Wednesday, August 17, 2022

Sagu Batang Pohon yang Mendunia

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Mulai pukul 22.00— 04.00 truk-truk berdatangan dan membongkar muatan potongan batang sagu sepanjang 60—70 cm. Dua pemikul segera bekerja, mengusung 50—70 kg menuju tempat penggilingan milik Asep Budiawan, sekitar 500 m dari jalan. Total jenderal 1 truk menurunkan 7 ton batang Metroxylon sagu.

Pukul 06.00 mesin pemarut mulai bekerja, mengubah batang sagu menjadi parutan halus. Dalam waktu 4 hari parutan itu diolah menjadi tepung sagu kering. Selanjutnya dibawa ke industri makanan di Bogor, Jakarta, dan Karawang. Dalam sehari 2 ton batang kiray—sagu dalam bahasa Sunda—diubah menjadi 200—250 kg tepung sagu kering.

Tepung itu dikirim ke pabrik-pabrik pengolahan mi, bakso, dan tepung kue di seputaran Jabotabek. Setiap bulan Asep bisa memasok 30—60 ton. Di hari raya atau bulan ramai pernikahan, permintaan melonjak hingga 100 ton per bulan. Dengan harga jual Rp2.500/kg tidak pernah ada sisa di gudangnya.

Bahan baku diperoleh dari Bogor dan Banten. Keluarga Palmae itu tumbuh liar di pekarangan dan kebun milik penduduk, tidak ada yang dibudidayakan secara intensif. Tak mengherankan jika Asep sulit mentargetkan perolehan batang sagu setiap harinya.

Jika permintaan sedang melonjak dan penggilingannya tak bisa memenuhi, bapak 2 anak itu terpaksa mendatangkan sagu dari Cirebon. “Itu pun terbatas, hanya bisa 30 ton sekali kirim,” ujar Asep. Maklum saja, industri makanan jadi di Cirebon pun membutuhkan pasokan yang tidak sedikit. Padahal, permintaan tak kunjung surut. Sebuah perusahaan mi di Jakarta meminta pasokan 50—60 ton/hari. Tawaran itu terpaksa ditolak Asep lantaran pasokan bahan baku kurang.

Serapan besar

Di industri makanan, sagu jadi primadona. Pantas jika permintaannya tak pernah surut. Seperti yang dialami Hj Istantini, SE, di Cianjur, Jawa Barat. Pemilik sebuah perusahaan sekuriti di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, itu sejak 2 tahun lalu terjun di bisnis sagu. Sebuah penggilingan di Cianjur setiap bulan menyediakan tepung sagu kering untuk memenuhi permintaan yang datang kepadanya.

Wanita asal Klaten, Jawa Tengah, itu hanya membidik pasar Jakarta dan Bogor. Setiap bulan minimal 10—14 ton sagu kering disalurkan ke satu tempat di Jakarta. Padahal, ada 3 tempat lain yang membutuhkan barang itu. Harga yang ditawarkan bervariasi, antara Rp2.500—Rp3.000 per kg.

Harga itu termasuk tinggi, lantaran titik impas harga di kisaran Rp2.200/kg. Konsumen terbesar datang dari industri pengolahan mi. Setiap bulan mereka meminta pasokan 400 bal—1 bal setara 50 kg. Harganya Rp147.000/ bal. “Sebenarnya berapa pun produksi, pasar mau menerima, karena ini barang konsumsi pokok,” ujar Istantini.

Memang, rumbia—sagu di Sumatera Barat—lebih kondang sebagai bahan makanan. Jika mendengar kata sagu yang terlintas di benak pasti tepung putih bersih yang jadi makanan khas di Indonesia bagian timur. Padahal, tidak hanya itu. Sagu layak dipakai sebagai pensubstitusi tapioka. “Sagu penghasil pati paling tinggi, 16 ton pati kering/ha/tahun; ubikayu hanya 5—6 ton pati kering/ha/tahun,“ ujar Nadirman Haska, ketua Perhimpunan Pengguna Sagu Indonesia. Dengan alasan itu ia lebih menguntungkan bagi industri pemakai pati seperti pabrik cat tembok, lem, dan gel.

