Thursday, August 18, 2022

Seluruh Dunia di Balai Pemuda

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Bercabang dua saja sudah langka, apalagi menjadi 5.

 

Euphorbia bupleurifolia itu pujaan hati Wijaya. Harap mafhum, si biji pinus-sebutan lain tanaman itu-memamerkan 5 cabang. Lazimnya tanaman asal Provinsi KwaZulu-Natal, Republik Afrika Selatan itu hanya terdiri dari satu batang utama yang terus memanjang. Wijaya makin kepincut begitu melihat calon cabang keenam mulai muncul.

“Ini unik,” kata hobiis di Surabaya, Jawa Timur, itu. Sebab kemungkinan bupleurifolia bercabang sangat jarang. Kalaupun bercabang biasanya muncul dari pangkal batang. Cabang pada bupleurifolia koleksi Wijaya justru muncul saat tinggi batang utama 7 cm. Keistimewaan lain, diameter kaudeks batang utama mencapai 8 cm. Diameter terbesar bupleurifolia di dunia hanya 6 cm. Bentuk batangnya persis sosok biji pohon pinus: berwarna cokelat, bertekstur kasar, penuh tonjolan tapi lebih rapat. Pantas bila Wijaya berani memboyong total 8 bupleurifolia unik itu dari Amerika Serikat.

Toh kenekatan itu terbayar sudah. Bupleurifolia mutasi itu menjadi salah satu euphorbia terbaik dalam ekshibisi pertama Cacti and Euphorbia 2012 di Surabaya, Jawa Timur, pada akhir Maret 2012. Sejak awal ekshibisi tanaman yang masuk dalam Convention on International Trade in Endangered Spesies (CITES) apendiks 2-berarti boleh diperdagangkan asal hasil penangkaran-itu sudah menjadi pusat perhatian. “Untuk memperoleh bupleurifolia dengan percabangan sebanyak itu serta performa keseluruhan yang apik sangat sulit,” tutur Dwi Wahyu Setyono, hobiis tanaman berkaudeks di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Naga terbang

Ekshibisi dalam rangka pengenalan dan edukasi ke masyarakat itu juga menampilkan E. primulifolia v subapoda berbonggol gendut berdiameter 12 cm. Hasil pencarian Wijaya ke beberapa kolektor di dunia belum ada subapoda lebih besar daripada koleksinya. Umur tanaman yang percabangannya seperti mahkota itu diperkirakan setengah abad. Pertumbuhan tanaman asal Madagaskar itu sangat lambat. “Dalam setahun belum tentu bertambah 1 cm. Saat umur tertentu pertumbuhan akan terhenti,” ujar Wijaya.

Lalu lihat juga sosok E. waringiae. Waringiae berdiameter kaudeks 5 cm dari Jerman itu membuat Hendick Purwanto, si empunya, jatuh cinta pada pandangan pertama. Sosok tanaman itu unik dengan bonggolnya yang berwarna merah dengan tekstur kulit kasar seperti tanah kering yang retak-retak. Persis seperti bonggol Dioscorea elephantipes. “Tekstur kasar itu tanda tanaman berasal dari alam. Bukan hasil dari budidaya di nurseri,” ujar Hendick. Banyak penangkar di mancanegara yang memperoleh koleksi tanaman dari alam, lantas merawat dan memperbanyaknya di nurseri.

Mau yang lebih unik? Tengok saja E. cremersii koleksi Hendick. Sekilas sosok tanaman seperti kepala naga. Batangnya merunduk ke bawah dengan daun berdiri tegak seperti melawan gravitasi. Warna daun atraktif. Bagian atas daun yang bergerigi itu berwarna hijau sementara sisi bawah merah merona. Kaudeksnya bulat sempurna seperti bola pingpong, tapi sedikit lebih besar.

Di alam euphorbia berdiameter kaudeks 4 cm itu tumbuh di hutan kering di Madagaskar. Bonggolnya terbenam dalam serasah hutan. Di tangan Hendick, cremersii tampil anggun bak sang naga tengah bersiap terbang. Si naga terbang juga tumbuh superlambat. “Sejak dibeli setahun silam tidak bertambah besar, kemungkinan ukuran kaudeks sudah maksimal,” tutur Hendick. Oleh karena itu, “Kebanyakan penggemar tanaman kaudeks memiliki sifat sabar. Sebab untuk menunggu pertumbuhan tanaman koleksi saja butuh waktu bertahun-tahun,” tutur Eko Wahyudi, hobiis di Cianjur, Jawa Barat.

Kelas dunia

Euphorbia merupakan genus besar yang terdiri atas 2.000-an spesies tanaman. Kelangkaan dan keeksotisan bentuk tanaman membuat para hobiis jatuh cinta.

Pada ekshibisi yang berlangsung di Balai Pemuda Kota Surabaya itu euphorbia kaudeks asal gurun dan padang rumput ditata apik dalam pot. Bonggol-bonggol besarnya dibiarkan menonjol sehingga terlihat eksotis. “Ekshibisi ini benar-benar luar biasa. Walaupun baru pertama kali diselenggarakan di Indonesia tetapi tanaman yang ditampilkan lengkap dan kelasnya internasional,” ujar Didi Turmudi yang menjadi promotor pengenalan tanaman kaudeks di Indonesia.

Bersamaan dengan ekshibisi selama 3 hari itu lahirlah komunitas Cactus and Succulent Society of Indonesia. Menurut Wijaya, ketua, komunitas itu untuk menyatukan penggemar sukulen di seluruh Indonesia. Harapannya dengan berorganisasi, maka komunikasi antaranggota mengenai koleksi-koleksi baru akan lebih mudah terjalin. Maka euphorbia unik terbaik dunia ada di Indonesia. (Tri Istianingsih)

 

Keterangan Foto :

  1. Euphorbia bupleurifolia koleksi Wijaya langka dengan lima cabangnya
  2. Euphorbia primulifolia v subapoda, bentang tanaman 15 cm, terbesar di dunia
  3. Euphorbia waringiae, kulit kaudeks yang kasar dan retak-retak tanda tanaman diperoleh dari alam
  4. Euphorbia cremersii sangat langka, termasuk dalam CITES apendiks I
  5. E. millotii asal Madagaskar, daunnya lentur seperti karet
  6. Euphorbia cylindrifolia v tuberifera unik seperti miniatur pohon besar
  7. Sebagian anggota Cactus and Succulent Society of Indonesia
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img