Friday, December 2, 2022

Sehari Menjadi Importir Arabicum

Rekomendasi

Mengaku sebagai importir? Itu cara wartawan Trubus, Destika Cahyana, menembus kebun AFP Adenium Farm-bukan nama sebenarnya. Pekebun muda itu kondang di kalangan importir asal Indonesia sebagai spesialis thai soco.

Langit baru beranjak siang ketika Trubus tiba di kebun seluas 6,25 rai-setara 1 ha-di bilangan Nakhonpathom, Thailand. Ramkhamhaeng beserta kakaknya, Hsinbyushin-keduanya bukan nama sebenarnya-menyambut dengan senyum menghias di bibir. Tangan Ram menunjuk ke hamparan thai soco yang berjejer di kiri-kanan jalan kebun. Itu isyarat pria berumur 37 tahun untuk mempersilakan tamunya memilih thai soco.

Agak tergagap Trubus menjelaskan tujuan sebenarnya dari kunjungan di penghujung April 2007 itu. ‘Sebetulnya saya datang untuk meliput. Saya jurnalis dari majalah pertanian di Indonesia. Bukan untuk membeli koleksi Anda.’ Ram segera melirik kakaknya, lalu menghubungi seseorang di seberang sana. Tak lama berselang, ia mengangguk setuju untuk diliput dengan 2 syarat. Hanya koleksi tanaman yang boleh dipublikasikan. Pemilik berikut nama nurseri mesti disamarkan. Itu karena AFP Adenium Farm hanyalah nurseri. Promosi, pemasaran, dan ekspor diserahkan pada pihak lain.

Memasuki kebun yang terletak 20 km ke arah barat dari Bangkok itu ibarat berada di surga thai soco. Thai soco ialah sebutan arabicum hibrid berdarah ra chine pandok (RCN) dan arabicum yaman. Sebanyak 44 thai soco berdiameter caudek 30-50 cm tampak berjajar rapi di kiri jalan tanah berbatu selebar 3 m. Di sebelah kanan tampak 35 arabicum yaman dan thai soco berdiameter 60-80 cm tegak berdiri menyambut pengunjung.

Pelopor

Kebun itu yang terluas bila dibandingkan 2 kebun lainnya di Nonthaburi dan Bangkok. Dua yang disebut terakhir masing-masing 2 rai dan 1 rai. Dari 3 kebun itulah terdapat 3.000 thai soco diameter caudek 30-80 cm yang siap dilempar ke pasaran. Di sana pula 100 thai soco dan 20 arabicum yaman dipelihara sebagai mother plant alias indukan. ‘Itu khusus untuk produksi biji,’ kata Ram. Dari sanalah selama 2006 dihasilkan 2.000 biji thai soco dan 20.000 arabicum.

Jumlah thai soco hanya 10% karena memproduksi biji thai soco jauh lebih sulit. Dari satu pasang buah hanya dihasilkan 30 biji terpilih. ‘Ukuran biji thai soco lebih besar ketimbang arabicum yaman. Terkadang buah tak mampu menahan bobot biji,’ katanya. Cerita Ram tentang sulitnya memproduksi biji thai soco itu mengingatkan melonjaknya harga biji thai soco di tanahair. Biji thai soco saat ini mencapai Rp30.000-Rp35.000 per buah. Bandingkan dengan biji arabicum biasa yang dibandrol Rp7.500-Rp10.000.

Meski produksi biji thai soco per tahun hanya 2.000 butir, AFP Adenium Farm tetap kesohor sebagai pelopor dan spesialis thai soco. ‘Banyak tanaman dari nurserinya menjadi jawara di kontes adenium di Thailand,’ kata Tjandra Ronywidjaja, pemain adenium di Ponorogo, Jawa Timur. Konon, setiap piala raja digelar di Thailand, 80% piala thai soco diboyong Ram. Itu terlihat dari jejeran 30 piala dan medali yang terpajang di ruang kerja Ram. Sejak 1998-setahun setelah nurseri itu berdiri-Ram tak pernah absen mengikuti kontes adenium. Minimal 3 kali setahun mantan kontraktor perumahan itu menyertakan tanamannya untuk beradu cantik.

Terluas

Sukses Ramkhamhaeng menjadi spesialis thai soco-setelah bergelut selama 10 tahun-itu mengingatkan pada perjalanan sehari sebelumnya ke kebun Chuan Chom Preecha Garden di Provinsi Nonthaburi. Preecha, sang pemilik, merintis adenium sejak 10 tahun silam. Bedanya, ia tak menempatkan diri sebagai spesialis thai soco. Ia menggeluti Adenium obesum, A. arabicum, dan A. somalense sekaligus.

