Tuesday, November 29, 2022

Sejarah Bonsi dalam Kitab 75 Tahun

Rekomendasi

Primbon berumur 75 tahun itu tak lagi lengkap. Banyak halaman yang hilang. Begitu sampul berwarna kuning dibuka, lembar pertama langsung menunjuk angka 5. Empat halaman pertama entah ke mana. Di beberapa lembar, ujung-ujungnya terlihat gundul-tidak lagi membentuk tepian kertas yang menyiku jelas-karena termakan waktu. ‘Ini juga bukan buku asli, tapi sudah merupakan cetakan yang kesekian kali,’ tutur Vitoon Techacharoensukchera, pemain ekspor-impor tanaman hias kawakan di Thailand yang menemani Trubus.

Membuka lembaran buku saku itu seperti menyingkap rahasia yang dulu hanya terungkap di dalam tembok istana. Maklum semula caladium koleksi kaum ningrat karena berharga mahal. Untuk menjaga keistimewaan, kalangan istana menyimpan rahasia cara rawat dan hibridisasi bonsi dari orang luar.

Untunglah ada Arjan Prasob Satetajit. Sang guru-begitu ia biasa disapa (arjan = guru, dalam bahasa Thailand) menerbitkan buku saku yang semula hanya ditujukan untuk kalangan istana dan kuil itu. Buku dibagikan gratis buat mereka yang ingin memperdalam ilmu keladi. Nama Arjan pun tertera di lembar terakhir bersama sebuah kalimat: ‘Buku ini untuk ilmu pengetahuan, tidak diperjualbelikan.’

Ayutthaya

Dalam kitab kuno itu disebutkan bonsi masuk ke negeri Siam sejak masa pemerintahan Dinasti Ayutthaya pada kurun 1350-1767 Masehi. Raja Ayutthaya senang mengumpulkan tanaman dari berbagai negara. Para tamu kerajaan yang berkunjung ke negeri Gajah Putih pun tidak lupa membawa buah tangan berupa tanaman hias. Salah satunya keladi yang aslinya dari Amerika Selatan.

Versi lain menyebutkan, keladi justru didatangkan dari Cina pada periode Sukhotai-dinasti sebelum Ayutthaya-yang berkuasa pada 1249-1438 Masehi. Kerabat alokasia itu datang dari negeri Tirai Bambu berbarengan dengan migrasi bangsa Tionghoa. Banyak caladium berkelir merah. Dalam mitologi Cina-juga Thailand yang budayanya banyak dipengaruhi negara di Asia Timur itu-warna merah berarti keberuntungan. Keladi dibawa berlayar dari negeri asal ke Thailand supaya membawa keberuntungan selama perjalanan.

Caladium makin populer di era Rattanakosin, penguasa Thailand sejak 1767 sampai sekarang. Saat itu Raja Cholalongkorn, Rama V, yang memerintah pada 1868-1910 Masehi-Raja Bumibhol Adulyadej yang memerintah sekarang bergelar Rama IX-membawa pulang keladi-dan tanaman lain-sekembali dari perjalanan ke Eropa. Cerita lain, justru Maromi Lench, seorang Eropa, yang memperkenalkan sayap bidadari-sebutan di Amerika-waktu datang ke Thailand. Caladium yang masuk saat itu dinamakan foreign caladium-keladi asing.

Ada 3 keladi yang populer saat itu. Namanya chao krung denmark, chao kaiser, dan chao amper. Yang disebut terakhir konon berasal dari tanah Jawa. Selain raja, kaum bangsawan mulai mengoleksi. Kerabat talas itu pun mulai dibudidayakan serius. ‘Caladium adalah tanaman hias pertama yang dihibridisasikan di Thailand,’ kata Pichai Manichote, kolektor anggota famili Araceae itu.

Persembahan

Pada awal abad ke-20-tepatnya 1929, keladi mulai menyebar ke luar istana, tapi masih di lingkungan para pemuka agama. Bonsi diberikan sebagai persembahan saat berkunjung ke kuil atau hadiah untuk kerabat. Menurut kabar, ada biksu yang pernah memasukkan keladi asal Jepang-semua berwarna kuning berjumlah 50 jenis.

Tiga tahun berselang, barulah masyarakat umum bisa menikmati keindahan keladi. Tanaman berjuluk ratu daun itu mulai diperdagangkan. Yang paling terkenal saat itu tekhswad. Harganya mencapai ratusan ribu baht. Lantaran sudah memasyarakat, muncullah perkumpulan-perkumpulan penggemar keladi yang terpusat di Lapangan Kaikhaw, Wat (kuil, red) Inthrawihar, Wat Sakes, Ban Cau Khun Thip, dan Ran Sawros.

