Sunday, November 27, 2022

Sayuran Sehat dari Kaki Pakuwojo

Rekomendasi

Kentang, wortel, dan tomat rutin dipanen 2 kali dalam sepekan sebanyak 100ƒ200 kg. Selain sayuran, dikembangkan pula stroberi dan krisan. Produk sehat itu kian digemari konsumen. “Rasanya lebih kres, manis, dan awet,” ujar Lia, pelanggan setia sayur organik di bilangan Pasarminggu, Jakarta Selatan.

Stroberi dijual Rp4.000 per kemasan isi 10 buah. Peminatnya antre. Sayang produksi hanya 3 kg per bulan. Berkah kebun juga dirasakan kalangan masyarakat. Pasalnya, di kebun itu kerap dilaksanakan pelatihan konsep pertanian terpadu yang diikuti praktisi, akademisi, dan masyarakat umum.

Terpadu

Total jenderal terdapat 10 jenis sayuran yang ditanam dalam bedengan-bedengan. Ukuran guludan bervariasi, lebar 1 m dan panjang tergantung kondisi lahan. Kebun itu dikelola secara terpadu. Petak-petak sayuran dibuat dengan luas yang berbedabeda. Tanaman yang rentan serangan hama ditempatkan di rumah plastik. Di sekeliling tepi petak ditumbuhi tanaman perangkap hama dengan warna mencolok serta beraroma seperti bunga tahi kotok Tagetes sp. dan citronella alias daun serai. Tujuannya untuk menghalau hama. Pergiliran tanaman berbeda famili dilakukan untuk mengurangi serangan hama.

Tanaman dibudidayakan secara tumpang sari maupun tumpang gilir sesuai kaidah pertanian organik. Contoh, kubis ditanam dekat tomat. Aroma daun tomat yang menyengat bisa jadi benteng bagi kubis. Ulat Plutella xylostella—hama utama kubis—menyingkir begitu mencium aroma tajam.

Kebun itu menerapkan konsep terpadu. Pembuatan dan bahan pupuk organik, pestisida nabati dilakukan di kebun. “Kami mengusahakan sistem pertanian terpadu  secara total di sini,” ujar ketua Asosiasi Produsen Organik Indonesia (APOI) itu. Untuk kotoran ternak, didapat dari kambing, ayam, dan itik yang dipelihara di 3 unit kandang. Bahan-bahan alami untuk pembuatan pestisida nabati dan pupuk organik disediakan secara alami oleh alam. Contoh gulma, seperti babadotan dan kirinyuh dibiarkan tumbuh subur dimanfaatkan sebagai pestisida nabati.

Prihatin

Purbo Winarno, pengusaha kontraktor di Jakarta tergerak membuka kebun organik lantaran prihatin melihat pemanfaatan pestisida jor-joran di sana. Dampaknya, produksi pekebun kentang setempat yang menggunakan pestisida secara sembrono malah anjlok. Dari rata-rata 16—18 ton/ha menjadi 8 ton/ha.

Itulah sebabnya di penghujung 1998 kebun organik di ketinggian 1.100 m dpl itu dibuka. Semula ia ragu dengan gagasannya. Bukan apa-apa, animo masyarakat untuk berkebun organik amat rendah. Tren itu justru marak dari luar kawasan Dieng, yaitu Yogyakarta, Temanggung, dan Jawa Timur. Namun, Purbo Winarno gigih memperkenalkan sisitem budidaya organik dengan mengadakan lokakarya, seminar, dan pelatihan rutin. Usahanya berbuah manis. Pada 24 Desember 1998, Drs MargonoƒBupati Kabupaten Wonosobo kala ituƒmeresmikan Pusat Pelatihan Pertanian Terpadu dan Akrab Lingkungan (P3TAL).

Saat itu Winƒdemikian ia disapaƒmemperkenalkan pertanian organik melalui demplotisasi dan pelaksanaan pelatihan pada 1998. Dengan berbagai kendala yang dihadapi tak membuat penyebaran organik menjadi surut. Win bertekad untuk mengembangkan sistem budidaya organik. Alumni pelatihan P3TAL banyak yang menjadi p r o d u s e n o r g a n i k . Sebut saja p e k e b u n umbi organik di Brastagi, sayur organik di Riau, dan Sorong, Papua.

“Demplot yang dibangun guna mencari konsep yang tepat,” ujar Sunarko, pengelola lapangan P3TAL. Beberapa perlakuan dilakukan: organik, semi organik, dan konvensional dengan luas demplot bervariasi dari 1.000ƒ5.000 m2.

Win mencoba 30 jenis tanaman untuk dikembangkan. “Kita mencari jenis tanaman yang cocok untuk dikembangkan di sini,” tutur ayah dua putra itu. Setahun berselang, kebun di kaki Gunung Pakuwojo itu sepenuhnya perlakuan organik. Hasil evaluasi menunjukkan lahan berketinggian 1.100 m dpl itu hanya cocok untuk sayuran. Sedangkan tanaman pangan tidak berproduksi optimal. Diduga karena intensitas matahari kurang. Maklum saja, di sana hujan menyiram hampir setiap hari; 3 bulan kering dalam setahun.

Pasar Jakarta

Para petani sekitar lambat laun tergiur untuk meniru sistem pertanian bebas residu itu dengan komoditas beragam. Contoh, di Desa Kejajar terhampar 0,5 ha stroberi dan di dataran tinggi Dieng tersebar beragam kebun sayuran organik. “Kurang lebih ada 5 petani yang beralih organik,” tutur Heni Budi Utami, sekretaris P3TAL. Masing-masing memiliki luasan 0,5.ƒ1 ha.

Untuk mempermudah pemasaran, pada 2000, bupati membuka gerai khusus produk organik di pasar tradisional di Wonosobo. Letak yang kurang strategis menyebabkan gerai pindah ke alun-alun kota. Tempat itu disebut Pasar Rebo Organik karena  dibuka setiap Rabu. Sayang, gerai itu hanya mampu bertahan 2 tahun karena kurangnya pasokan.

Sejak itu Win memasarkan seluruh produksi ke Jakarta. Itu dilakukan karena masyarakat Jakarta lebih welcome terhadap produk organik. Selain itu, kantor pusat pelatihan juga berlokasi di Klender, Jakarta Timur, sehingga memudahkan pemasaran dengan sistem antar itu.

Tak selamanya jalan mulus dinikmati Win. Kendala pengembangan pertanian organik di sana adalah kondisi cuaca pada musim hujan. Hujan terus-menerus sering membuat kebunnya hancur terkena gempuran hama. Produksi melorot hingga 50%. “Kita masih mampu bertahan, tetapi bagaimana dengan nasib para petani?” ujar pria 43 tahun itu.

Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Banyak para petani organik yang telah dibina tak sanggup menahan melorotnya produksi akibat cuaca. Beberapa dari mereka kembali mengolah secara konvensional. Menurut Sunarko peralihan itu juga disebabkan karakter para petani yang termanjakan dengan produk sintetis sehingga tak telaten berorganik. (Pupu Marfu’ah)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img