Friday, December 2, 2022

Satoimo di Jepang, Talas Safira di Bogor

Rekomendasi

Gerimis sesekali masih menitikkan airnya saat Trubus berkunjung ke kebun pembibitan Biotrop. Kebun seluas 1.500 m2 itu hanya dibatasi pohon kelapa sawit, pisang, dan jati koleksi hasil kultur jaringan. Tanaman perkebunan yang tumbuh besar melindungi lahan percobaan benih dan hamparan bibit hasil kultur jaringan di hadapannya. Bibit dalam polibag tertata rapi di atas tanah merah beratap jaring berwarna hitam di bagian depan kebun.

Di balik peredam sinar matahari itu, bibit-bibit talas safi ra berumur 1-1,5 bulan berjejer manis dalam polibag berdiameter 8 cm. Jumlahnya 15.000 bibit. ‘Yang ini akan ditanam di Gununglawu, Karanganyar, Jawa Tengah, dan Pangalengan, Bandung,’ kata Samsul Ahmad Yani, SSi, peneliti Laboratorium Servis Kultur Jaringan Seameo Biotrop, Bogor.

Mereka memang belia. Yang agak dewasa ditanam di kebun percobaan seluas 300 m2. Tanaman berumur 3 bulan yang ada di sana akan dipanen 3 bulan lagi. ‘Kalau ini akan dibawa ke kebun benih PT Mitra Sentosa Hutama Agro (MSH Agro) di Gadog, Megamendung, Bogor,’ tutur Samsul. Memang, atas keputusan konsorsium yang meminta impor talas ke Jepang, PT MSH Agro ditunjuk sebagai penanggungjawab untuk menghasilkan bibit turunan kedua.

Harga benih hasil tanaman kultur jaringan Rp1.500 per buah dinilai masih mahal. Dengan produksi benih generasi kedua, PT MSH Agro bermurah hati meringankan beban petani talas safi ra dengan menjualnya Rp300 per benih. ‘Kita tidak mensubsidi petani, tetapi dengan cara itu beban petani jadi ringan,’ jelas Rahedi Soegeng, direktur utama MSH Agro. Selanjutnya, bibit akan disalurkan kepada pekebun yang tersebar di Cianjur, Kuningan, Temanggung, Pangalengan, dan Gunung Lawu. Termasuk daerah di sekitar Cisarua, Kabupaten Bogor.

Kultur jaringan

Asal ribuan bibit Colocasia esculenta var. antiquorum itu bukan kiriman dari negeri Sakura, bukan pula dari Cina Selatan. Namun, bibit-bibit itu hasil kultur jaringan yang dikembangkan Laboratorium Servis Seameo Biotrop, Bogor, sejak awal 2005. Tanaman eksplant yang menjadi induk untuk bibit kultur jaringan memang berasal dari bibit impor asal Jepang dan Cina Selatan yang ditanam oleh PT MSH Agro. Semula, semua bibit dipasok dua negara itu. Namun, pada kedatangan perdana, kerusakan bibit mencapai 60%. Akhirnya, dipilih alternatif, tanaman terbaik hasil penanaman bibit impor itu diperbanyak dengan kultur jaringan.

‘Prosesnya memakan waktu 6 bulan,’ tutur Samsul. Tahapan pertama, tanaman eksplant disterilisasi. Mata tunas yang diambil selanjutnya direndam dalam larutan fungisida, bakterisida, dan desinfektan. Setelah dibersihkan kembali dengan air, mata tunas ditanam dalam botol kaca bermedia agar-agar. Duapuluh satu hari berselang, tunas-tunas mungil bermunculan. Pemanjangan tunas terjadi selama 2 pekan kemudian. ‘Semua harus steril. Jika tidak cendawan akan bersarang sehingga bibit gagal dihasilkan,’ kata Samsul. Bakal bibit yang disebut plantlet kemudian dipisahkan satu per satu dan dicuci bersih.

Plantlet kemudian dimandikan cairan fungisida dan bakterisida. Sebelum ditanam dalam wadah baki berisi media tanah steril, bibit dicelup larutan hormon pertumbuhan. Bibit-bibit lalu diboyong ke greenhouse. Dua pekan kemudian dipindahkan ke ruang aklimatisasi. ‘Setelah cukup kuat, tanaman bisa dipindahkan ke lapang,’ ujar Samsul.

Sebulan penanaman, 3-4 helai daun mulai tumbuh. Umbi pun terbentuk ketika tanaman berumur 3 bulan di lapangan. Hingga 3 bulan ke depan, tanaman siap dipanen. Produktivitas tanaman yang dipatenkan menjadi talas safira oleh PT MSH Agro itu 1-2 kg per tanaman terdiri dari 8-12 umbi.

Selain berproduksi tinggi, satoimo berasa enak. Padahal talas disajikan sederhana di atas piring. Hanya direbus tanpa tambahan bumbu. Namun, kepulan asapnya terasa menarik selera. ‘Rasanya gurih,’ kata Samsul. Ternyata, pemimpin Biotrop, peneliti Universitas Padjadjaran, pengusaha asal Indonesia, dan manajer kontrol kualitas perusahaan importir satoimo dari Jepang yang ikut mencicipi, turut mengamini gurihnya rebusan talas itu.

‘Oishii, ne!’ kata Nagashima, manajer kontrol kualitas dari Nosui, importir satoimo dari Jepang seperti dituturkan Rahedi yang ikut dalam pertemuan itu. Kata yang berarti enak dalam bahasa Indonesia itu berujung disetujuinya ekspor perdana satoimo ke Jepang. Pada 16 Februari 2006, satu kontainer berisi 25 ton satoimo dikirim ke Jepang.

Permintaan tinggi

Bukan tanpa alasan Samsul dan Rahedi berpeluh keringat mengembangkannya. Talas jepang itu memang diminta langsung oleh pihak Jepang. Di sana, satoimo biasa mampir di tempura. Masyarakat kelas atas di Jepang menyukainya dalam bentuk rebusan. ‘Mereka mengkonsumsinya tiap hari,’ kata Rahedi. Tidak mengherankan jika konsumsinya mencapai 36,5 kg/kapita/tahun.

Kebutuhan tinggi dan pasokan yang minim menjadi alasan dikembangkannya tanaman itu di Indonesia. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jepang sekitar 360.000 ton/tahun, hanya terpasok 250.000 ton/tahun. Sisanya, sebanyak 110.000 ton/tahun, minus 60.000 ton/tahun yang dipenuhi Cina, jadi peluang pasar ekspor. ‘Sebanyak 50.000 ton/tahun jadi peluang kita,’ ungkap Rahedi. Cina Selatan yang mendapat pangsa pasar terbesar satoimo ke Jepang, pengembangannya masih dibatasi musim dingin dan biaya tenaga kerja yang mahal.

Alasan itu juga menjadi latar belakang dikembangkannya satoimo di Indonesia. Selain tidak dibatasi oleh iklim, satoimo yang dibudidayakan di Indonesia rasanya lebih enak, lebih padat, dan kenyal. Itu berarti peluang bagi pekebun talas di tanah air. (Kiki Rizkika)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img