Saturday, August 13, 2022

Secercah Harapan dari Buncis Eksklusif

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Permintaan dari Papua itu memang belum rutin. “Saya baru mencobanya satu kali, ternyata laku dan diminati,” ujar Rudi, penyalur sayuran di Jakarta. Konsumennya warga negara asing yang bermukim di sana. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat rudi kebingungan mencari pasokan, ia bertemu Mastur Fuad, pemilik CV Pacet Segar, perusahaan agribisnis sayur-mayur.

Tahap pertama dikirim 20 kg ke sebuah pasar swalayan di Papua. Buncis mini itu disertakan dengan tomat dan kubis yang sudah rutin dikirim. Sambutannya ternyata menggembirakan. Buncis yang dijual seharga Rp16.500/kg itu ludes dalam beberapa hari. Rudi pun b e r e n c a n a memasarkan secara kontinu. Sayang pasokan menjadi kendala. Musababnya, buncis mini masih jarang yang mengebunkan.

Untuk sementara pasokan diterima dari Mastur Fuad, 20 kg/minggu. Di luar itu Mastur juga harus memenuhi permintaan dari pembeli lain di berbagai kota. “Konsumen terbesar supermarket di Jakarta, Bogor, dan seputaran Sukabumi,” ujar pria asal Cianjur itu. Pasar swalayan Hero, Jakarta, misalnya setiap minggu rutin meminta 50 karton berisi masing-masing 2,5 kg buncis. Permintaan dari pembeli di Bandung untuk sementara diabaikan, karena pasokan terbatas. “Saya belum sempat mengembangkan lahan,” kata Mastur.

Prospektif

Permintaan terbesar keluarga polongpolongan itu terjadi saat menjelang hari raya lebaran. Sebagai gambaran di Pacet Segar, 300—400 kg buncis ludes dalam sepekan. Biasanya hanya 100 kg/minggu. Harga pun melonjak dari semula Rp6.000 menjadi Rp8.000/kg.

Yang juga kewalahan melayani permintaan adalah PT Saung Mirwan di Bogor, Jawa Barat. Sejak setahun belakangan perusahaan yang dikomandoi Th eo Hadinata itu rutin memasok 250 kg/minggu ke pasarpasar swalayan di Jakarta. Harga dibandrol Rp7.000—Rp8.000/kg. Eksportir paprika itu tidak hanya mengincar pasar lokal, pasar ekspor juga dilirik. Belakangan Singapura meminta 500 kg/minggu, tapi belum dilayani secara serius. “Kami baru mencoba mengirim sampel sebanyak 20 kg. Untuk pengiriman kontinu masih terkendala daya tahan produk,” ujar Hugo Ari Soekarno, manajer pemasaran PT Saung Mirwan.

Di Lembang, Jawa Barat, ada PT Putri Segar Maju Mulya yang juga bergerak di bisnis buncis tegak ini. Dalam sehari perusahaan itu mengirim 30—50 kg ke Carrefour dan Clubstore, Jakarta. Menurut Slamet Rahardjo, sang pemilik, kebutuhan baby buncis relatif stabil. “Mungkin karena masyarakat belum banyak mengenalnya,” ujar laki-laki berusia 46 tahun ini.

Lebih untung

Geliat buncis mini tidak hanya di Jawa Barat. Suyatno, pekebun buncis di Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, juga menikmati manisnya bisnis sayuran ini. Yatno—panggilan akrab Suyatno—pertama kali mendapat benih baby buncis dari temannya yang berkerja di Kedutaan Besar Perancis, awal 1998. Dari 5 kg benih yang diterima, setengahnya ditanam di lahan seluas 400 m2 dengan jarak tanam 30 cm x 30 cm. Sisanya disimpan sebagai stok.

