Monday, August 8, 2022

Satu Sawah Dua Laba

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sistem ugadi memanfaatkan pinggiran sawah untuk membudidayakan udang galahIr Ateng Gurniajaya memanen padi dan udang galah sekaligus di sawah.

 

Ateng Gurnia jaya kini menerapkan ugadi di sawahnya seluas 2.000 m²Udang galah memiliki nilai ekonomi tinggi dibandingkan dengan komoditas ikan air tawar lain. Harganya mencapai Rp50.000 per kgBudidaya UgadiWajah Ir Ateng Gurniajaya terlihat sumringah. Dari sawah 800 m2 Ateng menuai 250 kg gabah kering panen dan 76 kg udang galah. “Ini baru uji coba. Hasilnya masih kurang dari target,” tutur Ateng. Pria 68 tahun itu menargetkan panen 80 kg udang galah dan 500 kg gabah kering panen. Meski begitu, Ateng merasa puas karena pendapatan dari hasil panen itu lebih tinggi ketimbang hanya membudidayakan padi.

Ateng menjual udang galah Rp60.000 dan padi Rp2.500 per kg. Jadi, omzet dari udang galah mencapai Rp4.560.000 dan padi Rp625.000, total Rp5.185.000. Untuk budidaya udang galah, Ateng mengeluarkan biaya pembelian benih Rp150 per ekor. Total jenderal biaya bibit udang seukuran kelingking atau berbobot sekitar 5 g per ekor Rp600.000. Ia memerlukan 4.000 benih untuk areal sawah 800 m2.

Dari benih seukuran kelingking hingga panen perlu waktu 80 hari. Dalam kurun waktu itu Ateng menghabiskan 105 kg pakan berupa pelet tenggelam. Dengan harga pakan Rp8.000 per kg, total biaya pakan udang galah Rp840.000. Adapun  untuk budidaya padi, Ateng hanya menghabiskan 5 kg pupuk NPK. Dengan harga Rp2.800 per kg, biaya pemupukan Rp14.000. Jadi, total jenderal biaya produksi budidaya udang galah dan padi selama 3 bulan Rp1.454.000. Artinya, Ateng meraup laba bersih Rp3.731.000.

Lebih untung

Laba itu lebih tinggi ketimbang keuntungan dari hanya memproduksi padi di sawah yang luasnya sama. Menurut Sony Ali, ketua kelompok tani di Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur, dari sawah 1 ha biasanya petani di sana memperoleh 7 ton gabah kering panen. Dengan harga jual Rp3.900 per kg, omzet petani Rp27-juta. Setelah dikurangi biaya produksi Rp6,6-juta, laba bersihnya Rp20-juta. Bila petani luas tanam hanya 800 m2, maka laba bersih yang diperoleh hanya Rp1.654.000 per musim tanam.

Menurut peneliti Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPPBAT) di Sukabumi, Jawa Barat, Haryo Sutomo APi, kombinasi budidaya udang galah dan padi atau disingkat ugadi dapat mendongkrak pendapatan petani padi. “Ugadi merupakan hasil penelitian dari BPPBAT dan telah diperkenalkan pada petani sejak akhir 2011,” katanya. Mengapa dikombinasikan dengan udang galah? Udang galah memiliki nilai ekonomi tinggi dibandingkan dengan komoditas ikan air tawar lain.

Harga sekilo udang galah Rp50.000-60.000, sedangkan ikan air tawar lain seperti nila hanya Rp10.000. “Pasokan udang galah hasil tangkapan saat ini semakin sedikit sehingga permintaan tidak terpenuhi,” kata Haryo Sutomo. Permintaan satu restoran makanan laut di Kota Sukabumi saja mencapai 100 kg udang galah setiap pekan.

Ateng membudidayakan udang galah dengan memanfaatkan pinggiran sawah. Sebelum menanam  padi, ia membuat parit sedalam 50 cm dan lebar 2 meter dari pematang sebagai lokasi budidaya udang galah. Pembuatan parit itu mengurangi populasi padi dari semula 20.000 rumpun menjadi 14.400 rumpun. Ateng meninggikan pematang dari semula 50 cm menjadi 100 cm dari dasar parit (lihat ilustrasi). “Pematang dibuat lebih tinggi agar udang tidak merayap ke luar sawah,” katanya.

