Saca, saca inci, kacang saca, kacang gunung, montana nut, atau kacang inka. Namanya memang masih terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Maklum, tanaman ini tergolong pendatang baru di tanah air. Semua sebutan itu merujuk pada spesies yang sama, Plukenetia volubilis.
Sejak 3.000 tahun silam, saca menjadi bagian dari santapan masyarakat Amazon. Tanaman anggota famili tanaman kastuba-kastubaan itu berasal dari Brasil, Bolivia, Ekuador, dan Kolombia. Masyarakat sebelum era Inka hingga bangsa Inka telah membudidayakannya. Beragam suku di Amazon memanfaatkan biji dan daun saca sebagai komponen penting makanan tradisional. Bahkan, bijinya diekstrak menjadi minyak untuk berbagai keperluan pangan.
Beberapa tahun terakhir, tanaman kerabat ubikayu ini mulai menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam setahun terakhir, semakin banyak pehobi dan petani yang mengebunkan tanaman merambat tersebut. Benihnya didatangkan dari berbagai negara seperti Thailand, Vietnam, dan Peru. Pada 2020, benih dari Peru mulai diperbanyak secara generatif di Indonesia.
Secara morfologi, saca inci memiliki daun berbentuk jantung berwarna hijau. Tanaman mulai berbunga pada umur 3—5 bulan. Bunganya majemuk tak berbatas, lalu berkembang menjadi bakal buah. Buah siap dipanen sekitar 3 bulan setelah bunga mekar. Buah muda berwarna hijau dan berubah hitam kecokelatan saat kering.
Bentuk buahnya unik, sekilas mirip keben (Barringtonia asiatica). Namun setelah dikupas, perbedaannya jelas terlihat. Buah saca menyerupai bintang dengan empat hingga enam sudut. Jumlah sudut itu dipengaruhi kesuburan tanah. Semakin subur lahan, semakin banyak sudut bintangnya.

Panen perdana atau magori berlangsung pada umur 7—8 bulan setelah tanam. Tanaman ini sudah bisa berproduksi kurang dari setahun dan tetap produktif hingga 10—20 tahun. Artinya, petani tidak perlu menanam berulang-ulang dalam waktu singkat. Tanaman yang subur mampu menghasilkan 1—2 kg buah kering per bulan.
Buah hasil panen biasanya diolah dengan cara disangrai atau dioven. Rasanya mirip kacang tanah, tetapi lebih gurih. Tak heran jika saca mulai diperjualbelikan di berbagai kota dengan harga tinggi, mencapai Rp200.000 per kg.
Nilai tambah yang lebih besar diperoleh jika bijinya diolah menjadi minyak. Minyak saca kaya omega tiga dan omega sembilan, kandungan yang tidak lazim terdapat pada minyak nabati karena umumnya ditemukan pada minyak hewani. Harga minyak saca bahkan bisa mencapai Rp1 juta per liter.
Selain biji, daun saca juga memiliki kandungan terpenoid, saponin, dan flavonoid. Daunnya dapat dikonsumsi setelah dimasak. Kombinasi rasa gurih, kandungan gizi, dan harga jual tinggi menjadi daya tarik utama budidaya saca inci, baik sebagai hobi maupun peluang bisnis.
Di beberapa daerah, saca inci tumbuh baik tanpa perawatan intensif. Tanaman dipanen ketika buah telah kering, dan panennya berlangsung susul-menyusul. Meski demikian, pada 2019 belum banyak penyedia benih di dalam negeri. Benih umumnya diperoleh dari luar negeri melalui lokapasar internasional. Tantangan yang kerap muncul adalah daya kecambah benih yang menurun, diduga akibat kedaluwarsa.
Sebagai tanaman introduksi, saca inci menunjukkan potensi besar. Produktivitas tinggi, umur panjang, kandungan minyak bernilai ekonomi, serta peluang pasar yang menjanjikan menjadikan kacang gunung ini semakin dilirik pekebun di Indonesia.
