Monday, August 15, 2022

Segunung Sampah Hadirkan Padi Organik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Bau busuk kerap menguar dari tempat pembuangan sampah yang tak terawat. Onggokan kotoran ditemukan di setiap tempat. Lima tahun berselang, kesan itu terhapus. Segunung sampah kini disulap menjadi pupuk yang menghadirkan padi organik nan sehat.

Wajah Banjarmulya dahulu dan sekarang sangat kontras. Ibarat berbalik 180° kecamatan kecil di Pemalang selatan itu kini tertata rapi. Tak lagi ada onggokan sampah di sudutsudut kota. Aroma busuk pun tak pernah tercium. Tempat-tempat penampungan sampah hampir setiap hari dikosongkan. Pantas jika kebersihan selalu terjaga.

Nun di ujung kecamatan yang terpencil dari keramaian, sampah-sampah dikumpulkan. Sebuah bak setinggi 1 m dengan luas 25 m2 yang dialasi terpal tiap hari siap menampung 3,5 ton sampah. Di sanalah sampah diolah menjadi kompos. Hasilnya pupuk organik yang menyangga pertanian padi di wilayah Pemalang.

Kini beras organik menjadi salah satu daya tarik baru Pemalang. Di kota berpenduduk 1,5 juta jiwa itu padi organik dibudidayakan di 8 kecamatan: Pemalang, Petarukan, Taman, Ampelgading, Bantarpulang, Randudongkal, Moga, dan Belik dengan memanfaatkan pupuk organik dari sampah. Tinggal 4 kecamatan yang belum menerapkan pertanian padi organik.

Cepat hancur

“Di Pemalang padi tidak dipupuk secara kimia atau disemprot pestisida. Semua diserahkan kepada pupuk organik dan kebijaksanaan alam,” ujar Priyo Budi Utomo dari bagian Lingkungan Hidup SETDA Pemalang.

Para petani padi di Pemalang tak sekadar mengkomposkan sampah. Pupuk organik itu diolah secara khusus. “Di sini digunakan aktivator organik dekomposer,” ujar Priyo. Mikroba yang digunakan Trichoderma pseudokoningii dan Cytophaga sp yang berkemampuan tinggi menghasilkan enzim penghancur lignin dan selulosa secara bersamaan, sehingga sampah lebih cepat hancur. Untuk itu Bagian Lingkungan Hidup SETDA Pemalang dengan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia di Bogor, Jawa Barat, bekerja sama demi mendapatkan aktivator pengomposan terbaik itu.

Pembuatan pupuk organik terbilang mudah. Sampah organik dicacah hingga ukuran 1—2 cm dicampur organik dekomposer sebanyak 0,5% dari bobot sampah keseluruhan. Semua bahan disiram air dan dimasukkan dalam bak setinggi 1 m yang sudah dilapisi terpal. Setiap ketinggian 30 cm ditaburi daun tanaman polong seperti lamtoro. Sebelum ditutup plastik terpal, suhu diukur dan dicatat.

Pengukuran temperatur dilakukan tiap hari hingga hari ke-14. “Jika pada pekan ke-2 temperatur menyamai suhu awal, pupuk organik siap dimanfaatkan,” tutur Sutoyo, staf Bagian Lingkungan Hidup SETDA Pemalang. Bila telah matang warna pupuk cokelat kehitaman, volume susut hingga 20%, dan tidak berbau menyengat.

Di lapangan pupuk organik digunakan untuk tanaman padi dengan dosis 1,5—2ton/ha. Aplikasi pupuk organik itu tak lagi membutuhkan tambahan pupuk lain, sebab ia mengandung unsur N, P, K, Ca, Mg, Mn, dan berbagai unsur lain yang dibutuhkan tanaman. Pupuk itu juga sanggup meningkatkan ketahanan padi terhadap penyakit cendawan akar. Apalagi ia mudah diaplikasikan dan tahan simpan bertahun-tahun.

Produksi meningkat

Mengikuti jejak petani lain, Tuwono, anggota Kelompok Tani Lestari Banjarmulya, Pemalang, memakai pupuk organik di lahan padinya. Sejak 2000 ayah 4 putra itu menanam padi tanpa sentuhan pupuk kimia dan pestisida buatan pabrik.

Ia tertarik menggunakan pupuk organik lantaran murah dan mudah didapat. “Bahkan bisa membuat sendiri di belakang rumah,” paparnya. Selain menyediakan sampah dan terpal, ia hanya perlu organik dekomposer untuk mengolahnya.

Untuk menghalau hama dan penyakit, ia meramu beragam tanaman berkhasiat pestisida nabati. Tembakau, mimba, dan mindi dihaluskan dengan blender, dilarutkan dalam air, dan dicampur deterjen atau sabun colek. Setelah diendapkan semalam, ramuan disaring dan siap disemprotkan pada padi yang terserang hama.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Tiga tahun terakhir ia merasakan manisnya bertanam padi secara organik. Bila sebelumnya ia panen 4 ton/ha dengan pupuk kimia, kini lumbung padinya siap menampung 4,8—5,2 ton/ha gabah berkat pupuk organik. Itu berarti produksi meningkat hingga 20—30%.

“Dalam rentang 3—5 tahun setelah budidaya organik, terjadi perbaikan sifatsifat fi sika, kimia, dan biologi tanah,” ujar Dr Ir Agus Suryanto, MS. dari Universitas Brawijaya, Malang. Keseimbangan ekosistem sawah pun bakal terjaga karena tanah tak lagi menerima unsur kimiawi. Tak heran bila panen padi bisa optimal.

Harga produk organik yang mencapai 3 kali lipat makin menambah manisnya budidaya padi organik. Bila beras biasa dijual seharga Rp3.500 per kg, beras organik ditebus Rp7.500—Rp9.000 per kg. Para pembeli pun rela memburunya hingga ke lumbung padi. “Konsumen utama dari Ikatan Dokter Indonesia wilayah Pemalang,” tutur pria berambut ikal itu.

Padi organik pemalang kondang lantaran rasa manis dan wangi. Meski sosoknya kecil, tetapi ia memiliki aroma harum tajam nan menggugah selera. Saat dilahap, kesan pulen langsung terasa di lidah. Saat disajikan di meja makan, ia tampak mengkilap karena putihnya cemerlang. Pantas jika dewi sri itu menjadi kebanggaan baru kota Pemalang. (Hanni Sofi a)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img