Friday, December 9, 2022

SATWA PUSAKA

Rekomendasi

Uraian singkat tentang rusa ternak (Trubus, April 2012) mendapat sambutan baik dari  Ir H Amran Nur, walikota Sawahlunto, Sumatera Barat. Lulusan Institut Pertanian Bogor itu menyelamatkan rusa lokal di daerahnya. “Dalam waktu tidak terlalu lama, enam rusa sudah berkembang menjadi 25 ekor,” katanya. Rusa-rusa itu meningkatkan pamor Sawahlunto sebagai kota wisata. Baru keberadaannya saja sudah memberi nilai tambah bagi suatu daerah. Itulah jasa pertama dari ternak pusaka.

 

Khusus untuk Sawahlunto, hewan yang dapat diperlakukan sebagai pusaka itu bisa ditambah lagi dengan anjing pemburu. Setiap tahun di kota itu ada lomba anjing pemburu. Harga seekor anjing yang pintar berburu mencapai Rp100-juta. Apa lagi kalau anjing itu sudah memenangkan banyak piala. Belakangan, lomba berburu sudah dikemas menjadi turnamen pacu anjing di stadion kota pusaka itu. Anjing yang sehat, pintar, dan disayangi tentu memberikan hadiah bagi pemiliknya.

Sawahlunto adalah satu di antara 40-an kota yang siap menjadi heritage city alias kota pusaka di tanahair, bahkan di dunia.  Walikotanya adalah ketua dari Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) bersama walikota Solo, Joko Widodo atau Jokowi, sebagai wakilnya. “Rakyat harus diberi tahu apa saja yang bisa menjadi aset, terutama pusaka alam di lingkungannya,” kata Amran. Ia menyadari bahwa setiap daerah, setiap dusun, bahkan setiap orang memiliki satwa pusakanya.

Perkutut keluarga

Betul!  Ada pusaka tingkat nasional, seperti komodo. Ada tingkat provinsi, seperti badak jawa. Ada pula tingkat kota dan tingkat keluarga. Kota Solo terkenal punya kerbau bule yang dipercaya sebagai simbol keselamatan, yang diberi nama Kyai Slamet. Pada hari tertentu, kerbau berwarna putih itu diarak berkeliling kota. Sehari-hari kerbau itu dipelihara dengan baik di kalangan keraton.

Meski begitu, jangan dikira kerbau albino menjadi ternak pusaka di Solo. Justru di Tanatoraja, Sulawesi Selatan, kerbau bule menduduki posisi sebagai ternak pusaka. Harganya bagus, dan selalu dibutuhkan dari acara ke acara. Adapun di Jawa, nyaris semua kabupaten dan kotamadya memiliki “perkutut bird farm”. Periksa saja Surabaya, belasan penangkar perkutut terbaik berjaya di sana. Mengapa begitu? Sebab perkutut adalah pusaka bagi banyak keluarga.

Secara kultural, burung pekutut sudah mendarah-daging di kalangan keluarga Jawa. Oleh karena itu jangan heran, kalau di sebuah rumah sederhana, tergantung sangkar-sangkar perkutut, yang harga setiap ekor ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah. Sejak dahulu, kukila alias burung dan turangga atau kuda  termasuk dua di antara lima pusaka yang dijadikan penanda orang mapan, dewasa. Pantaslah kalau perkutut ikut menjadi pemacu ekonomi, lantaran perlu sarana pendukung dan menggandeng produk- produk turunannya.

Kesadaran untuk melestarikan satwa pusaka ini sebetulnya sudah dicanangkan sejak awal 1990-an. Setiap provinsi diwajibkan memelihara tanaman dan hewan andalan masing-masing. Contoh komodo, satwa Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang menjadi andalan nasional, bahkan pada 2011 terpilih menjadi keajaiban dunia. Promosi satwa provinsi bisa dikembangkan dari dan menjadi satwa kabupaten.

Komodo, misalnya berada di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jadi setiap kabupaten sesungguhnya sudah punya dan bisa mengembangkan ternak, satwa, maupun tumbuhan istimewa masing-masing. Itu bisa dimulai dari udang windu Penaeus monodon di Nanggroe Aceh Darrusalam, sampai kanguru pohon di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua.

Agro-maritim

Khusus untuk udang windu, semestinya dapat menjadi ternak pusaka nasional. Bukankah seluruh provinsi di Indonesia, kecuali Kalimantan Tengah, memiliki pantai? Selama punya aliran air payau, dengan suhu berkisar 26-30oC dan punya lahan untuk pertambakan, udang windu dapat dikembangkan. Budidaya udang windu bukan hanya mengembangkan ternak berbasis air, tapi juga menjaga kelestarian alam. Udang itu tidak boleh terkena pencemaran kimia.

Jangan heran kalau tambak-tambak udang banyak yang telantar karena memburuknya kualitas perairan setempat. Padahal, pada awal 1980-an, udang windu pernah menjadi primadona ekspor dan menghasilkan banyak devisa.

