Wednesday, August 10, 2022

Sanseviera Diburu Sampai Pelosok

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pantas jika Koko perlu bersusah payah melindungi kebun sanseviera itu. Sejak anggota famili Agavaceae itu naik derajat karena digadang-gadang bisa menyerap polutan di udara, ia kerap menjadi incaran para pencoleng. “Kalau tidak dijaga saat akan dipanen bisa-bisa keduluan maling,“ ujar pekebun di Cisarua, Kabupaten Bogor itu.

Kebun Koko didominasi oleh Sanseviera trifasciata laurentii yang memiliki daun ngelacir ke atas berwarna hijau bertepi kuning. Jenis lain berdaun pendek seperti kodok-kodokan dan superba kompak sedikit ditanam. Semua itu dipelihara di atas bedeng berukuran 12 m x 1 m setinggi 10 cm. Untuk kebun 1.000 m2, kelahiran Karawang 19 September 1959 itu mengucurkan dana Rp30-juta. Rinciannya: Rp15-juta untuk membeli 10.000 bibit induk, Rp5-juta sewa lahan selama setahun, dan Rp10-juta untuk pupuk kandang, bedengan, serta tenaga kerja.

Panen perdana diperoleh pemilik Mega Mas Agro Flora Tropical itu setelah 6 bulan. Panen berikutnya dapat berlangsung setiap 4 pekan. Dari panen pertama minimal didapat 3.000 tanaman terdiri 3—5 daun. Untuk jenis laurentii minimal dihargai Rp500 per daun. Dengan asumsi tanaman rata-rata memiliki 3 daun saja, artinya Koko setiap bulan memperoleh 9.000 daun x Rp500 = Rp4,5-juta. Koko sendiri memiliki beberapa kebun yang tersebar di Indramayu, Bogor, dan Sukabumi. “Semua panen dipasok untuk eksportir Korea,” papar suami Kiki Widyanti itu.

Tak terbatas

Dedy Sulaeman di Cianjur pun ikut menikmati laba dari lidah mertua sejak setahun lalu. Lahan seluas 400 m2 itu ditanami sekitar 2.000 golden hahnii yang berdaun pendek kompak berwarna hijau kuning. Dengan harga Rp1.300 per tanaman di tingkat pengepul di Cipanas, ayah 1 putri itu dapat meraup omzet minimal Rp1-juta/bulan. Pilihan Dedy pada jenis berdaun pendek beralasan lantaran ia masih bisa menjajakan di pasar lokal sebagai tanaman hias pot. Harga pun cukup tinggi sekitar Rp10.000 per pot.

Maraknya penanaman lidah mertua sangat terasa di kawasan Bopuncur (Bogor-Puncak-Cianjur). Saat menginjak sebuah perumahan real estate di Desa Cibodas Kecamatan Pacet, Cianjur, misalnya akan tampak hamparan ratusan ribu laurentii. “Total ada sekitar 500.000 tanaman. Semua untuk diekspor,” kata Enoh penanggung jawab kebun itu. Di Kampung Sukatani Pondok Caringin, Cisarua, Bogor, beberapa tempat tinggal menanami halaman samping dengan tanaman perenial itu berpopulasi 300—500 tanaman. Jenis yang ditanam umumnya laurentii.

Ramainya penanaman di Bopuncur lebih disebabkan karena pengepul dan gudang eksportir berada di kawasan itu. “Di sekitar sini (Cianjur, red) bisa ada puluhan pengepul. Semua dikirim ke gudang di Sukabumi,” papar Solihati pengepul besar sanseviera di Kecamatan Sela Jambu, Cianjur.

Menurut pengepul yang terjun sejak setahun lalu itu ia minimal memasok 4.000 daun per minggu. Jumlah itu dirasakan terlalu sedikit dibanding yang diminta eksportir. “Eksportir korea minta sebanyak-banyaknya. Tidak ada batasan. Untuk menambah pasokan kami juga mencari sampai ke Cirebon, Kediri, dan Tulungagung,” tuturnya. Dari setiap pekebun yang menyetor ia berani membeli masing-masing Rp600/ daun ukuran 30cm; Rp700/daun ukuran 35 cm; Rp800/daun ukuran 40 cm; Rp1.000/daun ukuran 45 cm; dan Rp1.300/tanaman ukuran 25 cm. “Kita menjual lagi ke eksportir dengan selisih harga Rp200,” ujarnya.

Perawatan minim

Naiknya popularitas lidah mertua memang baru terasa setahun belakangan ini, terutama sejak eksportir asal Korea rajin menyambangi para pekebun sanseviera. Tanaman yang memiliki sekitar 60 spesies itu diburu lantaran dari berbagai penelitian di Amerika Serikat dan Jepang, ia diyakini mampu menyerap polutan berbahaya di udara. “Di Jepang menurut penelitian, sanseviera dapat menekan polutan seperti asap nikotin dan gas H2S,” ujar Lanny Lingga dari Seederama di Cisarua, Kabupaten Bogor.

Menurut alumnus pascasarjana farmakologi University of New South Wales itu keunggulan sanseviera selain sebagai fi lter polusi, ia pun banyak ragam dan tahan hidup di ruangan ber-AC. “Wajar ia sangat disukai sebagai tanaman indoor di Jepang, Korea, dan Eropa,” ujar Lanny. Meski hampir semua jenis lidah mertua disukai, tapi untuk pasar luar negeri, eksportir lebih memilih jenis yang tahan saat pengiriman, ditemukan dalam jumlah banyak, dan tidak mudah patah seperti laurentii, golden hahnii, silver hahnii, dan moonshine.

