Wednesday, August 10, 2022

Sayuran Hidroponik Masuk Desa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Mengemas sayuran hidroponik mesti unik agar menarik minat konsumen.(foto :Koleksi Eko Nurhanudin)

TRUBUS — Pedesaan menjadi pasar baru sayuran hidroponik. Hasil panen terserap oleh masyarakat sekitar kebun.

Omzet petani hidroponik di Desa Sukamanah, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Eko Nurhanudin, mencapai Rp14,4 juta saban bulan. Itu dari hasil perniagaan 24 kg sayuran hidroponik per hari. Uniknya, Eko tidak memasok sayuran ke pasar swalayan di kota besar. “Sekitar 9 kg kangkung terjual ke warung sayuran. Sementara kedai ramen membeli 8 kg pakcoi dan 7 kg selada terjual kepada penjual kebab di sekitar kebun,” kata Eko.

Ia mengemas 200—250 gram sayuran berharga Rp4.000—Rp5.000 per kemasan. Harga Rp5.000 terutama untuk eceran. Nun di Desa Cibodas, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Miftahul Farid melakukan cara serupa. Miftah—panggilan akrab Miftahul Farid—memasok 100 kemasan sayuran hidroponik ke tiga warung di sekitar kebun. Miftah mengemas 200 gram sayuran (kangkung, selada, bayam, dan pakcoi) dan menjualnya Rp4.000 per kemasan.

Hidroponik menguntungkan

Mifathul Farid memasok sayur ke warung sekitar kebun sejak 2019.(foto : Miftahul Farid)

Pasokan 100 kemasan per hari selalu terserap habis. Artinya, omzet Miftah dari perniagaan sayuran tanpa tanah Rp400.000 per hari setara Rp12 juta saban bulan. Pekebun hidroponik sejak 2018 itu mengandalkan 8.000 lubang tanam di lahan 150 m2 untuk memproduksi aneka sayuran. Membuka pasar sayuran hidroponik di desa tidak mudah. Tantangannya pekebun mesti memberikan edukasi mutu produk kepada konsumen.

Produk hidroponik pasti bersanding dengan produk konvensional yang harganya lebih murah 2—3 kali lipat. Produk Miftah hanya terjual 1—2 kemasan dari 10 kemasan yang dijajakan saat memulai usaha. Setelah konsumen mengetahui mutu produk, permintaan melambung hingga 30 kemasan/hari. “Pengenalan produk sekitar 6 bulan. Konsumen mengetahui mutu produk dari mulut ke mulut,” kenang Miftah.

Kini Miftah memproduksi 100 kemasan untuk memasok tiga warung di sekitar kebun. Lubang tanam pun meningkat yang semula 2.000 unit menjadi 8.000 unit. Eko pun mengalami kendala serupa saat kali pertama memasok sayuran hidroponik ke warung di sekitar kebun. Ada 2—3 kemasan yang dikembalikan per hari. Selang 2 pekan, hasil panen laku terjual dan jumlahnya cenderung meningkat.

Menurut Eko pasar lokal di sekitar kebun amat potensial jika konsumen mengenal mutu produk hidroponik. Andai ada 100 petani hidroponik baru dengan 8.000 lubang tanam di Kecamatan Majalaya, produk sayuran hidroponik pasti ludes terjual hanya di kawasan itu. Kunci sukses lainnya kemasan produk mesti menarik. Dengan begitu konsumen bisa mengenali produk sayuran hidroponik.

Lantas apakah pekebun mendapatkan untung dengan menjual produk hidroponik di perdesaan? Harap mafhum, budidaya sayuran sistem hidroponik memerlukan biaya produksi relatif mahal. Menurut Eko biaya produksi sayuran hidroponik Rp5.000—Rp6.000 per kilogram. Keuntungan yang didapat Eko dan Miftah pun relatif besar. Menurut praktikus hidroponik di Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, Charlie Tjendapati, anggapan pasar hidroponik hanya berpusat di perkotaan tidak benar.

Ceruk pasar tinggi

Charlie Tjendapati (kiri) dan Eko Nurhanudin.

Pengalaman Miftah dan Eko membuktikan dengan cara yang kreatif dan inovatif, pasar besar justru berada dekat di sekitar kebun. Tidak hanya Eko dan Miftah yang meraih laba berhidroponik di perdesaan. Heri Sutikno berkebun sayuran hidroponik di Banjarsari Wetan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sejak April 2020. Kebun hidroponik seluas 530 m2 itu berisi 13.000 lubang tanam.

Heri membudiayakan 13 jenis sayuran dan herba antara lain selada, bayam, kangkung, dan siomak. Permintaan tertinggi aneka sayuran untuk masakan Tiongkok seperti siomak. Kapasitas produksi kebun Heri 1,3 ton saban bulan. Harga jual sayuran hidroponik eceran di Banyumas sekitar Rp35.000 per kg. “Awalnya sedikit pesimis karena pandemi, ternyata permintaan di luar perkiraan,” kata pemilik Healthy Fresh Farm itu.

Kapasitas produksi itu baru memenuhi sekitar 60% permintaan. Jika ia menambah 5.000 lubang tanam lagi pun hasil panen pasti terserap. Semula Heri menargetkan hasil panen memasok pasar swalayan di sekitar Banyumas. Ternyata banyak pembeli datang langsung ke kebun. Akhirnya 40% hasil panen memasok pasar swalayan dan 60% untuk pembeli yang datang ke kebun. (Muhamad Fajar Ramadhan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img