Jadi, langkah strategis yang tidak boleh ditunda adalah memuliakan ternak kelautan sebagai pusaka bahari bangsa Indonesia. Rencana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) melalui pelestarian pusaka, bukan saja menanggulangi kemiskinan, tapi juga melestarikan lingkungan hidup. Ini berlaku mulai dari budidaya udang windu, kerang mutiara, rumput laut, maupun kerajinan kapal dan jala. Itulah sisi yang hampir terlupakan dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan budaya agro-maritim bangsa kita.

Masyarakat pesisir Indonesia diperkuat dengan budaya pertambakan bandeng, ladang-ladang garam, industri petis dan terasi. Sayang benar bila keterampilan itu mulai tersisih. Hal ini ditandai dengan mulai merembesnya garam impor, ikan impor, dan produk-produk kelautan lain. Produk-produk persawahan dan perkebunan juga menghadapi masalah yang sama. Beras, buah-buahan, dan terutama bibit ungggul serta pupuk tanaman mendapatkan penetrasi, bahkan mengarah pada ketergantungan.

Sumber hayati

Kesadaran untuk melestarikan kekayaan lokal di seluruh dunia sesungguhnya baru mulai merebak sejak lima tahun silam. Hal itu ditandai dengan terselenggaranya International Technical Conference on Animal Genetic Resources for Food and Agriculture pada 3-7 Semtember 2007, di Interlaken, Swiss. Pada saat itu dinyatakan terdapat 1.500 jenis sumber pangan yang terancam punah. Sebanyak 190 macam satwa sudah menghilang dari muka Bumi. Lebih memprihatinkan lagi, sekitar 60 jenis ternak: sapi, kambing, babi, domba, kuda, dan ayam punah total, tanpa bekas sama sekali.

Contoh, industri-industri peternakan besar di Amerika Serikat mulai didominasi oleh beberapa jenis yang diangap paling menguntungkan. Dari seluruh sapi perah, 83% merupakan jenis holstein, selebihnya hanya ada lima jenis lain yang kurang diminati. Bayangkan, kalau kita hanya bisa makan pisang cavendish, sedangkan 107 jenis pisang lain hanya tinggal cerita.

Bagaimana kalau pisang emas, pisang tanduk, pisang barangan, pisang susu, raja sereh, dan lain-lainnya punah karena tidak dikebunkan lagi. itulah yang dicemaskan dengan hilangnya sumber-sumber hayati pusaka. Di balik kecemasan dan kesedihan atas hilangnya satwa dan tanaman pusaka, tentu saja, masih ada harapan. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, FAO, pernah memuji Indonesia ketika mencanangkan pelestarian dan pengembangan sapi bali.

Mungkin sama seperti yang dilakukan di pedesaan kita untuk membela dan memperbanyak ayam cemani, ayam tertawa, ayam pelung, ayam arab, dan seterusnya. Saya pernah bercerita bagaimana seekor ayam bekisar betina menyelamatkan keluarga kami. Pada awal 1960-an, nenek saya menyelamatkan seekor anak ayam hutan (bekisar) diterkam musang di tepi hutan jati, Kabupaten Lamongan.

Ayam ini dipelihara dan menjadi indukan, diberi nama Si Bejok dan dibawa ke Malang. Pada masa konfrontasi, ketika para guru terlambat menerima gaji beberapa bulan, ternyata Si Bejok menjadi pahlawan kami. Ia telah bertelur dan menetaskan anak-anaknya. Semua lebih dari 60 ekor. Satu per satu setiap hari nenek menukarkan ayam keturunan bekisar itu dengan beras, minyak, garam, supaya kami bisa bertahan hidup. Itulah ayam bekisar betina, Si Bejok, satwa pusaka keluarga kami.

Jangan lupa juga burung kenari yang menyelamatkan keluarga lain di masa krisis multidimensi saat terjadi Reformasi pada 1997. Harap dicatat juga cemara udang yang menyelamatkan penduduk beberapa desa di Madura, yang gersang dan terancam kelaparan.

Kalau kita menyelamatkan satwa, tanaman, bahkan benda-benda pusaka itu, pada gilirannya mereka akan menjadi pahlawan bagi kita. Bisa di tingkat pribadi, daerah, tanahair, bahkan dunia ini. Selamat memilih apa saja kiranya yang dapat Anda rawat, budidaya, dan lestarikan sebagai satwa pusaka pribadi. ***

 

Keterangan Foto :

  1. Eka Budianta*
  2. Perkutut menjadi satwa pusaka di Jawa
  3. Eka Budianta, budayawan, pengurus Tirto Utomo Foundation dan konsultan Jababeka Botanic Gardens, kolumnis Trubus.
Previous articleHemat Karena Azolla
Next articleGanggang Stop Stroke

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img