Monday, August 8, 2022

Seletar—Mandai Suatu Hari

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ditemani Chandra Gunawan, Enny D. Satoto, Yoseph, Sutikno, dan kawan-kawan dari Jawa Timur, Trubus mengunjugi farm-farm anggrek besar di negeri jiran. Perjalanan itu dipandu Yusof Alsagoff dan Mak Chin On, penganggrek kawakan di sana.

Mobil meluncur lancar menuju Seletar, melewati West Farmway yang hijau. Pepohonan seperti ki hujan dan dadap berbaris rapi di kiri dan kanan jalan. Jarak sekitar 30 km itu kami tempuh dalam waktu 40 menit. Seletar adalah wilayah di bagian utara Singapura. Di sentra itu, beberapa nurseri berjajar rapi. Kebun anggrek, tanaman hias, dan peternakan ikan hias dipusatkan. Tak satu pun rumah tinggal terlihat, hanya kebun dan kantor kecil di dalamnya.

Yang pertama kali kami kunjungi adalah Yee Peng Orchid Nursery. Di antara rintik gerimis, How Wai Ron, pemilik kebun bergegas keluar dari kantor menyambut kedatangan kami. Pria muda itu menemani kami berkeliling farm. Kebun seluas 2 ha terbagi 3 bagian: 2 bagian dipenuhi anggrek pot dan 1 areal vanda potong.

Rak-rak besi setinggi 1 m berisi deretan anggrek. Di atasnya dinaungi jaring plastik. Di bawah rak, tanah becek digenangi air hujan. Kebun Wai Ron—panggilan akrabnya— lebih didominasi hibrida dari vanda, cattleya, dan paraphalaenopsis.

Budiardjo

Cattleya-cattleya mini cukup banyak dipajang. Salah satunya ‘lea’ yang memamerkan bunga besar berwarna kuning. Wajarlah bila ia dianugrahi penghargaan AM/AOS (Award of Merit/ American Orchids Society).

Sementara rombongan lain tengah terlena menikmati kecantikan anggrek cattleya. Enny D. Satoto, asyik mencari anggrek paraphalaenopsis budiardjo. Pemilik Tingal Garden Centre di Ciputat, Tangerang, itu berminat mengembangkan anggrek lawas yang mengabadikan nama ayahnya, Budiardjo, mantan menteri penerangan dan ketua Persatuan Anggrek Indonesia PAI. Anggrek itu sudah hilang di Indonesia, sehingga Enny mencari ke Singapura.

Sungguh sebuah kejutan, di pelosok Singapura itu ratusan budiardjo tumbuh segar. Daunnya yang panjang saling menyilang. Beberapa di antaranya akar menempel di para-para. Enny pun segera memborong belasan budiardjo berbunga. Mendiang How Yee Peng, ayah How Wai Ron, sangat intens menyilangnya sehingga kini banyak varietas baru menghias nurseri yang dibangun pada 1951 itu.

Usai menelisik tanaman pot, Trubus, melihat anggrek potong, mokara willie how. Tampak permukaan bedengan dipenuhi gundukan serutan kayu segar. Ribuan tanaman tersusun rapi dengan jarak 40 cm x 30 cm. Semuanya ditopang kawat yang dipasang memanjang sehingga tetap tegak.

Di gudang, puluhan ikat bunga dengan tangkai dibalut kapas siap diantar ke konsumen. Anggrek potong berwarna kuning emas itu tambang duit bagi sulung 2 bersaudara itu.

Di areal sebelahnya, anggrek pot ditata berdasarkan jenis: dendrobium, vanda, cattleya menempati rak tersendiri. Salah satu dendrobium amat menonjol lantaran berbunga pink nan lembut. Warnanya kontras dengan lidah yang merah anggur. Pantas Chandra, Sutikno, dan Enny kesengsem memilikinya. Sayang segala rayuan yang dilontarkan untuk mendapatkannya tidak mempan. Wai Ron bersikukuh tidak menjual tanaman, kecuali bunga.

Setelah memilih buah tangan, kami membawa tanaman ke gudang untuk di kemas. Wai Ron yang bekerja sendiri itu terlihat amat sibuk. Tanaman dikeluarkan dari pot dan dibungkus koran. Sembilan puluh menit sudah kami menikmati pesona anggrek di farm itu.

