Friday, August 12, 2022

Semarak Organik Sebiduk Sehaluan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Para petani padi di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, beralih ke budidaya padi organik. Permintaan cenderung melonjak.

Bupati Ogan Komering Ulu Timur, Provinsi Sumatera Selatan, H.M. Kholid Mawardi, S.Sos., M.Si. (Dok. Trubus)

Trubus — Bidang pertanian di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, berkembang pesat sejak masa pemerintahan H.M. Kholid M.D., S.Sos., M.Si. Kholid mampu mewujudkan visi dan misinya di bidang pertanian dengan baik. Visi Kholid di bidang pertanian yaitu terwujudnya petani modern guna menghasilkan komoditas produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Beras organik salah satu pengejawantahan visi pertanian Kholid yang sukses di masyarakat.

Menurut Kholid saat ini sekitar 191,93 hektare lahan menerapkan budidaya organik. Yang tersertifikasi organik baru 34,3 ha yang meliputi 6 gapoktan. “Awalnya kami beralih ke beras sehat, belum organik. Perlu tiga tahun menghilangkan sisa bahan kimia di sawah. Setelah itu kami menerapkan budidaya organik,” kata master sains alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Candradimuka itu. Kholid kerap mengajak petani studi banding budidaya padi organik ke Tasikmalaya, Jawa Barat, dan Wonogiri (Jawa Tengah).

Tantangan

Tujuannya agar petani mendapatkan semua ilmu bertanam padi organik langsung dari ahlinya sehingga bisa dipraktikkan dengan baik dan benar di OKU Timur. Termasuk cara pembuatan pupuk organik sehingga para petani bisa mandiri pupuk sekaligus memanfaatkan limbah pertanian yang melimpah. Dengan kata lain, tercipta budidaya pertanian terintegrasi tanpa limbah. Perjuangan Kholid memajukan pertanian organik di kabupaten berjuluk Sebiduk Sehaluan itu tak mudah.

Sangat sulit mengubah pola pikir para petani dari budidaya konvensional menuju organik. Meski begitu Kholid pantang menyerah. Ia terus mengampanyekan budidaya padi organik. Perjuangan Kholid yang tak kenal lelah berbuah manis pada 2014. Terutama ketika harga beras organik Rp12.000/kg, sedangkan beras biasa Rp7.000/kg. “Begitu harga beras organik bagus, para petani mulai tertarik membudidayakan padi secara organik,” kata pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, itu.

Bupati OKU Timur, H.M. Kholid M.D., S.Sos., M.Si., (berbaju putih dan bertopi hitam) meninjau langsung lokasi pencetakan sawah baru secara mandiri oleh warga. (Dok. Trubus)

Sebetulnya tantangan pengembangan beras organik tidak hanya dari petani, tapi juga dari dinas terkait. Para petani mesti memiliki sertifikat organik sebagai bukti sahih bahwa mereka membudidayakan padi secara organik dan mengolahnya menjadi beras organik bermutu. Sertifikat organik sangat penting untuk memastikan keberlangsungan dan kebermanfaatan beras organik bagi petani dan lingkungan.

Harap mafhum, pertanian organik sudah berjalan 3 tahun tapi sertifikat organik belum keluar. Oleh sebab itulah ia memaksa kepala dinas terkait untuk mewujudkan sertifkat organik. Jika gagal, jabatan kepala dinas itu dicopot. “Dengan kalimat akan saya ganti, memacu semangat untuk sukses,” kata Bupati OKU Timur periode 2016—2021 itu. Kholid tidak hanya membekali para petani dengan pengetahuan seputar budidaya. Ia pun aktif mempromosikan beras organik produk OKU Timur di berbagai acara seperti pameran.

Kholid kerap mengajak petani berpartisipasi dalam pameran pertanian di berbagai daerah seperti di Jakarta. Pria berumur 61 tahun itu juga sangat memperhatikan desain dan merek produk beras organik OKU Timur. Perjuangan panjang itu tidak mengkhianati hasil. Buktinya ada distributor yang meminta pasokan 500 ton beras organik per bulan kepada Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Makmur, Abdul Kodir. Salah satu konsumen Kodir juga mengatakan beras organik OKU Timur yang laing enak.

Permintaan meningkat

Beras organik berkualitas prima salah satu produk unggulan OKU Timur. (Dok. Humas OKU Timur)

Ia mendapatkan informasi itu dari distributor beras organik di Jakarta. Permintaan distributor yang cenderung meningkat saban tahun menunjukkan informasi itu akurat. Petani beras organik di Desa Sumbersuko, Kecamatan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, itu, menuturkan, “Semula saya hanya memasok sekitar 100 kg beras organik kepada distributor itu pada 2015. Kini saya memasok sekitar 500 kg per bulan.”

Bahkan, pada Juli 2020 muncul distributor baru yang meminta pasokan 500 ton beras organik setiap bulan. Ia terus berupaya agar dapat memenuhi semua permintaan itu. Semua permintaan itu ibarat angin segar bagi Kodir di tengah pandemi. Adanya permintaan itu makin meneguhkan beras organik produksi OKU Timur bermutu bagus. Itu salah satu wujud keberhasilan budidaya padi organik yang digagas Kholid.

Dukungan lain dari Pemerintan Kabupaten OKU Timur yakni dibentuknya satuan tugas organik pada 2016. Tugasnya mendampingi petani organik mulai dari urusan administrasi, budidaya, hingga pemasaran. Kholid menargetkan sawah bersertifikasi organik terus meningkat. Dengan begitu masyarakat lebih sehat karena mengonsumsi beras organik. Lingkungan pun menjadi lebih baik. Yang paling penting budidaya organik menguntungkan petani. (Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img