Monday, July 15, 2024

Sagu dan Negeri Sehat

Rekomendasi
- Advertisement -
Prof Dr. Bambang Hariyanto*

Ungkapan Prof. Stanton pada 1979 terbukti sekarang. Ia mengatakan bahwa sagu adalah tanaman kuno yang modern. Disebut kuno karena tanaman sagu dikenal sejak lama. Sagu Metroxylon sagu menjadi makanan modern karena dapat mengatasi masalah seperti diabetes melitus. Tanaman anggota famili Arecaceae itu juga tahan terhadap perubahan iklim yang kini menghantui masalah produksi pangan dunia.

Untuk itulah pada peringatan hari diabetes pada 14 November sagu dapat lebih berperan demi kemaslahatan masyarakat. Betapa pentingnya menjaga kesehatan agar terhindar dari diabetes yang menjadi induk dari segala penyakit. Oleh sebab itu, pengendalian gula darah dalam tubuh seseorang menjadi sangat penting. Kondisi itu menunjukkan bahwa diabetes merupakan masalah besar bagi bangsa Indonesia karena akan berpengaruh terhadap produktivitas bangsa.

Pangan sehat

Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme gula darah yang timbul pada seseorang karena terganggunya fungsi insulin. Sebanyak 90% diabetes yang diderita oleh masyarakat adalah tipe 2—timbul karena pola hidup dan pola makan yang salah. Para ahli menduga banyaknya penderita diabetes 2 karena orang banyak stres, pola makan salah, kurang gerak (terlalu banyak duduk) dan banyak minuman bersoda.

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2012 jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 8,4 juta jiwa. Jumlah itu akan meningkat mencapai 152 % pada 2030 dengan angka 21,3 juta jiwa.

Salah satu upaya mencegah diabetes melitus adalah dengan mengonsumsi sagu. Jangan khawatir sagu tidak enak di lidah. Sebab, kini tersedia beras analog berbahan sagu. Cita rasanya sangat lezat. Keruan saja beras analog itu lebih sehat. Sagu memiliki indeks glikemik (IG) rendah sehingga lama dicerna dibandingkan dengan nasi.

Indeks glikemik adalah angka yang menunjukkan seberapa cepat karbohidrat diubah menjadi gula. Makin tinggi IG, kian cepat karbohidrat diubah menjadi gula. Oleh sebab itu, bagi penderita diabetes perlu membatasi makan nasi. Indeks glikemik nasi berkisar 80—89 (tergolong tinggi). Sementara nasi analog sagu hanya sekitar 40. Itulah sebabnya orang yang dahulu biasa makan sagu membutuhkan konsumsi nasi jauh lebih banyak agar kenyang.

Pemerintah melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada 2016 meneliti pemberian nasi sagu kepada 20 sukarelawan pradiabetes selama 4 pekan. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Mereka mengonsumsi nasi sagu—nasi yang terbuat dari pati sagu dan diproses dengan teknologi ekstrusi. Produk itu inovasi para peneliti dan perekayasa di Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) BPPT.

Turun signifikan

Melalui bentuk bulir nasi diharapkan konsumen memiliki persepsi makan nasi dan tidak makan sagu yang diolah dalam bentuk papeda—makanan khas Papua dan Maluku. Penderita pradiabetes adalah orang yang kadar glukosa darah sesaat antara 150—200 mg/dl. Bila tidak dikendalikan, dalam 1—2 tahun pradiabetes menjadi penderita diabetes. Suka relawan mengonsumsi 120 gram nasi sagu per hari.

Lauk-pauk bebas kecuali lauk yang mengandung karbohidrat seperti mi, perkedel, dan kerupuk terlarang. Mereka mengonsumsi nasi sagu setiap hari selama 28 hari. Setelah tiga pekan, kadar gula suka relawan turun secara signifikan. Kadar kolesterol dan trigliserida mereka juga turun. Data itu menujukkan bahwa secara ilmiah mengonsumsi nasi sagu secara rutin selama 4 pekan akan memperbaiki kadar glukosa darah, kolesterol, dan trigliserida penderita pradiabetes.

Beras analog berbahan sagu hingga 80%.

Pengaturan kadar gula darah seseorang akan berpengaruh juga terhadap kadar lemak darahnya. Oleh karena itu, sejak 2015 Kementerian Kesehatan Amerika Serikat menghapuskan pembatasan konsumsi lemak dan mengontrol gula darah. Dengan mengendalikan gula darah, kolesterol dan trigliserida juga terkendali. Informasi itu menjadi sangat penting bagi mereka yang ingin hidup sehat.

Penelitian itu juga sejalan dengan hasil riset Wahyuningsih pada 2016. Riset praklinis itu melibatkan tikus percobaan yang dibuat menderita diabetes dan diberi ransum nasi sagu. Setelah 4 pekan gula darah dan lemak darahnya menjadi normal. Turunnya gula darah tikus dan suka relawan karena indeks glikemik nasi sagu yang rendah dan kadar resistant starch (RS) tinggi.

RS adalah serat pangan yang butuh waktu lama dicerna oleh usus sehingga karbohidrat diubah menjadi gula secara pelan-pelan, perubahan kadar glukosa darah secara pelan ini yang dibutuhkan oleh penderita diabetes. Konsumsi nasi sagu dapat menjadi pilihan bagi penderita diabetes. Dengan memanfatkan beras sagu maka potensi sagu Indonesia akan termanfaatkan secara maksimal.

Hutan sagu tersedia luas di beberapa provinsi mulai Papua, Papua Barat, Maluku, Sulawesi Tenggara, dan Riau sebagai lumbug pangan sehat. Dengan memanfaatkan beras sagu maka pangan berbasis lokal akan terangkat dan masyarakat lebih sehat. Dampaknya beban Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan dan Sosial (BPJS) tidak terlalu berat dan penduduk dapat lebih produktif.

BPJS menanggung biaya 3,27 triliun lebih untuk membiayai 382.680 pasien diabetes yang berobat. Para penderita mengalami komplikasi berbagai penyakit seperti luka gangren, gangguan penglihatan, gagal ginjal, penyakit jantung, dan strok.

Kini konsumsi pangan karbohidrat bangsa Indonesia hampir 95% adalah nasi dan harus dipenuhi dari tanaman padi. Kita mengetahui bahwa kini menanam padi makin sulit karena keterbatasan lahan subur dan perubahan iklim. Diperkirakan untuk mendapatkan nasi makin sukar dan tentu dengan harga kian mahal.

Beras sagu terbukti lezat dan menyehatkan. Potensi sagu pun sangat besar. Panen 1 hektare lahan sagu cukup memberi makan seluruh rakyat Indonesia. Padahal, kita memiliki 5,5 juta hektare lahan sagu. Setiap pohon menghasilkan hingga 400 kg tepung. Lagi pula kita tinggal memanen tanpa berkeringat membuka dan membersihkan lahan. Apalagi menanam, memupuk, atau memberantas hama. Dari tepung itulah kita bisa mengolah menjadi beras analog yang menyehatkan.***

*) Peneliti Utama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Bahan Alami untuk Ternak Ayam

Trubus.id—Lazimnya kunyit sebagai bumbu masakan. Namun, Curcuma domestica itu juga dapat menjadi bahan untuk menambah nafsu makan ayam....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img