Setelah itu Ateng mengalirkan air hingga lahan sawah macak-macak atau ketinggian air 52 cm dari dasar parit. Ia lalu menanam bibit padi varietas Inpari-13 berumur 20 hari dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Pada budidaya kombinasi udang galah dan padi, dari sejak tanam hingga panen, padi selalu tergenang. Ateng menambah volume air secara bertahap mengikuti tinggi tanaman. “Genangan air dipertahankan sepertiga dari tinggi tanaman,” katanya.

Misalnya, saat tinggi tanaman mencapai 80 cm, maka tinggi genangan sekitar 25 cm dari pangkal tanaman. Menurut peneliti BPPBAT, Ir Kesit Tisna Wibowo SPi, ketinggian air terus ditambah karena ukuran udang semakin besar sehingga membutuhkan ruang untuk tempat hidup lebih luas. Pada kondisi tergenang seperti itu pertumbuhan Inpari-13 lebih baik ketimbang varietas ciherang. “Waktu panen ciherang lebih lama yakni 3,5 bulan,” katanya. Inpari-13 siap panen pada hari ke-90 setelah tanam.

Sekali pupuk

Sepekan setelah menanam padi, Ateng menebar 4.000 bibit udang galah berukuran 5 gram per ekor. Sebagai sumber nutrisi, mantan peneliti BPPBAT itu memberikan pakan berupa pelet tenggelam dengan dosis 5% dari bobot tubuh udang atau 1 kg pakan per hari. Dua pekan setelah tanam, Ateng memberikan 5 kg pupuk yang mengandung 15% nitrogen. “Pemupukan padi hanya sekali. Selanjutnya padi hanya mengandalkan pupuk dari kotoran udang,” ujarnya.

Pada bulan kedua dan ketiga setelah tebar, Ateng mengurangi dosis pakan udang galah masing-masing menjadi 4% dan 3% dari bobot udang. “Pada umur itu udang sudah bisa mencari pakan sendiri, ” kata Ateng. Ia juga menghindari pemberian pestisida agar tidak meracuni udang. Udang galah siap panen pada umur 75 hari setelah tebar. Lima hari berikutnya, Ateng baru panen padi.

Menurut periset di Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Ir Fauzan Ali, sejatinya Ateng dapat meningkatkan keuntungan budidaya udang galah dengan menekan pengggunaan pakan buatan. Caranya dengan menambahkan kompos untuk menumbuhkan mikroorganisme sebagai pakan alami udang. Cara lain dengan membuat pakan alami dari limbah. Sirkulasi air juga mesti dijaga agar udang tidak stres.

Peneliti padi dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang, Provinsi Jawa Barat, Yudistira Nugraha MP mengatakan teknik ugadi mendukung terciptanya pertanian organik. Pemberian bahan kimia seperti pupuk dan pesitisda dapat ditekan sebab sisa pakan dan kotoran udang menjadi nutrisi tambahan bagi padi. “Namun, untuk mengembangkan teknik itu perlu dilakukan secara berulang untuk mengetahui kestabilan hasil panen,” tutunya. Hasil panen itu sudah cukup bagi Ateng untuk membuktikan keberhasilan teknik budidaya udang galah dan padi. Karena itu ia menerapkan cara itu di lahan yang lebih luas yakni 2.000 m2. (Andari Titisari)

 

Keterangan Foto :

  1. Sistem ugadi memanfaatkan pinggiran sawah untuk membudidayakan udang galah
  2. Ateng Gurnia jaya kini menerapkan ugadi di sawahnya seluas 2.000 m²
  3. Udang galah memiliki nilai ekonomi tinggi dibandingkan dengan komoditas ikan air  tawar lain. Harganya mencapai Rp50.000 per kg
Previous articleBenci Lalu Rindu
Next articleMaut Akibat Sisik Nanas
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img