Hingga 2004 kebutuhan tapioka dalam negeri belum 100% tercukupi. Dalam kurun waktu 2002—2004 Indonesia masih mengimpor 85.848 kg tepung tapioka senilai US$47.458, terbesar dari Taiwan dan Cina. “Padahal dari 2-juta ha lahan sagu dunia, 1,3-juta ha ada di Indonesia, paling besar di Papua,” lanjut Nadirman. Tanaman sagu tersebar secara alami di Papua, Maluku, Kalimantan, dan Riau. Sistem perawatan berbeda, di Indonesia timur sagu tumbuh liar di hutan-hutan, sedangkan di Riau dipelihara secara semiintensif

Potensi besar

Uniknya walaupun Papua memiliki lahan terbesar, perdagangan sagu lebih marak di Riau. Hasil pengolahan dalam bentuk sagu basah dikirim ke Cirebon, Jawa Barat. Di Cirebon sagu setengah jadi itu masih harus melalui satu proses lagi sebelum menjadi tepung. Pasalnya, kesediaan air bersih di Riau menjadi kendala. “Kualitas air ikut menentukan hasil akhir. Tepung berwarna putih bersih dihargai lebih tinggi,“ ujar Dra Tati Rostiwati MS, peneliti sagu di Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.

Sebenarnya selain pasar dalam negeri, pasar ekspor pun terbuka luas. Di Jepang dan Amerika Serikat sagu mulai dilirik sebagai bahan baku plastik daur ulang dan etanol. Bahan baku mau tidak mau didatangkan dari Asia Tenggara. Di Serawak, Malaysia, sudah dibuka 30.000 ha perkebunan sagu. Dalam kurun waktu 10 tahun ke depan negeri jiran bakal menikmati laba dari kerabat kelapa itu. Tujuan ekspor terbesar Jepang dan Amerika Serikat. Di negara Matahari Terbit itu sagu diolah menjadi bahan makanan seperti sirop fruktosa, bahan industri plastik, dan lem.

Di Selat Panjang, Bengkalis, Riau sebuah perusahaan multinasional juga sudah membuka 20.000 ha kebun sagu. Kini tanamannya berumur 6 tahun. Bukan tanpa alasan mereka berinvestasi cukup besar. Harga di pasar dunia mencapai US$200 per ton.

Indonesia sebenarnya kaya akan plasma nutfah sagu. Pada 1998—2001 hasil eksplorasi Badan Litbang Pertanian dalam proyek Sustainable Agriculture Development Project menemukan fakta, ada lebih dari 62 jenis aksesi sagu di Papua. “Tapi yang bisa dan potensial untuk diambil patinya hanya 30-an jenis,” ujar Dr Ir Adi Widjono, MS, ketua proyek. Kekayaan ini hanya bisa ditandingi oleh Papua Nugini.

Sayang memang, meski Indonesia surga plasma nutfah sagu, Malaysia-lah yang menjadi raja sagu dunia. Lama produksi disinyalir menjadi kendala utama. “Panen pertama sagu umur 10 tahun, lebih lama dibanding tanaman perkebunan lain,“ ungkap Nadirman. Pantas jika kucuran dana tidak mudah turun jika mengajukan kredit untuk mengebunkan sagu.

Padahal, menurut Nadirman jika dilakukan secara intensif sagu cukup menguntungkan. Dengan produktivitas pati 10 ton/ha/tahun, selama 15 tahun ia bisa menghasilkan 150 ton/ha. Jika harga dunia US$200, omzet mencapai US$30.000 per ha. “Biaya produksi ratarata US$100 per ton,” kata kepala Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT itu.

Kultur jaringan

Pasar sagu terbuka di dalam dan luar negeri. Dalam satu makalah yang disampaikan di 8th International Sago Symposium, Agustus lalu di Papua, disebutkan dalam setahun sekitar 50- juta ton sagu terserap pasar. Pasar paling besar adalah Asia Timur. “Pertumbuhan pasar sagu dunia mencapai 7,7% per tahun,” ujar Nadirman. Itu artinya peluang masih terbuka lebar.

Selama ini sagu hanya dibudidayakan secara tradisional. Peremajaan hanya dilakukan dengan anakan. Dalam setahun hanya 1 anakan yang bisa diambil. Jika ingin mengebunkan sagu secara komersial masalah bibit cukup mengganjal. Namun kini, kendala ketersediaan bibit mulai dijawab oleh Balai Bioteknologi Perkebunan Bogor.

Sejak 2000 sebanyak 4 plasma nutfah sagu asal Papua dan Kalimantan Selatan dicoba diperbanyak menggunakan kultur jaringan. “Hasilnya cukup menggembirakan, tapi kita masih terhadang masalah aklimatisasi,” ujar Ir Sumaryono Msc, dari Balai Bioteknologi Perkebunan Bogor. Kelak jika berhasil, sagu bisa dikembangkan seluas sawit dan kelapa. Predikat bumi sagu pun bisa kembali ke Indonesia. (Laksita Wijayanti)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img