialis yang tengah mekar.

Gigi susu

Hoya imperialis tersebar di Kalimantan, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Tanaman unik karena warna bunga merah solid kontras dengan mahkota bunga.

Sosok Hoya imperialis asal Kalimantan sangat elok ketika mekar. Kelopaknya berwarna merah dengan mahkota berwarna putih kekuningan sehingga terkesan perkasa. Lama mekar Hoya imperialis lebih panjang daripada spartioides. Ia dapat mekar lebih dari sehari. “Yang terpenting melihat mekarnya, maka rasa penasaran sejak saat membeli terbayar sudah,” kata Dian yang juga mengoleksi anggrek itu.

Dian juga mengoleksi Hoya mitrata asal Kalimantan yang tak kalah elok. Mitrata juga dapat ditemukan di Thailand, Malaysia, dan Sumatera. Kelopaknya berwarna putih kekuningan dengan mahkota unik yang berbentuk gigi susu anak balita. “Bentuknya membuat gemas saat melihat,” kata Dian. Koleksi Dian yang lain adalah Hoya multiflora. Jenis itu tergolong familiar di kalangan pehobi karena tersebar di Kalimantan, Jawa, Thailand, Tiongkok, Sumatera, Sulawesi, dan Filipina.

Bentuk bunga Hoya mitrata mungil mirip gigi balita.

Koleksi Dian yang juga istimewa adalah Hoya finlaysonii. Ujung kelopak berwarna ungu dengan mahkota berwarna putih. Sebetulnya hingga saat ini Dian tak tahu namanya sehingga menyebutnya hoya komplek. Menurut peneliti hoya di Bogor, Jawa Barat, Sri Rahayu kemungkinan besar jenis hoya itu adalah Hoya finlaysonii. Namun, menurut Rahayu, beberapa kalangan menyebutnya Hoya ranauensis dan Hoya callistophylla.

“Beberapa spesies hoya seharusnya mengalami revisi, tetapi saat ini nama lama masih sering dipakai,” kata Rahayu. Tahun ini Dian berencana mendokumentasikan waktu setiap jenis hoya berbunga dan waktu mekar sempurna. “Sudah hampir 15 tahun saya memelihara hoya, tetapi sering kelewat karena tanpa catatan tertulis,” kata Dian.

Domestikasi

Pehobi lain Shintarini Aliwarga di Kota Tangerang Selatan, Banten. Shinta juga selalu rindu menyaksikan Hoya wallichii red koleksinya yang mekar setiap dini hari. “Sayang, saya selalu ketinggalan menyaksikannya karena terlambat datang,” kata Shintarini. Beruntung Shinta selalu dikirimi gambar wallichii red oleh pegawainya yang mengelola kebun sehingga masih dapat menikmati keindahan hoya.

Tak selamanya memprediksi hoya

berbunga sulit. Terdapat hoya jenis tertentu yang bermurah hati dengan berbunga sepanjang tahun seperti Hoya danumensis (baca Trubus April 2019: Elok Hoya Sepanjang Tahun). Namun, memprediksi tanaman berbunga terutama hoya spesies terutama yang baru didapat dari alam relatif sulit. “Terkadang kita mendapat spesies dari hutan tanpa tahu namanya karena hanya melihat daun dan akar saja. Identifikasi baru nanti didiskusikan dengan sesama pehobi,” kata Dian.

Hoya multiflora spesies yang tersebar di Kalimantan, Jawa, Thailand, China, Sumatera, Sulawesi, dan Filipina.

Di hutan hoya tumbuh sebagai epifit yang menempel di permukaan kulit pohon atau permukaan batu. Sosok daun mereka terkadang berbeda kala tumbuh di tempat ternaungi dan di tempat terbuka. Jenis yang sama daunnya bisa sangat hijau, tetapi juga bisa kuning ketika terpapar cahaya. Bahkan, pada masa lalu pehobi sering mendapatkan hoya dengan hanya mengandalkan cerita orang yang mengambil dari hutan bahwa tanaman tersebut berbunga indah.

Baru belakangan para pemasok hoya dari hutan mulai mendomestikasikannya dulu di rumah sekitar hutan, memotret bunga dengan telepon pintar, lalu menjualnya ke para pehobi. “Belum tentu saat sudah dimiliki kecantikan hoya dapat kita saksikan langsung, sering saat mekar berbunga posisi kita sedang di luar kota sehingga tidak terdokumentasi karena waktu mekar hoya sangat pendek sekitar 2—4 jam,” kata Shinta.

Dua tiga tahun terakhir, teknologi telepon pintar makin didukung perkembangan media sosial yang masif. “Sekarang banyak penduduk desa di sekitar hutan mengabadikan keindahan hoya. Dampaknya keindahan hoya dapat juga dinikmati melalui telepon pintar tanpa perlu repot-repot ke kebun,” kata Shinta. (Destika Cahyana)

Previous articleMau Maughanii
Next articlePesona Anggrek Perahu Baru
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img