Tuesday, November 29, 2022

Sebuah Taman Paling Berbeda

Rekomendasi

Taman atap di paviliun Bulgaria, miring 45oPaviliun bernomor 98 itu menuai decak kagum. Belgia hadir dengan taman atap yang miring hampir 45o.

Pemandangan menakjubkan terlihat dari atas sky train yang membawa Trubus membelah langit di atas area pesta florikultura Floriade 2012 di Venlo, Belanda. Di sebuah sudut area terlihat sebuah taman berbentuk segitiga samasisi yang menghampar kira-kira seluas lima kali lapangan bulutangkis. Bukan cuma paduan rerumputan, tanaman berbunga, dan perdu yang ditanam apik yang menjadi pusat perhatian. Taman itu miring, menanjak, naik dengan sudut  45o!

Taman menjadi atap paviliun Belgia dalam acara pameran sepuluh tahunan itu. “Ini contoh roof garden yang benar-benar berbeda,” tutur Dr Ir Nizar Nasrullah, MAgr, ahli tanaman lanskap di Institut Pertanian Bogor, saat melihat foto taman miring itu. Istilah roof garden atau top garden biasa dipakai untuk menyebut taman yang posisinya berada di bagian atas bangunan. Biasanya posisi taman rata mendatar, mengikuti bentuk dak rumah. Taman atap di paviliun Belgia justru miring.

Taman terlihat cantik dengan gradasi ukuran dan warna rerumputan, kehadiran tanaman berbunga merah, putih, dan merah muda di beberapa titik, serta pepohonan di bagian terbawah. Menurut Nizar susunan tanaman pada sebuah bidang layak disebut taman jika terdapat aktivitas manusia di dalamnya. Dari gerbang taman di sebuah sudut segitiga, pengunjung bisa berjalan naik menapaki jalan yang berkelok menuju pintu masuk paviliun yang letaknya kira-kita di setengah tinggi atap.

Selain itu ada proses tumbuh kembang tanaman. Dari kejauhan terlihat selang-selang irigasi-media untuk pengairan dan pemberian nutrisi tanaman-mengular dari sisi satu ke sisi lain taman atap miring itu. Taman atap Belgia itu kian ciamik dengan kehadiran pilar penopang atap. Pilar ikut menopang beban berat taman di atap. Dengan sederet keunikan itu paviliun Belgia salah satu yang ramai didatangi pengujung Floriade.

Makin populer

Taman atap Belgia menjadi secuil contoh peragaan taman tak biasa di pameran di lahan seluas 65 ha itu. Di sudut lain sebuah rumah kayu yang biasa dibangun di padang rumput, juga beratap hijau. Rumput tebal ditata tumbuh berselang-seling dengan panel surya penangkap energi sinar matahari. Nizar menyebutnya top greenery.

Bedanya dengan top garden, pada konsep pertama tanaman memiliki fungsi ekologis sebagai sumber oksigen dan estetika. “Pada top garden ada aktivitas manusia yang terlibat, seperti berjalan dan duduk-duduk. Selain itu ada unsur penyusun taman berupa hard material, seperti bangku, lampu taman, serta soft material yaitu tanaman dan air,” papar doktor alumnus Chiba University, Jepang, itu. Untuk membuat roof greenery biasanya menggunakan bantuan media khusus. Kehadiran panel surya menjadi sumber energi ramah lingkungan.

Dinding rumah kayu itu pun hijau ditanami aneka semak. Inilah rumah dengan perpaduan hijau di atap dan hijau di dinding. Kedua konsep taman tak biasa itu-roof garden dan vertical garden-tengah populer di berbagai belahan dunia. Menurut Nizar perbedaan keduanya antara lain pada teknik dan media yang digunakan. “Vertical garden biasanya menggunakan modul atau kotak media tanam yang sudah terfabrikasi yang ditempelkan di dinding sebagai tempat menanam. Sementara pembuatan top garden sama seperti taman biasa tapi pengerjaan di atas bangunan dan menggunakan media lebih ringan,” tutur dosen mata kuliah Tanaman dan Ruang Terbuka Hijau itu.

