Wednesday, August 17, 2022

Sang Pengembara dalam Ancaman

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kisah nyata yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa itu amat melegenda, hingga negeri seberang. Penyu juga pengembara ulung, dari laut yang satu ke laut yang lain melintasi batas-batas negara. Sayang, ia tak dapat menyamar—apalagi melawan—hingga pasrah ketika musuh-musuh membantainya. Satwa purba itu senantiasa dalam kondisi terancam.

Ulah para musuh penyu beragam, dari merusak habitat, menjarah telur calon generasi baru, hingga membantai penyu. Ketika lokasi bertelur tak lagi nyaman menyebabkan penyu pun urung. Itu Trubus saksikan pada tengah malam di Pantai Pangumbahan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Beberapa penyu yang sudah mendarat ke pantai berpasir putih, akhirnya kembali ke perairan sebelum bertelur. “Ia merasa tidak aman. Lihat saja di sana kelihatan lampu. Penyu sangat sensisitif,” kata Aan—petugas CV Daya Bakti. Daya Bakti milik H Adang Gunawan memegang konsesi penyu di Pangumbahan sejak 1981. Menurut H Adang Gunawan, direktur

Daya Bakti, kondisi Pangumbahan jauh lebih baik ketimbang lokasi peneluran lain di Sukabumi yang tak dikelola oleh pemegang konsesi seperti Pangumbahan

Meski demikian produksi telur di Pangumbahan terus merosot. Pada 1950, misalnya, mencapai 2.500.000 butir, anjlok menjadi 1.670.000 pada 1967. Tujuh tahun berselang, kembali merosot, hanya 500.000 telur, dan 1990 (365.000). Saat ini jumlah telur per tahun mencapai 275.000 butir. Sentra-sentra penyu lain di Indonesia mengalami hal serupa.

Dari 7 jenis penyu laut di dunia, 4 di antaranya hidup di Indonesia. Dua jenis lain mempunyai jalur migrasi di Indonesia. Pengembara ulung itu terancam punah, terutama penyu sisik Eretmochelys imbricata dan penyu hijau Chelonia mydas. Daging kedua penyu itu, katanya, lezat. Data International Conservation of Nature Resources menyebutkan 50.000 penyu hijau dibantai di Indonesia setiap tahun.

Padahal tingkat kelulusan hidup penyu amat rendah. Bayangkan dari sekitar 1.800 telur yang dihasilkan penyu sepanjang hidupnya, hanya 405 telur yang berkembang sempurna menjadi tukik. Tukik—anak penyu—yang sukses kembali ke laut 243 ekor dan yang bertahan hidup hingga pekan pertama 31 ekor. Lalu yang mampu menjadi penyu dewasa, ya ampun, hanya 3 ekor.

Belum lagi tingkat matang kelamin amat lambat. Penyu baru beranjak dewasa pada umur 25—30 tahun. Di pihak lain, perburuan penyu dan telur terus berlangsung. Jika begitu semua jenis penyu terancam punah. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) memasukkan reptil itu dalam apendiks I. Haruskah penyu-penyu berikut ini hanya menyisakan nama dan legenda?

Penyu abu-abu

Penyu abu-abu disebut juga penyu lekang atau penyu kembang. Lepidochelys olivacea sangat jarang ditemukan. Meski dagingnya tak segurih penyu hijau, tetap saja ia dibantai hingga sekarang. Di Indonesia ia dilindungi sejak 1980. Ukurannya paling kecil ketimbang jenis lain. Panjang karapas cuma 70 cm.

Penyu belimbing

Tubuhnya mirip buah belimbing. Tulang karapas terbentuk dari kepingan-kepingan kecil. Pada karapasnya terdapat 5—7 garis membujur berwarna kuning saat muda dan berubah hitam atau cokelat berbecak putih bila dewasa. Ia sering disebut penyu raksasa karena tubuhnya paling besar—karapas1,8 m dan bobot 300 kg. Pakan favoritnya ubur-ubur.

Populasinya juga terus merosot. Di Trengganu, Malaysia—salah satu lokasi peneluran terbesar—pada 1953 populasi berbiak mencapai 2.000 betina; 1993, Cuma puluhan individu. Di Indonesia persarangan Dermochelys coracea di barat laut Papua. Babi hutan dan pengumpulan telur berlebih menjadi ancaman serius.

Penyu hijau

Banyak ditemukan bertelur di Sukabumi dan Banyuwangi. Ia diburu dan daging dimanfaatkan untuk sup, karapas alias tudung untuk perhiasan rumah tangga. Telurnya paling digemari masyarakat. Ia ditangkarkan di Pulau Ogasawara, Jepang, sejak 1972. Semula daya tetas telur Cuma 25%. Setelah ilmuwan s e t e m p a t c a m p u r tangan, daya tetas meningkat hingga 70%. Kini di berbagai daerah peneluran penyu hijau, populasi merosot tajam, hingga 90%.

Karapas luas, panjang 71—153 cm, berbentuk hati, cokelat gelap mirip buah zaitun. Berbeda dengan kerabatnya, penyu hijau menyantap rumput laut dan tumbuhan laut lain. Penampilannya khas, terdapat sepasang sisik menonjol di antara kedua mata. Kaki-kakainya bergerak melebar dan menghentak kuat. Ia membuat sarang bertelur di tempat dulu ia dilahirkan. Dalam setahun, betina 2—4 kali bertelur.

Penyu merah

Mempunyai jalur migrasi mendekati kepulauan Filipina. Caretta caretta belum pernah ditemukan bertelur di Indonesia. Penyu tempayan—nama lainnya—populasinya amat sedikit. Ia hanya bertelur di Kaledonia Baru (sekitar 100 betina per tahun) dan Australia. Di barat laut Papua Nug i n i dan Solomon, ia terus diburu u ntu k diambil dagingnya.

K a r a p a s berbentuk hati, panjang 7 9 — 1 2 2 cm, cokelat k e me r a h a n . Plastron alias bagian perut kekuningan. Ia mudah dikenali lantaran adanya sisik rusuk di setiap karapas. Penyu tempayan kerap berpindahpindah mencari udang, moluksa, dan ikan sebagai pakan. Itulah sebabnya ia pun acap ikut terjaring nelayan yang mencari udang.

Penyu pipih

Chelonia depressa (atau Natator depressus) menyebar di pulau-pulau sekitar Nusa Tenggara Timur dan Timor-Timur. Ia banyak dimasukkan ke Bali melalui Pelabuhan Benoa. Di Teluk Carpentaria, Australia, penyu pipih terancam oleh babi liar. Populasi babi mendekati jumlah produksi telur. Dalam setahun rata-rata 3.000 induk betina mendarat untuk bertelur.

Penyu sisik

Tubuh terbilang mungil, karapas hanya 90 cm. Sisik karapas tumpang tindih tersusun seperti genteng. Kepala dan paruh mirip burung elang. Yang khas, di kepala terdapat 2 pasang sisik. Kaki depan mempunyai 2 kuku. Habitatnya di terumbu karang. Ubur-ubur, ikan kecil, dan bunga karang santapan lezat baginya. Ia juga terus diburu untuk dimanfaatkan sebagai sup.

Jepang membutuhkan 30 ton bekko alias kulit penyu sisik per tahun. Penyu sisik banyak bertelur di Pulau Penyu, Sabah, Malaka, Johor, Malaysia. Sejak 1992 Eretmochelys imbricata dilindungi di Indonesia. Namun, perburuan tetap terjadi. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img