Thursday, December 8, 2022

Sedapnya Durian Jatuhan di Bestala

Rekomendasi

Ucapan perempuan pemilik restoran bermenu khas Jawa Timur 7 tahun silam itu kembali terngiang kala Trubus merencanakan perjalanan ke sana. Supaya tak penasaran, seharian penuh dijadwalkan untuk melakukan perburuan ke sentranya langsung.

Hari itu di awal Desember, hujan bagai tumpah dari langit mengiringi perjalanan Trubus menuju Desa Bestala, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng. Di desa terletak sekitar 90 km dari Denpasar itulah durian bestala (dibaca: bestale dalam logat setempat, red) berada. Hujan tak menyurutkan langkah untuk datang ke sana lantaran menurut Widianta, peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali, lokasi itu memang pilihan tepat menikmati raja buah enak.

Untung saja begitu memasuki Banyuatis—kalau sudah mencapai desa penghasil cengkih itu berarti tinggal selemparan batu lagi mencapai Bestala—hujan mereda. Di kiri-kanan jalan mulai terlihat jongko-jongko menjajakan Durio zibethinus. Sembari menjual durian, beberapa jongko menawarkan rambutan dan nangka. Deretan kedai sederhana beratap rumbia itu kian menjamur mendekati pintu masuk ke Bestala. Maklum periode September—Maret memang musim durian di sana.

Jatuhan

Trubus mampir di kedai milik Ni Luh Murdiani. “Ayo makan durian di sini. Ini asli Bestala, kalau tidak percaya nanti saya antar ke pohonnya,” bujuk perempuan berperawakan mungil itu sambil menunjuk tumpukan buah berduri di hadapannya. Rupanya kerap ada durian dari sentra lain “numpang” nama dan dijual di Bestala. Meski begitu, tetap saja ada bedanya. “Kalau dari Bestala sudah pasti enakenak karena jatuhan semua,” lanjut ibu 2 anak itu.

Buah jatuhan memang kelebihan durian bestala. Buktinya, 5 jenis yang Trubus cicipi semua enak-enak. Sebut saja perak. Durian berbentuk lonjong, berduri tumpul, dan berwarna hijau itu punya daging istimewa. Warnanya kuning terang, bertekstur lembut, dan manis legit hingga masih terasa di lidah meski daging sudah melewati tenggorokan. Aroma khas durian tercium kuat.

Bobotnya bervariasi 1—5 kg per buah. Jumlah pongge mencapai 6 buah per juring. Sayang daging buah agak tipis. Menurut Murdiani, perak paling banyak dijajakan lantaran paling produktif. Tanaman berdiameter 2 pelukan orang dewasa menghasilkan 500 buah per musim.

Jenis lain, jering berduri lancip, tajam, dan berdiri kaku berwarna cokelat keemasan. Ukuran buah relatif kecil, hanya setelapak tangan yang dibuka lebar. Bila dibelah, bentuknya seperti hati. Warna daging lebih pucat ketimbang perak. Rasanya manis, malah agak pahit pada pongge di ujung juring.

Yang tak kalah istimewa, gloso. Daging buah manis, kering, dan nyakruk. Saking keringnya, bila pongge terus digenggam atau disimpan di saku pun tak akan mengotori tangan dan baju. Sayang untuk menikmati durian itu butuh kerja ekstra keras. Maklum kulit buah sangat tebal. Jumlah bagian yang dimakan pun terbilang sedikit, 1 juring hanya berisi 1—2 pongge. Pada bagian pangkal dan ujung buah, kosong tanpa pongge.

Pohon celaka

Dua jenis lagi yang dicicipi terakhir tanpa nama. “Sebenarnya setiap durian dari Bestala ada namanya, tapi yang ini saya lupa,” kata Murdiani sedikit menyesal. Masyarakat di sana percaya, pohon tanpa nama membawa sial. Orang yang berjalan di bawahnya bisa kejatuhan buah. Makanya daripada bermasalah, pemilik menamai pohonnya. Pemberian nama suka-suka. Muncullah durian si lomba karena pernah menjadi juara kontes durian setempat. Atau si kirik karena buah jatuhan kerap “dicuri” dan dinikmati anjing.

Meski tanpa nama, toh kedua durian yang terakhir disantap enak juga. Yang pertama bentuknya seperti gloso. Namun, daging berwarna kuning gading hanya kering di bagian luar. Begitu digigit, bagian dalam melembek. Rasanya manis legit dan tanpa biji pada pongge di ujung juring.

Jenis terakhir mengingatkan pada durian cassette dari Bentung, Pahang, Malaysia. Bentuknya melekuk pada satu sisi seperti kucing tidur. Mania durian berkadar alkohol tinggi akan suka si duplikat cassette itu. Daging yang kuning pucat agak pahit dan blenyek seperti berminyak.

Lantaran enak-enak, tak heran bila penggemar durian dari Denpasar atau Kuta rela memacu kendaraan pribadi ke sentra. Sebelum Trubus datang Murdiani sudah menjual 20 perak dan gloso pada seorang mania dari Denpasar. Padahal ketika panen melimpah buah diboyong pedagang hingga ke Renon, Denpasar atau Legian, Kuta.

Malah Kadek Puryani—pengepul yang masih terhitung sepupu Murdiani—kerap mengirim pasokan ke Banyuwangi. Kelezatan durian bestala memang sudah kesohor hingga ke kota di ujung timur pulau Jawa itu. “Tahun lalu 7 kali saya kirim. Biasanya sekali kirim 250—300 buah. Saya cukup mengantar sampai ke Gilimanuk, di sana sudah menunggu pedagang dari Banyuwangi,” tutur Puryani.

Toh, memburu durian langsung ke sentra jadi kepuasan tersendiri. Bila tak puas makan di jongko, penggila durian bisa membeli langsung dari pohon warisan berumur ratusan tahun. Saat panen raya setiap hari tak kurang 2.000—10.000 buah jatuhan keluar dari Bestala. Lagipula tak rugi berkunjung ke sana. Perjalanan pergi dan pulang dihiasi pemandangan terassering padi di kiri-kanan jalan. Itu yang tak ada bandingannya. (Evy Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img