Friday, December 2, 2022

Seabad Pasar Lelang

Rekomendasi
Ing Joost Naber (kanan), marketing specialistFlora Holland
Ing Joost Naber (kanan), marketing specialist
Flora Holland

“Selesai!” seru marketing specialist rumah lelang Flora Holland, Ing Joost Naber. Dalam lima detik, tiga rak kalanchoe itu terjual dengan harga terbaik.

Pagi itu pada pukul 08.36 waktu Naaldwijk, Belanda, Trubus memasuki salah satu ruang lelang di pasar lelang terbesar di dunia, Flora Holland. Di dalamnya deretan bangku dilengkapi meja dengan komputer tersusun rapi dalam barisan seperti susunan bangku di bioskop. Makin ke depan posisinya makin ke bawah. Di bagian terdepan dua layar lebar berisi gambar jam terpampang di dinding.

Seorang pria dengan komputer di mejanya duduk di bawah layar. “Dialah master lelang yang mengatur proses lelang di ruang ini,” kata Joost. Pagi itu Joost meminta pelelangan yang biasa beroperasi setiap pukul 06.00-08.00 dihentikan sejenak supaya Trubus bisa menyaksikan proses penjualan itu. “Nah sekarang pelelangan siap dimulai lagi,” kata pria berpengalaman kerja selama 32 tahun di Flora Holland. Sebuah troli berisi tiga rak kalanchoe pun keluar dari sebuah liang di bawah layar.

Lima detik

Kalanchoe produksi kebun Aad Vreugdenhil
Kalanchoe produksi kebun Aad Vreugdenhil

Jam di layar segera memampang informasi mengenai jenis kalanchoe, jumlah tanaman, asal kebun, dan foto close up tanaman dimaksud. Serta-merta para perwakilan pembeli yang duduk di deretan kursi mengajukan penawaran harga. Pergerakan harga berdasar penawaran para pembeli terpampang di layar. Harga jual dihitung per batang tanaman.

Dalam hitungan detik, tanaman terjual kepada pembeli dengan penawaran harga terbaik. Di belakang troli kalanchoe segera menyusul troli-troli berisi krisan, anthurium, dan tanaman hias lain, siap untuk dilelang. Rata-rata hanya butuh waktu 5-10 detik untuk menjual satu troli. Begitulah suasana di ruang lelang Flora Holland setiap hari, Senin-Jumat, sepanjang tahun.

Hari itu sebanyak 4.000 troli bunga potong dan 2.500 troli tanaman pot terjual dengan nilai transaksi mencapai 14-juta euro setara Rp140-miliar. Pada hari-hari sibuk seperti pada musim semi Maret-April jumlah penjualan melonjak hingga 11.000 troli per hari. Pada Juli penjualan biasanya menurun karena memasuki masa libur musim panas. Orang lebih memilih berlibur daripada menghabiskan uang untuk tanaman.

Dari jumlah itu sebanyak 60% berupa bunga potong; 40% tanaman hias dalam pot. Di kategori bunga potong mawar paling banyak terjual (35%), diikuti krisan, tulip, hebras, dan lili. Sementara lima besar tanaman dalam pot adalah anggrek, kalanchoe, drasaena, anthurium bunga, dan krisan. Dari ruang lelang troli-troli itu bergerak menuju area pendistribusian, lalu berbaris di lokasi tertentu dengan tanda lampu merah atau hijau. “Hijau berarti sudah boleh didistribusikan,” kata Joost.

Terminal

Para pekerja yang mengemudikan mobil-mobil kecil berseliweran mengambil troli-troli itu. Di kepala mereka terpasang headset yang terhubung dengan komputer. Mereka lalu memindai barcode di masing-masing troli, lalu komputer akan menginformasikan identitas pembeli. Dengan teknologi yang mulai diterapkan sejak Februari 2012 itu Flora Holland menjamin ketepatan pengiriman produk ke pembeli.

Pekerja pun membawa troli ke lokasi tertentu tempat pembeli mengambil troli dengan kontainer-kontainer mereka. Besok pagi produk-produk hasil lelang hari itu sudah ada di toko-toko bunga di seluruh Eropa. Harap maklum pasar lelang ibarat terminal dari semua produksi tanaman hias di Belanda. Pekebun memanen komoditas hari ini, mengemas dengan kemasan yang sudah ditentukan oleh pasar lelang sehingga produk tidak perlu berpindah tempat lagi hingga ke tangan konsumen.

Jam lelang model kuno
Jam lelang model kuno

Lalu pekebun mengantarkan hasil panen ke tempat pelelangan pada sore sehingga siap untuk proses lelang keesokan harinya. Begitulah kegiatan yang Trubus lihat saat mengunjungi antara lain kebun anthurium bunga milik Nic van der Knaap, kalanchoe kepunyaan Aad Vreugdenhil, dan kebun mawar potong Marjoland dalam kunjungan selama 8 hari ke Belanda pada pertengahan 2012.

Selama penyimpanan petugas mengatur kondisi lingkungan yang paling tepat untuk setiap komoditas. Misal mawar disimpan dalam suhu 2oC dan krisan 6oC. Pagi hari tepat pukul 06.00 pelelangan dimulai. Di pasar lelang seluas 100 ha itu terdapat 3 ruang dengan 7 jam untuk pelelangan bunga potong dan 3 jam untuk tanaman pot. Seratus tahun lalu jam digital itu masih berupa jam kinetik yang sangat kuno dengan banyak lampu disesuaikan jumlah pembeli. Para pembeli adalah mereka yang memiliki perusahaan di Belanda. Mereka boleh mengikuti proses jika memiliki garansi bank untuk menjamin kemampuan bayarnya.