Orchidsville

Tujuan berikutnya ialah Orchidville di kawasan Agrotech. Dari Seletar kami hanya butuh waktu 15 menit untuk mencapainya. Inilah produsen anggrek pot dan potong terbesar di Singapura. Produksi kebun seluas belasan ha itu mencapai 400.000 pot per tahun.

Pengunjung cukup masuk di ruang pamer berupa greenhouse seluas 1.000 m2 bila ingin melihat-lihat atau membeli bunga. Dari pintu masuk segera terlihat cattleya dan vanda mini yang diatur rapi di atas para-para setinggi 1 dan lebar 2 m. Harga terpasang pada secarik kertas di pasang di atas rak. Bunga-bunga itu ratarata dijual Sin$25 atau sekitar Rp120.000 per tanaman.

Vanda merah dan kuning dijejer di belakangnya. Menyusul dendrobium yang lebih murah, seperti mica red, sonia, dan champagne. Harga mica red dan sonia Sin$10, sedangkan champagne, Sin$12,5. Anggrek setinggi 50—60 cm itu rajin berbunga, satu tangkai berisi 10 kuntum. Yang setinggi 30 cm berbunga sampai 17 kuntum.

Sayangnya greenhouse yang tergolong mewah dan modern itu hanya berisi tanaman bermutu sedang. Ruangan dilengkapi 4 blower besar yang berfungsi meniupkan kabut air ketika kelembapan turun. Di bagian atas, beberapa jaring penaung tergulung rapi di bawah atap fi ber. Jaring itu secara otomatis bergerak membuka ketika sinar matahari bersinar terik. Lantaran mutu pas-pasan, sedikit jenis yang bisa dibawa pulang ke Indonesia.

Mandai Orchid Garden

Mandai Orchids Garden, yang tak jauh dari Orchidville menjadi tujuan berikutnya. Taman anggrek di Mandai Lake Road seluas 8 ha itu dapat dicapai dengan bus dari Orchad Road. Setelah membayar Sin$4 pengunjung bisa langsung melihat vanda menghampar di tengah kebun yang dirintis John Laycock pada 1951 itu. Anggrek menjadi pemikat utama kebun lantaran berbunga semarak. Warna-warni bunga merah, putih, kuning, dan putih kecokelatan tampak kontras dengan areal yang tertutup rumput hijau bak karpet.

Yang tak kalah menarik taman tropis di samping kebun. “Taman ini salah satu yang terindah di dunia,” tutur Mak Cin On, pemilik Mariland Nursery. Elemen taman berupa paduan tanaman tropis dan kolam ikan. Di antaranya ravenala, helikonia, dan palem-paleman. Sebagian rombongan kemudian beringsut ke areal tanaman hias. Ada empat screenhouse menaungi ratusan jenis.

Sebagian besar jenis yang biasa dijumpai di Indonesia, seperti dracaena, diffenbachia, dan homalomena. Makanya, Enny Satoto kurang tertarik. Ia lebih memilih bernostalgia dengan Mak—sapaan Mak Chin On dan Yusof di kafe. Kendati begitu, ada beberapa koleksi yang tergolong langka di Indonesia: begonia daun lebar, alamanda tegak, dan episcia daun merah.

Setelah puas memilih tanaman, barulah kami memasuki kawasan anggrek di tengah taman. Rombongan tak hanya mengagumi anggrek-anggrek berbunga lebat, tetapi juga varietas yang amat beragam. Trubus tak menyangka saudara dari vanda genta bandung—vanda tanah paling merakyat di Indonesia—mencapai puluhan jenis. Jenis lama seperti vanda josephine van brero hasil silangan V. insignis x V. teres, miss joaquim var rose marie (V. hookeriana x V. teres alba), dan vanda amy (V. hookeriana x V. tricuspidata) ditemukan di sini.

Silangan baru dari turunan paraphalaenopsis, aerides, dan aranda pun demikian banyak. Masing-masing varietas menempati satu bedengan. Ada yang berbunga putih, ungu, dan putih krem. Keindahan taman dan bunga-bunga itu dapat dinikmati dari pelataran kafe yang berada di kaki lereng bukit. Saking asyiknya, tak terasa kami habiskan 2 jam di tempat itu. Matahari hampir jatuh di kaki langit, kami pun beranjak untuk pulang. (Syah Angkasa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img