Sunday, August 14, 2022

Semarang Reptile Contest 2007 : Princess, Tampil Tenang Raih Juara

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img


‘Ia betul-betul jinak,’ ujar Weni Herlambang, salah satu dewan juri. Padahal jenis reticulatus biasanya gampang marah. Dikagetkan sedikit saja ia akan berbalik, lalu menggigit. Seorang hobiis ular pernah bercerita, ia pernah digigit reticulatus menyisakan sampai 50 jahitan.

Klangenan Rully Noorendra itu dinobatkan sebagai juara setelah berhasil menumbangkan 8 lawan-lawannya. Saingan terberat datang dari Choky. Python bermotif batik itu tak kalah bagus. Kondisi kesehatannya pun prima. Namun, karena kalah jinak, juri hanya menempatkannya sebagai juara kedua.

Bersaing ketat

Pertarungan tak kalah seru juga terjadi di kelas open baby python. Dari 10 peserta yang turun gelanggang, Zack, milik Arif dari Surabaya terpilih sebagai yang terbaik. ‘Tubuhnya mulus tidak ada luka, kesehatannya dalam kondisi prima. Selain itu dia juga tenang sekali,’ ujar Budi Wonosasmito, juri asal Surabaya. Ia ditempel ketat Python morulus andalan Pirih Morulus Farm, Surabaya. Namun Zack lebih jinak, sehingga black Albert’s python itu tetap unggul. ‘Python jenis itu mudah sekali menggigit, menjinakkannya juga tidak semudah jenis morulus,’ tambah anggota klub reptil Smiley, Surabaya itu.

Di kategori open impor terjadi pertarungan sengit. Pesertanya paling banyak, 15 ekor. Kualitas masing-masing peserta berimbang. Wajar jika juri kesulitan menentukan sang juara. Setelah berdiskusi panjang akhirnya Dino ditetapkan sebagai pemenang. Dino, Python morulus, memiliki corak yang cukup cantik. ‘Warnanya terang, kondisi tubuh mulus. Tidak ada luka. Secara keseluruhan dia terlihat sempurna,’ ujar drh Slamet Raharjo, MP, juri asal Yogyakarta.

Bermodal keunggulan itu Dino mampu mengalahkan lawan terberatnya, Rocky. Ular jenis African rock phyton itu sejatinya tak kalah memikat. Ia memiliki warna dan motif yang bagus. ‘Biasanya African rock python warnanya gelap, tapi Rocky memiliki warna dan motif yang terang,’ tambah pria yang akrab disapa Memet itu. Sayang, warnanya kalah terang dibandingkan Dino. Rocky pun harus pasrah bertengger di posisi kedua.

Di kategori lain, open jumbo, perhatian pengunjung tertambat pada 2 peserta yang sama-sama memikat. Corak kulit yang membalut tubuh sepanjang 4 meter itu menawan: cokelat kehitaman dengan perpaduan garis-garis putih. Kesan garang karena ukuran kepalanya sebesar kepalan tangan orang dewasa hilang oleh keindahan kulitnya. Juri memilih Abduliana, kebanggaan Klub Ophio dari Yogyakarta, sebagai pemenang lantaran ia lebih terang. ‘Python reticulatus berjenis kelamin betina ini memang sangat jinak,’ kata Sunu, salah satu anggota klub Ophio.

Menurut Sunu, bila sejak kecil dibiasakan berinteraksi dengan manusia, maka instingnya akan berubah. ‘Ia tidak akan menyerang manusia,’ ujar Sunu. Karena itulah, Liana-demikian ular besar itu biasa dipanggil-bisa sangat jinak. Selama kontes berlangsung ia terlihat sangat akrab dengan peserta kontes.

Balap kura-kura

Kontes yang digelar pada 25 Februari 2007 itu bagian dari rangkaian peringatan sewindu Griya Satwa Lestari (GSL), Semarang. Acara yang diselenggarakan di Taman Keluarga Berencana, Semarang itu diikuti oleh klub-klub reptil dari kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Kontes berlangsung meriah dengan diikuti lebih dari 50 peserta.

Selain ular, kadal dan kura-kura turut ambil bagian. Meski hanya diikuti beberapa kontestan, penampilan kadal istimewa itu banyak mengundang decak kagum pengunjung. Lebih-lebih ketika menyaksikan kura-kura beradu lari, tepukan penonton selalu mengiringi langkah mereka.

Acara kian lengkap dengan tampilnya 4 penari jaipong asal Universitas Negeri Semarang. Mereka menari sambil membawa ular, memukau pengunjung. ‘Ular ternyata bisa bersahabat dengan manusia,’ kata Lydia Aprisiari dari Klub Sioux, Jakarta yang ditugasi memberikan penjelasan tentang prilaku reptil. ‘Itulah tujuan kontes kali ini, yaitu memberikan edukasi dan mengubah persepsi masyarakat, bahwa reptil sesunguhnya tidak menakutkan. Bahkan bisa dipelihara,’ ujar drh Anna Ekawati, panitia acara.

Sayang, jalannya kontes sempat terhambat oleh hujan deras yang turun tiba-tiba. Kontes pun harus ditunda selama 3 jam karena panggung sempat terendam banjir. Akibatnya bisa ditebak, acara baru berakhir pada pukul 18.00 setelah para pemenang diumumkan. (Lani Marliani)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img