Wednesday, August 10, 2022

Semarang National Reptile Contest 2009 Kilau Emas L’mon C

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Sebenarnya python umur 1,5 tahun itu tidak dijagokan Budi. Itu lantaran, ‘Dua minggu lagi ia bakal shading alias ganti kulit, sehingga saat bertanding warnanya mulai memudar,’ kata Budi. Beruntung warna kuning yang dibungkus pinggiran hitam dan bercak hijau itu tebal. Karena itu saat terpapar cahaya lampu warnanya tetap tegas.

Keunggulan lain, L’mon C bertubuh langsing, proporsional dengan ukuran kepala. Padahal, makannya rakus. ‘Kebanyakan ular yang makannya digenjot bertubuh lebih besar daripada kepala,’ ucap Dri. Selain itu, L’mon C unggul karena punya corak rantai teratur. Semua keistimewaan itulah yang membuatnya sukses menyingkirkan 30 pesaing.

Menang tipis

Jevon, rival terdekat, juga bertubuh langsing dengan corak rantai rapi. Namun, klangenan Eric B di Jakarta itu kalah 1 poin dari sang jawara karena warnanya kurang ngejreng. ‘Kuningnya cukup tebal, tapi kurang terang,’ ungkap Andreas Surya Dharma, juri dari Surabaya.

Ketatnya persaingan juga terjadi di kategori open boa constrictor nonmorph. Vivi, red tail boa, tampil maksimal dalam balutan kulit campuran cokelat kemerahan. Ditambah corak bulat yang tersusun rapi sepanjang tubuh, klangenan Rizqi di Semarang itu berhasil merebut juara pertama.

Arjuna pesaingnya, juga berjenis red tail. Kombinasi warna merah dan cokelat yang tidak beraturan membuat kulitnya tampak seperti berwana kaliko alias 3 warna. Namun, perjalanan darat selama 8 jam dari Jakarta ke Semarang, membuatnya stres. Akibatnya warna itu memudar.

Kategori open boa dimenangkan Emy, emerald tree boa. Itu berkat warna merah yang ditaburi bintik putih solid. ‘Merahnya terang. Sulit menemukan ular yang seperti itu,’ ucap Dri. Berbeda dengan semua rival yang kebanyakan warnanya turun karena stres. Contohnya Mada, madagascar tree boa, kepunyaan Budi Wonosasmito yang hijaunya kurang ngejreng.

Kategori colubrid yang diikuti lebih dari 30 kontestan pun berlangsung ketat. Sanglo tampil memukau dengan corak garis dan kotak teratur. Penampilan sunglow motley cornsnake itu kian unik dengan warna kombinasi merah dan jingga menyala. Normalnya, jenis motley berwarna merah tua. Saat diraba dari kepala sampai ekor tulangnya kokoh. Klangenan Bertone asal Wangon, Jawa Tengah, itu diganjar juara pertama open colubrid.

Kelik, cornsnake albino, tak kalah unik. Matanya merah dan kulit kombinasi merah serta jingga. Sayang, beberapa corak bulat tampak tidak beraturan sehingga mengurangi nilai. Karena itu pada klangenan N Reptile asal Malang itu terpuruk di posisi kedua.

Langka

Selain ular, digelar juga lomba open leopard gecko dan fat tail. ‘Banyak gecko baru yang langka,’ kata Dri. Faktor kelangkaan itu memuluskan langkah Alesha menjadi juara. African fat tail itu punya mata dan kulit merah menyala alias albino tangerine. Keistimewaan lain, kampiun kontes reptil di Surabaya akhir 2008 lalu itu berekor gemuk tetapi proporsional dengan ukuran kepala.

Taggy, wakil dari leopard gecko, juga langka dengan ekor merah dan tubuh jingga alias super hypo tangerine carrot tail. Dibandingkan sang jawara, kulit Teggy lebih terang. Namun, gara-gara setitik bekas luka di kepala, langganan juara itu terlempar ke posisi kedua.

Meski ketat, kontes yang digelar 8 Maret 2009 di Atrium Arjuna Plasa, Semarang, itu meriah, sesuai dengan temanya: Pets Fun Days. Menurut Baruno, panitia lomba, kontes itu sekaligus memperingati hari jadi Griya Satwa Lestari (GSL)-klinik, penitipan, dan salon hewan-yang ke-10. (Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img