Toh, itu tak membuatnya tersingkir di arena pemasaran arabicum dewasa ini. Hingga saat ini kebun Preecha diketahui terluas, 101 rai. Itu setara dengan 16,16 ha. Sebanyak 40 rai dialokasikan untuk adenium. Meliputi 30% arabicum, 30% obesum, 30% somalense. Artinya, tak kurang 12 rai-setara 1,92 ha-kebun ayah 5 anak itu dihuni arabicum. Sementara 40 rai yang tersisa ditanami plumeria.

Saking luasnya, kebun milik presiden asosiasi adenium Thailand itu memiliki jalan kebun sepanjang 1 km. Di blok kedua kebun itu terhampar 5.000 arabicum berdiameter 20-80 cm. Arabicum bercaudek 40-80 cm dijejerkan di kiri dan kanan jalan blok tersebut. Sebanyak 20 arabicum bercaudek 40-60 berdiri angkuh di sisi kanan jalan.

Di tengah kebun Trubus melihat 2 arabicum yaman tengah mengeluarkan 18-19 pasang buah. Itu terlihat kontras dengan tanaman lain yang rata-rata berbuah 4-5 pasang.

Menurut Preecha, sejak 2006 ia kewalahan memenuhi permintaan biji arabicum dari pelanggan. Ia menyebut angka 300.000 biji arabicum yang ia kirimkan ke Amerika Serikat sepanjang 2006. Permintaan bertubi-tubi pun datang dari Indonesia. ‘Sejak 1,5 tahun terakhir, setiap minggu permintaan 1.000-2.000 selalu datang dari Indonesia,’ katanya. Artinya, dari kebunnya terbang sekitar 72.000-144.000 biji arabicum ke tanahair. Pantas, Handhi, importir adenium pemilik Nurseri Rumah Pohon di Tangerang menyebut Preecha sebagai pemain arabicum yang layak diperhitungkan di Thailand.

Terlengkap

Penjelajahan arabicum berakhir di kebun Siam Adenium milik Choochart di Nakhon Pathom. Ayah 1 anak itu dikenal sebagai pemasar arabicum yang mendunia. Dari kebunnya arabicum dipasarkan ke Indonesia, Argentina, Meksiko, dan Colombia. Tak kurang dari 30.000 anakan arabicum berukuran 2-10 cm diproduksi di sana. Sebanyak 50% berupa petchnawang, 25% ra chine pandok, dan 15% petchmuangkong.

Sisanya-15%-berupa arabicum transisi yang belum teridentifi kasi. Petchnawang dan petchmuangkong ialah nama sebuah tempat di Thailand. Konon seleksi terbaik dari kedua daerah tersebut dinamakan petchnawang dan petchmuankong. ‘Untuk memudahkan, di Indonesia, nama tersebut disederhanakan menjadi arabicum transisi,’ kata Aris Budiman, pemilik nurseri Watuputih di Yogyakarta. Di kebun itu, Trubus melihat jenis transisi lain yang Choochart namakan black ra chinne pandok, ra chinne pandok petchnawang, dan mini ra chine pandok.

Meski kontroversial, beragam label arabicum di kebun itu turut mendongkrak pamor Siam Adenium sebagai kebun terlengkap. Di beberapa nurseri yang dikunjungi sebelumnya, beberapa arabicum transisi itu ditemukan dalam hitungan jari dengan sebutan sama. Label terlengkap itu bukan omong kosong. Di saat yang hampir bersamaan dengan kunjungan Trubus, sebanyak 6.000 arabicum-petchnawang dan black giant-dan 1.000 ra chine pandok diboyong seorang importir dari Jawa Timur. Padahal, saat itu hampir di semua nurseri yang dikunjungi menyatakan stok kosong untuk arabicum.

Di Nakhon Pathom, penelusuran nurseri arabicum di Thailand berakhir. Bedanya, di tempat terakhir itu tak ada penyamaran jurnalis menjadi importir. Choochart sang pemilik, sangat familiar dengan jurnalis dari Indonesia. (Destika Cahyana)

 

CRYPTOMONADALES SI RAJA ALGA

Tertarik konsumsi atau jadi distributor Cryptomonadales?

Hub:

Wawa

0852-16119799 / 021-70065597

 

ERNA

0818-08740583

 

Lidya

0812-1397355

 

Amin

021-98651518

 

Effendi Hutapea

0815-19602876

 

Rudy

0817-0002108 (Jambi)

 

e-mail

crypto_ww@yahoo.com

 

8 Juni 2007

8 Juni 2008

 

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img