Saturday, August 13, 2022

Semangka : Nonbiji Andalan Petani Sigi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Semangka nonbiji kelas A berbobot lebih dari 3,5 kg per buah. (Dok. Boimin)

Irigasi di sentra hortikultura rusak akibat gempa bumi. Petani memilih semangka untuk meraup omzet besar.

Trubus — Boimin semringah usai panen semangka pada siang yang terik pada akhir April 2020. Petani di Desa Jonooge, Kecamatan Sigibiromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, itu memetik 23 ton semangka kelas A per hektare. Semangka kelas A berbobot lebih dari 3,5 kg per buah. Pengepul datang ke lahan memborong Rp3.000 per kg. Itu belum termasuk semangka kelas B—bobot 2,5—3,5 kg.

Harga semangka kelas B Rp5.000 per buah. Pengepul membawanya ke Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Total omzet Boimin sekitar Rp70 juta per hektare untuk satu periode tanam atau 3 bulan. Boimin membudidayakan semangka nonbiji warna merah dan kuning di lahan 2 hektare. Laki-laki kelahiran Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, 5 Juni 1966 itu menanam semangka 3 periode berturut-turut.

Petani semangka di Desa Jonooge, Kecamatan Sigibiromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Boimin. (Dok. Trubus)

Penyerbukan bantuan

Menurut Boimin populasi 6.000 tanaman per hektare. Ia selalu menyelipkan tanaman semangka berbiji untuk penyerbukan. Ia menanam 350 tanaman berbiji di antara 6.000 tanaman tanpa biji. Posisi tanamnya bebas. Teknisnya, ia mengambil serbuk sari bunga jantan semangka berbiji dan mengoleskannya pada bakal buah bunga betina semangka nonbiji.

Sejatinya semangka nonbiji juga memiliki bunga jantan tapi serbuk sarinya sudah dimandulkan alias tak dapat menyerbuki bakal buah. Alumnus SMA PGRI Srono, Banyuwangi, itu menyerbukkan semangka pada umur 28 hari setelah tanam (hst). Selama sepekan, ia dan istri memeriksa keberadaan bakal buah tiap tanaman. Itu lantaran bakal buah tidak muncul serempak.

Sehektare menghasilkan 23 ton semangka kelas A. (Dok. Boimin)

Waktunya pun terbatas pagi hari sebelum pukul 10.00. Bunga semangka menutup setelah jam itu. Polinasi manual terhadap semua bakal buah yang muncul di setiap tanaman. Menurut Boimin tingkat keberhasilan penyerbukan manual mencapai 100% asalkan tidak turun hujan pascapolinasi. Ia menuturkan, “Kalau tidak ada hujan biasanya berhasil semua. Serbuk sari yang telah ditempelkan pada bakal buah terbawa air hujan sehingga tidak terjadi pembuahan.”

Sepekan setelah penyerbukan buatan, Boimin akan mengecek keberhasilannya. Saat itu tanaman berumur 40 hari sejak tanam. Boimin akan mempertahankan bakal buah yang berbentuk bagus, tangkai buah besar, dan kulit buah mengilap. Oleh karena itu, ia membuang buah yang tidak memenuhi syarat.

Sulit air

Petani di Kabupaten Sigi Sulawesi Selatan, membuat sumur untuk mengairi tanaman semangka. (Dok. Trubus)

Ahmad Ihwanudin dan rekan-rekan dari Program Studi Agroteknologi, Universitas Jember meriset faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan polinasi manual semangka nonbiji. Kondisi bunga jantan ternyata berpengaruh terhadap kemampuan serbuk sari membuahi putik. Persentase keberhasilan tinggi bila petani mengambil serbuk sari dari bunga jantan sehari sebelum mekar (78,65%) atau saat mekar sempurna (74,11%).

Indikasi gagalnya polinasi adalah bunga betina rontok 3—4 hari pascamekar. Selain kondisi bunga, waktu penyerbukan turut menentukan keberhasilan pembentukan buah. Ahmad dan rekan-rekan mengamati waktu penyerbukan paling optimal 06.00—08.30 dengan tingkat keberhasilan rerata 68%. Uji coba polinasi pada pukul 09.00—10.00 tingkat keberhasilannya hanya 49,85%.

Boimin menanam semangka 2—3 kali setahun dengan jeda padi. Namun, ia mengganti padi dengan jagung manis pascagempa dan likuefaksi yang melanda Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Sigi pada 28 September 2018. Musababnya saluran irigasi yang bersumber dari Danau Lindu di Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, rusak. Boimin dan petani lain yang semula dapat mengakses air gratis itu harus merogoh kantong lebih dalam untuk mengairi tanaman.

Jagung menjadi alternatif lahan kurang air. (Dok. Trubus)

Itulah sebab petani di Jonooge dan daerah lain yang terdampak bencana menggantinya dengan komoditas lain yang lebih irit air seperti jagung manis. Lagi pula jagung manis umur panennya sekitar 70 hari, sedangkan semangka 55—60 hari. Dengan demikian ia masih bisa tanam semangka 3 periode.

Boimin tetap membudidayakan semangka lantaran hemat air. Ia hanya perlu mengairi semangka 1—2 kali sepekan. Itu pun asal tanah basah, tidak sampai menggenang. Boimin membuat 2 sumur dangkal sedalam 8—12 m di setiap hektare lahan. Ia mengeluarkan Rp2 juta—Rp3 juta untuk irigasi per hektare tiap periode tanam. Meski biaya produksi cenderung meningkat, petani tetap menanam dengan alternatif tanaman hemat air.

Data Badan Pusat Statistik menyebutkan Kecamatan Sigi Biromaru berketinggian 22—257 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan Desa Jonooge 140 m dpl. Sebesar 65% lanskapnya terdiri atas dataran dan sisanya perbukitan serta pegunungan. Daerah itu subur dan menjadi penyuplai hortikultura kabupaten lain. (Sinta Herian Pawestri/Peliput: Muhamad Fajar Ramadhan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img