Langkah ayah 3 putra itu tergolong berani. Pasalnya, pasar yang akan dimasuki belum jelas. Toh, pengalaman menanam tomat ceri dan jagung manis memberi bekal berharga. Panen pertama sebanyak 5 kg buncis tegak ditawarkan ke ROC, sebuah lembaga kerjasama bidang pertanian antara Indonesia-Taiwan di Boyolali.

Pintu pasar pun terkuak. Sebuah pasar swalayan jepang di Surabaya bersedia menerima buncis itu. Maka terbukalah jalan bagi Yatno. Untuk memenuhi permintaan kontinu 400 kg per minggu, Yatno pun menggandeng pekebun mitra. Martosardi misalnya. Lahan seluas 1.000 m2 yang semula ditanami tembakau disulap jadi kebun baby buncis.

Hasilnya memuaskan. Kalau semula pria berusia 65 tahun itu merugi tiap kali panen tembakau. Kini, keuntungan keuntungan justru didapat dari penjualan baby buncis. Dalam sekali musim tanam, ia menuai 700 kg buncis dari 2.000 m2. Dari jumlah panen itu 500 kg masuk grade A, sisanya grade B.

Yatno dan Martosardi menyetor buncis pada ROC dengan harga Rp4.500/kg. Di sana sayuran itu disortir dan dikemas. “Buncis dari pekebun kadang masih tercampur antara grade A dan B,” ujar Puji Astuti, dari ROC Boyolali. Padahal, yang diminta pasar swalayan hanya grade A. Setelah siap, buncis dikirim ke Surabaya dengan harga Rp7.000/ kg. Menjalin kemitraan juga dilakukan Mastur Fuad demi memenuhi permintaan pasar. Ia menggandeng 2 plasma yang rutin menyetor buncis mini grade A dan B.

Buncis yang masuk grade A berdiameter kurang dari 0,5 cm dengan panjang 12— 15cm. Harganya Rp5.000/kg untuk grade A dan Rp3.000 untuk grade B. Grade B dijual di pasar becek. Buncis yang telat panen langsung masuk grade B. Untuk mendapatkan baby buncis yang diinginkan pasar swalayan, gampang-gampang susah.

Kuncinya disiplin

Bertanam buncis memang gampanggampang susah. Di satu sisi harganya cukup menggiurkan. Namun, di sisi lain butuh keuletan dan disiplin tersendiri. Yatno mengaku untuk mencapai grade A dibutuhkan disiplin tinggi. Setelah mencapai umur 45 hari buncis harus dipanen setiap hari. Telat sehari, ia langsung masuk grade B yang hanya laku di pasar lokal. Toh jika telaten melakukannya, tidak ada masalah berarti. Buktinya Yatno sudah meluaskan lahan pertanamannya menjadi 1.000 m2.

Dalam setahun ia bisa 2 kali menanam buncis. Agar pasokan ke ROC tetap lancar, kelahiran Boyolali 7 April 1968 ini menggandeng mitra pekebun di daerah Candisari, Ampel, Boyolali. Seperti yang diungkapkan Puji Astuti, pekebun harus tepat waktu dalam memanen. Telat sedikit buncis membesar dan turun kualitasnya.

Menurut Mastur, perbandingan grade A dan B dari suatu lahan dipengaruhi oleh musim tanam. “Pada musim hujan yang masuk grade A hanya 60%, karena banyak hama dan penyakit. Musim kemarau hasilnya bisa lebih baik,” ungkap Mastur.

Musim hujan juga sering mencemaskan pekebun. Hama ulat dan karat daun menjadi ancaman serius. Martosardi pernah merasakan gagal panen hingga 80% gara-gara seluruh pertanaman terserang karat daun. “Polong muda semuanya rontok sebelum sempat dipanen,” ujarnya mengenang. Karena itulah pengawasan dan pengontrolan menjadi hal wajib. “Pekebun memang harus mau ribet, agar hasilnya bagus,” ujar Yatno menimpali. Jika ini dilakukan, manisnya bisnis buncis perancis akan tercecap segera. (Laksita Wijayanti/Peliput: Oki Sakti Pandana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img