Patrick Blanc, botanis dan periset dari Perancis, menjadi pelopor taman vertikal pada 1980-an dengan memakai konsep hidroponik. Selanjutnya tren roof dan vertical garden terus menjalar ke seluruh dunia. Ajang pameran Singapore Garden Festival 2010 salah satu yang membuat taman vertikal menggema di Asia Tenggara. Negeri Singa itu juga yang paling gencar menumbuhkan ruang hijau ke atas itu.

Maklum lahan terbuka di negeri mini seluas Jakarta itu terbatas, tapi Singapura bercita-cita menjadi kota di dalam taman, city in the garden. Artinya ruang hijau lebih banyak ketimbang bangunan. Maka di Singapura ruang hijau pun dengan mudah ditemukan di berbagai tempat. Wartawan Trubus Imam Wiguna menikmati taman vertikal di Terminal 3 Bandara Changi dan mal Orchard Central Singapura.

Multimanfaat

Kehadiran taman atap dan vertikal membuat lingkungan menjadi lebih sejuk. Sebuah riset di Universitas Nasional Singapura menunjukkan permukaan taman vertikal misalnya mampu menurunkan suhu ruang sebesar 12oC dibanding dinding telanjang pada siang hari pukul 12.00-13.00. Taman vertikal juga mampu meredam suara bising hingga 9,9 dB. Fungsi lainnya, kehadiran tanaman mampu menurunkan polusi udara.

Di tanahair, taman atap dan taman vertikal juga kian populer. Berbagai gedung perkantoran, hotel, rumah, dan rumah makan mengaplikasikan konsep itu. Sebut saja taman vertikal dan taman atap di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta; taman vertikal di kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM); serta taman di 99 Restaurant, Ranch Market, dan kafe Origin, Bandung.

Model taman vertikal pun kian beragam seperti menggunakan vertical garden module (VGM) alias kerangka plastik tempat media yang ditempel pada permukaan dinding. Pada lubang tanam di VGM kita menanam aneka tanaman. Model lain menggunakan semacam karpet sebagai kantong tanam atau deretan cincin besi yang dipakai untuk meletakkan pot tanaman. Apa pun model yang dipilih, hasilnya dinding terlihat asri.

Pot susun

Beragam kreasi taman vertikal juga disajikan pada Floriade 2012. Di sebuah sisi jalan utama dari pintu masuk arena terlihat taman dinding raksasa di sebuah bangunan. Para pengunjung berdecak kagum menyaksikan dinding hijau terdiri atas krokot, paku-pakuan, pelargonium, baby blue eyes, dan peperomia berwarna-warni yang disusun dalam pola menarik itu. Tanaman-tanaman itu tumbuh rapat di atas semacam karpet yang diberi lubang tanam.

Di sudut lain area Floriade, sebuah teras di tengah kolam berlatar belakang dinding susunan batu yang hijau dengan tanaman berbunga di beberapa titik. Tanaman ditanam di lubang tanam berupa ruang batu yang dikosongkan. Di dekatnya ada taman dinding terbuat dari bahan plastik yang dibentuk seperti susunan rak menyerupai talang dan lingkaran-lingkaran. Di atas talang dan lingkaran itu perancang taman menumbuhkan aneka tanaman.

Model lain berupa taman dinding kombinasi antara penanaman di wadah seperti saku kemeja terbuat dari plastik dan semacam “kasur” plastik berisi media tanam. Di bagian saku kemeja, perancang menanam aneka bromeliad, sementara pada kasur ditumbuhkan rerumputan, tanaman merambat, dan paku-pakuan.

Menurut praktikus taman vertikal di Bandung, Jawa Barat, Iwan Irawan, dalam sebuah obrolan pada pertengahan 2011, membuat taman vertikal dengan konsep menanam di atas suatu media relatif sulit. Sebab pemilik mesti rutin mengontrol pertumbuhan tanaman. Untuk menjamin pertumbuhan tanaman model taman dinding harus dilengkapi dengan sistem irigasi otomatis. Pemilik juga secara periodik perlu menyulam tanaman yang rusak, mati, atau terlihat gundul.

