Friday, August 12, 2022

Sehelai Celana dari Pasar Solok

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Pengorbanan pria itu menembus hutan tak sia-sia. Di Pasar Solok, durian dengan bobot di atas rata-rata itu terjual dengan harga fantastis! ‘Nilainya kami tak tahu persis. Yang jelas ketika itu setara dengan harga sahalai sarawa (dalam bahasa Minang artinya sehelai celana panjang, red),’ kata Drs Bushamsyah, tim eksplorasi durian Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika, Solok, Sumatera Barat. Pria itu lalu kembali ke rumah dengan muka berseri-seri sambil membawa sehelai celana.

Di masa itu sahalai sarawa-berupa celana panjang setinggi lutut-meski terbuat dari kain kasar seperti karung terigu tergolong mewah. ‘Jarang orang memakainya di zaman itu,’ kata Bushamsyah. Mania durian berbobot 4 kg berani membeli dengan harga tinggi karena daging buah tebal. Kebanyakan biji hanya seukuran jempol orang dewasa. Rasanya? Manis, legit, dan pulen. Dari peristiwa itu, durian dari bukit di bagian timur Danau Singkarak itu lantas dijuluki durian sahalai sarawa.

Paling dicari

Sejak itu sahalai sarawa menjadi durian paling dicari. Namanya pun melegenda seperti petruk di Pulau Jawa. Pada 2004 Bushamsyah melihat pohon induk setinggi 30 m mulai mengering. Sebagian mati karena tersambar halilintar. Diameter pohon besar. Dua pria dewasa tak cukup untuk memeluknya. Sayang, durian legendaris itu tak bisa dipulihkan. Pada 2006, pohon yang dimiliki Tiar Sutankayo di Dusun Lapau Pulau, Nagari Singkarak itu mati. Pria yang membawa durian itu ke Pasar Solok ialah paman Tiar Sutankayo.

Toh, nama sahalai sarawa telanjur membekas di benak warga Solok. Hingga kini setiap durian besar, berdaging tebal, dan berbiji kempes yang laku terjual dengan harga tinggi di nagari nan elok-asal kata sebutan Solok-dijuluki sahalai sarawa. Itulah yang kerap membingungkan banyak mania durian. Kebanyakan pedagang durian mengaku durian itu keturunan dari biji sahalai sarawa yang asli.

Sejak 2005 Balitbu melakukan eksplorasi untuk mengetahui sahalai sarawa yang sifatnya paling mirip dengan induknya. Ditemukanlah durian asal biji sahalai sarawa berumur 15 tahun milik Asril di Nagari Aripan, Solok, yang daging buahnya manis, legit, dan pulen seperti sahalai sarawa tetuanya. Bedanya bobot buah hanya 2,1-2,8 kg. Daging buah tebal dengan ukuran biji sedang. Durian itulah yang rasanya paling mantap di antara keturunan sahalai sarawa lainnya.

Parak kopi

Sebetulnya di kabupaten yang terkenal dengan beras soloknya itu ada durian legendaris lain yang tak kalah dengan sahalai sarawa: durian parak kopi. Julukan itu dalam bahasa Minangkabau artinya kebun kopi. Puluhan tahun silam sebuah durian dari Kampung Aripan Atas yang berumur di atas 100 tahun diakui mania sebagai durian enak. Ia tumbuh di sela-sela kebun kopi milik Datuk Itam sehingga disebut parak kopi.

Daging buah parak kopi putih kekuningan dan tebal dengan biji kempes sebanyak 20-25%. Rasanya sangat manis, legit, dan agak pulen meski tak sepulen sahalai sarawa. Karena kualitasnya itu, harga parak kopi 3-4 kali lipat durian lokal biasa. Parak kopi berbobot 1,5 kg tetap diburu mania meski dibandrol Rp20.000-Rp25.000. Bandingkan dengan durian lokal yang harganya Rp7.000-Rp10.000 dengan bobot 2-3 kg.

Seperti sahalai sarawa, nama parak kopi pun kerap disematkan pada durian lain untuk mendongkrak harga jual. Itu karena sebagian besar durian di Solok memang tumbuh di sela-sela kopi rakyat. Durian milik Datuk Itam Basa-artinya Datuk Hitam Besar-disimpulkan sebagai parak kopi ‘asli’ lantaran rasanya paling unggul ketimbang parak kopi ‘palsu’ dan pohonnya paling tua saat ini. Kini setiap musim durian, parak kopi selalu ditunggu mania meski buah belum jatuh. Sayang, kondisi pohon yang sehat hanya separuhnya, sisanya tinggal ranting yang mengering.

Durian lokal

Selain menelusuri jejak 2 durian legendaris itu Balitbu juga menemukan 3 durian lokal lain yang layak masuk kriteria durian unggul. Ketiganya kunyik, rao 1, dan rao 2. Yang disebut pertama daging buah paling menarik karena kuning seperti kunyit. Daging buah tebal karena 45-60% biji kempes. Rasanya manis agak pulen, tapi agak berserat. Bobot buah bervariasi dari 1,6-2 kg.

Rao 1 cocok buat mania durian yang menyukai rasa agak pahit. Bobot rao 1 paling besar, 2,6-3,3 kg. Sedangkan rao 2 rasanya manis, legit, dan sangat pulen seperti sahalai sarawa. Kini kelima durian hasil eksplorasi itu tengah dievaluasi Balitbu untuk dikembangkan lebih lanjut. Merekalah durian terlezat dari 3.000 tanaman durian yang ada di Nagari Aripan-sentra durian di Solok.

Tim eksplorasi pun menyimpulkan Aripan, sebuah nagari di Kecamatan Singkarak, yang terletak 8 km barat laut Kota Solok, menyimpan potensi sebagai sentra durian sepanjang tahun. Di sana selama 2007-2008 banyak buah salek (buah sela, red) yang muncul pada Mei-Juni di samping panen raya pada Oktober-Desember.

Buah salek itu-termasuk sahalai sarawa, parak kopi, kunyik, rao 1, dan rao 2-bisa berasal dari pohon yang sama atau dari pohon berbeda dan terjadi secara bergantian. Durian off season yang muncul alami itu kualitasnya bervariasi dari yang rasanya biasa hingga enak. Untuk mempertahankan banyaknya buah di luar musim itu Aripan layak dikembangkan sebagai sentra durian multivarietas spesifik lokasi. (Panca Jarot Santoso, peneliti Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat).

Dok. Trubus

^ Sahalai sarawa, paling pulen seantero Solok

< Pada 2004 pohon induk sahalai sarawak mulai mengering karena tersambar halilintar. Dua tahun berselang tanaman pun mati

 

 

buah

Trubus 480 – November 2009/XL

49

Parak kopi, ditunggu mania durian meski harga 3 kali durian lokal lain

Foto-foto: Panca Jarot Santoso

Kunyik, sebanyak 45-60% berbiji kempes

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img