Jerman terbesar

Dari rumah lelang barulah produk-produk pekebun menyebar ke berbagai negara di Eropa. Pasar utama ialah Jerman dengan pasokan 1/3 dari produk yang terjual di pasar lelang, kemudian disusul Perancis, Inggris, Rusia, Italia, dan Belgia. “Hanya sedikit penjualan ke pasar Asia, misalnya Jepang,” kata Joost. Di negara-negara tujuan ekspor itu tanaman hias masuk ke florist, pasar swalayan, atau garden center.

Mawar, bunga potong paling banyakdiperjualbelikan di pasar lelang
Mawar, bunga potong paling banyak
diperjualbelikan di pasar lelang

“Pasar florist mencapai 75%, sisanya 25% pasar swalayan,” kata Joost yang antara lain bertugas melakukan investasi tentang apa yang dibutuhkan pasar ekspor sehingga Flora Holland bisa menyiapkan barang sesuai kebutuhan pembeli. Empat puluh tahun lampau kebutuhan itu didapat dari para pekebun di Belanda. Belakangan pasar lelang dengan 1.700 pekerja itu juga menerima pasokan dari mancanegara. Pasokan dari mancanegara terutama untuk bunga potong.

Sementara tanaman pot dari areal dekat pelelangan sebab bersifat bulky (media tanam berat sehingga ongkos pengiriman mahal). Untuk mawar, misalnya, 50% dipasok dari Kenya, dendrobium dari Thailand, punnica dari India, daun potong dari Srilanka, dan bambu dari China. Total jenderal ada 16 negara pemasok dengan kontribusi pasokan 30%, sisanya masih dari Belanda.

Semula pemasok mancanegara menyediakan tanaman yang tidak bisa diproduksi di Negeri Kincir Angin. Namun kini aturan itu melentur, pemasok luar juga bisa memproduksi tanaman yang sama dengan yang dikembangkan di Belanda. Syaratnya pemasok harus bisa menjamin kualitas dan kontinuitas produksi. Dengan cara seperti itu Flora Holland menjadi one stop shopping center yang menyediakan banyak pilihan tanaman.

Sistem pemasaran dan stok global membuat kondisi dunia turut mempengaruhi transaksi jual beli di pasar lelang. Dua tahun lalu, misalnya, stok mawar potong sempat kosong selama beberapa lama karena pesawat dari Afrika tidak mampu terbang ke Eropa karena terhadang asap tebal akibat letusan gunung berapi di Islandia. Kondisi itu membuat harga gerbera tiba-tiba melonjak.

Harap maklum pasar lelang menawarkan hebras sebagai pengganti mawar. Untuk menjaga kepercayaan para pembeli, pasar lelang menerapkan peraturan ketat. Misal pekebun wajib membayar royalti atas produk yang diproduksi. Jika tidak, pasar lelang yang memusnahkan barang itu.

Petani sayuran

Negeri Kincir Angin memiliki 6 rumah lelang. Rumah lelang tertua di Alsmeer yang mulai beroperasi pada 1911. Sementara rumah lelang di Naaldwijk dibangun pada 1923. Cikal-bakal terbentuknya pasar lelang bermula dari keresahan para pekebun sayuran. Ketika itu mereka menjual langsung hasil panen sayuran kepada pembeli grosir. Posisi tawar petani terhadap pembeli rendah karena menjual sendiri-sendiri.

Pihak pembeli bisa dengan sepihak menyebut kualitas produk petani buruk, kondisi pasar tidak bagus, atau permintaan sedikit sehingga hanya mau membeli dengan harga murah. Akibatnya pekebun mengantongi hanya sedikit keuntungan. Beberapa di antara petani itu lalu saling bertemu, berdiskusi tentang standar kualitas, harga yang layak, dan kondisi pasar.

Dari diskusi itu mereka sepakat untuk mengundang para pembeli ke satu lokasi tertentu. Para petani datang membawa produk masing-masing yang akan ditawar secara terbuka di sana. Maka sejarah pelelangan pun dimulai. Diawali dengan produk sayuran, kini pasar lelang yang dimiliki para pekebun besar itu diperuntukkan untuk penjualan tanaman hias.

Memasuki era internet kini banyak perubahan terjadi. “Kini makin banyak orang tidak datang ke ruang lelang, lebih banyak orang yang berdiam di kantor mereka tapi punya komputer yang terhubung dengan jam lelang melalui jalur internet,” kata Joost. Dari kantor masing-masing mereka melakukan penawaran, membeli, dan memastikan produk yang dibutuhkan dalam genggaman. (Evy Syariefa)

 

Keterangan Foto :

  1. Pada musim ramai (musim semi, April-Mei) setiap hari terjual 11.000 troli
  2. Kalanchoe produksi kebun Aad Vreugdenhil
  3. Jam lelang model kuno
  4. Mawar, bunga potong paling banyak diperjualbelikan di pasar lelang
  5. Flora Holland seluas 100 ha di Naaldwijk
  6. Suasana di ruang lelang, pelelangan dimulai setiap pukul 06.00
  7. Semua produksi tanaman hias di Belanda dijual melalui pasar lelang
  8. Sebanyak 75% produk lelang masuk florist; 25% pasar swalayan
  9. Proses pendistribusian hasil lelang kepada para pembeli
  10. Ing Joost Naber (kanan), marketing specialist
    Flora Holland

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Balitbangtan Menjajaki Kolaborasi dengan Turki atas Keberhasilannya Sertifikasi Varietas

Trubus.id — Balitbangtan yang telah bertransformasi Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) mulai memperkuat jejaring internasional salah satunya dengan kunjungan ke...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img