Oleh karena itu banyak pemilik taman vertikal menggunakan konsep “knock down”. Mereka menanam tanaman di dalam pot, lalu menyusun di wadah tertentu, misal rangka bambu atau cincin besi membentuk taman dinding. Lihatlah taman dinding kalanchoe di sudut Villa Flora-area khusus pameran taman indoor seluas 7.500 m2. Perancangnya menanam kalanchoe berbunga putih, merah, jingga, merah muda di atas pot berdempet tiga yang disusun secara vertikal hingga 17 tumpuk. Hasilnya taman dinding yang elok dan praktis. Ketika pemilik taman bosan, ia tinggal menurunkan pot, mengganti tanaman, lalu menyusun ulang taman dinding.

Atau tengoklah taman dinding berwarna putih dan merah muda di sisi lain. Perancangnya cukup menyusun pot-pot berisi begonia berbunga merah muda yang sudah dilengkapi semacam cantelan itu di atas rak, serta menyangkutkan di tangga dan dinding kayu.

Villa Flora juga menyuguhkan rancangan taman vertikal mini. Taman itu berupa kotak serupa frame lukisan yang ditempelkan di dinding. Bingkai itu menutupi semacam kasur tempat menumbuhkan simbar menjangan dan tanaman rambat. Kalau begitu benar kata Albert Quek. Perancang taman vertikal di Singapura itu berujar taman vertikal bisa menjadi solusi buat kota metropolis. “Pembangunan gedung untuk hunian dan kantor sebuah keniscayaan di sebuah kota dan pasti mengurangi ruang hijau. Taman vertikal mengganti ruang hijau itu tanpa banyak menyita tempat,” kata Albert. (Evy Syariefa/peliput: Pranawita Karina)

 

 

Atap Top

Taman atap salah satu solusi menghadirkan suasana hijau meski ketersediaan lahan terbatas. Namun, kita perlu memperhatikan banyak hal supaya taman atap tampil maksimal. Ini panduan dari ahli tanaman lanskap di Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Nizar Nasrullah, MAgr.

  1. Taman atap melibatkan aktivitas manusia, seperti berjalan, duduk-duduk. Ada unsur penyusun taman berupa hard material, seperti bangku, lampu taman, serta soft material yaitu tanaman dan air
  2. Kontruksi bangunan harus masuk dalam rancangan desain, yaitu dengan memperhitungkan beban top garden. Biasanya terdapat tiang penyangga yang berperan menopang beban
  3. Struktur lantai berupa beton, seal-berfungsi mencegah air rembes, pipa drainase internal, koral, geotekstil, dan media tanam. Semakin besar tanaman kian tinggi ketebalan media tanam
  4. Gunakan media tanam yang ringan tapi memiliki sifat menyimpan air tinggi. Contohnya serbuk gergaji, sekam, cocopeat, dan vermikulit. Yang disebut terakhir bersifat ringan dan mampu mengembang saat terkena air. Penggunaan media-media itu bisa dicampur dengan tanah maupun tidak. Penggunaan tanah jika bangunan sejak awal sudah didesain memiliki taman atap.
  5. Tanaman yang dipakai harus toleran paparan sinar matahari penuh dan angin kencang. Contohnya palem-paleman dan semak seperti gardenia putih dan bugenvil
  6. Pengairan secara manual, beda dengan pada roof garden atau vertical garden yang menggunakan irigasi tetes atau jetspray

 

 

Keterangan Foto :

  1. Taman atap di paviliun Bulgaria, miring 45o
  2. Vertical garden dinding batu
  3. Taman dinding di mal Orchid Central. Singapura, negara di Asia Tenggara yang paling gencar menerapkan roof dan vertical garden
  4. Dr Ir Nizar Nasrullah MAgr, ahli tanaman landskap IPB
  5. Rumah kayu dengan kombinasi roof greenery, taman vertikal, dan energi hijau solar sel
  6. Vertical garden dengan sistem karpet berpola abstrak
  7. Tanaman ditanam dalam wadah plastik yang diwarnai seperti besi
  8. Bermodal pot susun menjadi taman dinding cantik
  9. Taman vertikal dengan kantong tanam yang praktis di salah satu pusat perbelanjaan di Belanda
  10. Vertical garden minimalis
  11. Bingkai taman dinding, taman vertikal tak harus selalu berukuran besar
  12. Menanam bromeliad di wadah seperti saku baju

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img