Hal senada diakui oleh salah satu eksportir tanaman hias di Cikupa, Tangerang. “Sanseviera disukai juga karena perawatannya terkenal minim,” papar Elda D Adiningrat, direktur PT Bumi Teknokultura Unggul (BTU). Perusahaan yang berdiri sejak Juni 2001 itu setiap bulan mengekspor 3—4 kontainer lidah mertua yang ditata dalam pot ke Korea dan beberapa negara Uni Eropa seperti Belanda.

Untuk menjaga kontinuitas pasokan, selain menanam 20 jenis sanseviera di lahan 10 ha, PT BTU juga menjalin kemitraan dengan 50 pekebun yang rata-rata memiliki luas lahan di atas 1.000 m2. “Setiap pekebun kita beri jenis berbeda, tapi panen mereka harus memenuhi standar ekspor seperti sehat, berukuran 30 cm, dan 1 batang terdiri dari 3 daun,” ujar Elda. Meski demikian PT BTU tetap melayani pasar lokal terutama permintaan rangkaian yang jumlahnya mencapai ratusan pot per bulan.

“Sanseviera sangat disukai karena ia tahan banting sehingga disukai perancang taman untuk border,” papar Chandra Gunawan di Depok. Pemilik Godongijo Nurseri itu mengumpulkan lidah mertua eksklusif seperti jenis variegata, motif, dan berdaun unik. “Selain eksotis, jenis seperti ini memang dijual untuk kolektor,” ujar Chandra yang pernah membeli jenis variegata dari Jepang seharga ribuan dolar itu.

Rentan maling

Sanseviera dikenal sebagai tanaman yang mudah diperbanyak. Nyaris tidak ada kendala budidaya kecuali serangan cacar akibat sarkospora karena pemakaian pupuk kandang ayam belum matang. Cacar menimbulkan corak cokelat berair pada daun. Bila dibiarkan luka tersebut akan membuat daun tampak bolong. “Interval penyebaran penyakit termasuk cepat.” papar Lanny.

Menurut Koko kendala utama berkebun sanseviera saat ini justru ketersediaan bibit dan keberadaan maling. “Sekarang untuk membuka lahan 1 ha dengan populasi 10.000 sangat susah mendapatkan bibit. Kalau mau membuat bibit sendiri dulu,” paparnya. Soal maling? Ini yang paling ditakutkan. Lantaran harga dihitung per daun banyak yang tergiur memakai jalan pintas.

Selama kurun Oktober—Desember 2004 saja misalnya Koko sudah mengalami 6 kali kemalingan. Total sekitar 30.000 tanaman lenyap tak berbekas. Musibah serupa dialami Lanny. Seminggu sebelum panen, kebun berisi 25.000 laurentii di Desa Cigugurbitung, Sukabumi, sudah lebih dahulu dijarah. “Ngga diduga pencurinya malah bermobil Mercedes yang menyewa truk,” ujarnya.

Nasib pengepul pun setali tiga uang. “Saat diangkut, di tengah jalan bisa hilang saat berhenti sebentar,” kata Solihati. Dua pekan lalu saat berhenti sejenak di tengah jalan antara Bogor—Sukabumi untuk mengambil pasokan lain, setengah dari lidah mertua yang dibawa dengan Colt lenyap digondol maling. “Sekarang memang harus lebih hati-hati kalau membawa sanseviera ke gudang eksportir,” ujarnya tersenyum kecut. (Dian Adijaya S)

Polusi Hilang, Sanseviera Terbilang

Mencuatnya pamor sanseviera tak lepas dari lakon baru yang diemban. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh badan antariksa Amerika Serikat (NASA) selama 25 tahun, lidah mertua terbukti mampu menyerap beragam unsur polutan (107 unsur) berbahaya di udara seperti karbon monoksida dan timbal. Menurut penelitian yang dapat diakses di www.zone10.co/tech/NASA/sick.bld. html itu jenis lain seperti dracaena memiliki fungsi serupa sanseviera.

Penelitian NASA yang dipicu maraknya penyakit yang menimpa para pekerja kantoran—sick building syndrome–di negeri Paman Sam itu mengungkapkan peran sanseviera yang mengandung bahan aktif pregnane glikosid dalam mereduksi polutan. Polutan yang diserap akan dihancurkan melalui proses metabolic breakdown menjadi asam organik, gula, dan beberapa senyawa asam amino.

Dalam penelitian lain yang dilakukan Wolverton Environmental Service terungkap sanseviera mampu menyerap senyawa kimia berbahaya seperti kloroform, benzena, xylene, formaldehid, dan tricholoroethylene. Formaldehid misalnya memiliki ambang batas 0.173 µg/liter/9,3 m2. Sebuah ruangan berukuran luas 75 m2 dengan volume udara 22.640 liter rata-rata memiliki kadar formaldehid 3,917 µg/ liter. Jumlah di atas standar itu dapat dikurangi dengan menaruh sanseviera. Hasil penelitian yang hingga kini masih terus berjalan menunjukkan setiap helai daun lidah mertua disinyalir bisa menyerap 0,938 µg/ jam formaldehid. Artinya, untuk ruang 75 m2 saja cukup ditaruh 4 daun sanseviera dewasa agar udara bebas dari polutan. (Dian Adijaya S)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img