Yang paling punya pengaruh, perkumpulan di Lapangan Kaikhaw, sekarang Monumen Demokrasi di Bangkok. Di sanalah cikal-bakal diadakan kontes caladiun antarhobiis. Juga dimulainya pemberian nama hingga 160 jenis caladium. Pun pengelompokan jenis berdasarkan tipe daun yang dibukukan dalam primbon berumur 75 tahun itu.

Sayang, pamor keladi perlahan meredup. Yang bertahan hanya hobiis tulen. Beruntung pada 1954 ada seorang bernama Chloo Thong Suphan memulai kembali lomba-lomba. Para penyilang bergairah lagi. Dalam 3 tahun, banyak jenis baru bermunculan. Kontes pun kembali marak. Pada 1983 dibentuklah Asosiasi Caladium Thailand yang bertahan hingga sekarang.

Mutasi

Tak hanya sejarah, kitab kuno itu juga bertutur tentang pembagian kelas caladium. ‘Pembagian itu berdasarkan bentuk daunnya,’ ujar Chaowalit. Ada 4 kelas keladi: tipe daun panjang, tipe daun thailand alias tipe hati, tipe bulat, dan tipe tumpuk.

Jenis daun panjang berciri bagian dasar daun terbuka dengan pusat urat-urat daun berimpit dengan dasar daun. Yang berdaun hati-tipe daun thailand, thai leave type-, bagian dasar daunnya lancip dengan urat-urat daun terpusat di tengah. Jenis bulat disebut begitu karena bentuk daunnya membulat dengan ujung-ujung tumpul. Daun tumpuk punya ciri ada semacam sayap di tangkai dekat dasar daun. Belakangan muncul tipe daun memanjang dan lancip seperti daun bambu. Makanya disebut tipe daun bambu.

Ragam bentuk itu didapat dari hasil penyilangan dan karena mutasi saat perbanyakan. Di dalam primbon dicontohkan. Ada jenis caladium tipe daun thailand. Namanya khun sriwichai. Saat umbinya dicacah-cacah muncul variasi daun menjadi bulat dengan warna tricolor. Ia diberi nama chang wad prana korn, artinya ibukota provinsi. Chang wad prana korn dicacah-cacah lagi. Didapatlah jenis baru berwarna merah dengan tipe bulat, disebut bicolor leaf. Namanya nakorn kuan khan.

Pemberian nama pun tak sembarang. ‘Generasi-generasi awal menggunakan nama-nama burung serta tokoh dalam puisi dan kisah pewayangan misal cerita Ramayana,’ kata Chaowalit yang juga wakil presiden Asosiasi Caladium Thailand itu. Pada 1983-berbarengan dengan terbentuknya asosiasi-muncul seri nama pahlawan. Jenis-jenis yang muncul belakangan, menyematkan nama penyilangnya.

Sesuai karakter

Pemberian nama disesuaikan dengan karakter keseluruhan tanaman, warna dasar daun, bentuk daun, serta bentuk dan ukuran titik-titiknya. Lazimnya jenis-jenis berdaun panjang diberi nama pahlawan dalam puisi-puisi yang diadaptasi dari sastra Tiongkok. Misalnya hok long, diambil dari nama karakter dalam puisi Cina.

Ada jenis bernama inao. Itu nama karakter dalam puisi yang dibuat oleh Raja Rama V. Tokoh itu punya wajah hitam dan selalu menggunakan sarung. Sang raja terinspirasi tokoh serupa yang ditemukan waktu berkunjung ke Indonesia. Keladi inao dinamai seperti itu karena motifnya mengingatkan pada sarung.

Nama jenis berdaun bulat biasanya diambil dari nama provinsi. Sebut saja chang watd narathiwat, nama provinsi di Thailand selatan. Jenis-jenis yang memiliki warna kuat dan vigor-merujuk sifat agresif dan berkesan maskulin-diberi nama dari tokoh kisah Ramayana. Misal ha nu man yang bertulang daun merah dengan warna hijau dan putih terpisah tegas.

Setiap jenis dijelaskan secara terperinci. Disebutkan keladi kun phaen warna dasarnya merah, punya totol-totol seperti pasir-kecil-kecil-di dekat ujung daun dengan warna emas mengkilap. Tulang utamanya berwarna merah. Sementara urat-urat kecilnya berwarna merah terang. Itu jadi panduan buat penyilang yang ingin membuat silangan baru, kolektor yang mencari jenis tertentu, pun pedagang yang melakukan jual-beli. Dari kitab lusuh bersampul kuning di tangan Chaowalit, cerita bonsi mengalir hingga kini. (Evy Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img