Thursday, December 8, 2022

Seabad Leci di Dusun Monggal

Rekomendasi

Belasan pohon berbatang raksasa tumbuh menjulang tinggi. Meski jarak antarpohon mencapai sekitar 10 m, tajuk yang rimbun telah bersinggungan. Dahandahan utama yang besar-besar “menjari” ke seluruh penjuru mata angin. Kesan sejuk pun langsung menyergap. Apalagi ditingkahi semilir angin yang berembus perlahan.

Pada pertengahan April itu pemandangan di kebun Inaq Rahmah didominasi warna hijau. Namun, cobalah berkunjung ke sana pada November—Desember. Saat itulah buah-buah merah nan ranum bergelayutan di setiap ujung tajuk tanaman. Ya, kala penghujung tahun tiba leci tengah panen raya di Dusun Monggal Atas.

100 tahun

Dusun Monggal Atas memang tak seterkenal Pantai Senggigi nan eksotis. Atau Gunung Rinjani yang menjadi obsesi para pendaki untuk ditaklukan. Pun selatselat jernih di antara Gili Trawangan dan Gili Meno yang disukai para penggemar oalahraga selam. Monggal Atas yang menjadi bagian dari Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Barat, itu terletak di bagian utara Pulau Lombok. Ia seperti tersembunyi di kaki Gunung Rinjani

Pantas tak banyak yang menduga di sana tumbuh leci Litchi chinensis. Jangankan kaum pendatang, penduduk asli pulau berbentuk topi tinggi khas bangsawan pria Inggris itu pun tak semua tahu keberadaan kerabat lengkeng itu. Padahal penanaman anggota famili Sapindaceae itu melintas jarak seabad silam. Adalah Hook Liem, seorang warga keturunan Tionghoa, yang membawa leci ke Dusun Monggal Atas. Selaku pemegang hak guna usaha (HGU) lahan di bawah Dinas Kehutanan Lombok Barat ia tak sekadar mengambil hasil hutan berupa kayu.

Bea’ang—begitu Hook Liem biasa dipanggil—menanam kopi, kakao, kelapa dan tanaman hortikultura seperti alpukat, nangka, pisang, salak, dan rambutan. Leci yang masih belum dikenal warga setempat pun tidak ketinggalan.

Tanaman asal negeri Tirai Bambu itu pun tumbuh subur. Itu terlihat dari sosok tanaman yang kini meski tua tapi tetap terlihat kokoh. Maklum Monggal Atas yang terletak di ketinggian 600 m dpl dengan suhu rata-rata siang hari 28—300C cocok untuk leci. Memasuki Juni—Juli, bungabunga berwarna putih yang menebarkan aroma harum mulai bermunculan. Buah berwarna merah marun cerah dituai pada November—Desember.

Desa tetangga

Sampai kini, total jenderal 17 pohon peninggalan Hook Liem masih berproduksi. Dari pohon-pohon berumur seabad itu setiap musim panen Inaq Rahmah memanen 700—1.000 kg. Perempuan berumur itu memang diserahi kepemilikan kebun saat Belanda meninggalkan Indonesia dan hak guna tanah atas nama Hook Liem berakhir.

Inaq Rahmah menjual kerabat rambutan itu secara borongan. Harganya sekitar Rp10.000 per kg. Anak keturunan Hook Liem yang masih tinggal di sana pun kerap memesan leci dari Inaq. Meski harga jual relatif tinggi, mereka yang pernah mengenal leci monggal tak surut niat untuk membeli. Rasa quenepe chinos—sebutan di Haiti—itu manis menyegarkan dan harum. Lagipula bila dibandingkan dengan harga leci impor, lin chi dari dusun di kaki Rinjani itu tetap lebih terjangkau.

Dari lahan seluas 0,3 ha di kebun Inaq, leci monggal pun menyebar ke desa-desa tetangga. Misal di Selelos dan Genggeleng. Di sana leci ditanam di pekarangan-pekarangan rumah dan halaman-halaman sekolah. Dari penuturan penduduk setempat, mereka menanam dari bibit asal cangkokan dan biji. Kini umur tanaman di “daerah baru” itu sekitar 25 tahun.

Potensi

Sosoknya belum seraksasa leci di kebun Inaq. Di sana rata-rata tinggi tanaman mencapai 10 m dengan diameter batang 40 cm. Bandingkan dengan pohon warisan Hook Liem yang batang utamanya saja sudah dua pelukan orang dewasa. Nantinya, tanaman-tanaman baru itu diharapkan menggantikan pohon-pohon peninggalan Hook Liem.

Maklum setelah melewati 100 tahun kondisi tanaman tidak seprima dahulu. Pada beberapa pohon terlihat bekas pemangkasan berat pada cabang primer. Itu untuk membuang bagian tanaman yang sakit atau tidak lagi produktif.

Sayang, penyebaran ke daerah lain belum ditemukan. Maklum leci membutuhkan kondisi iklim spesifi k agar mau berbunga dan berbuah. Salah satunya suhu rendah untuk memacu pembungaan. Lokasi dengan agroklimat seperti itu di Lombok hanya ditemukan di wilayah-wilayah di kaki dan lembah Gunung Rinjani. Dari pengamatan penulis, daerah seperti Sesaot, Tinumbuh di Kabupaten Lombok Timur serta Desa Sembalun dan Kotaraja di Lombok Barat potensial sebagai sentra baru. (Ir Husnul Fauzi, Wardi SP, dan Maisin SP, Balai Pengawasan dan Sertifi kasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Nusa Tenggara Barat)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img