Thursday, July 25, 2024

Sembalun, Kala Sangga Jadi Tumpuan

Rekomendasi
- Advertisement -

Memasuki Desa Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dari arah Aikmel—kecamatan di kaki Gunung Rinjani sebelum Sembalun— sungguh menyuguhkan pemandangan menawan. Selepas menyusuri jalan berliku menembus hutan yang sebagian masih perawan, Trubus tiba di sebuah tempat landai di ketinggian 1.500 m dpl. Posisinya mengingatkan pada kawasan Puncak Pass di Cipanas, Jawa Barat.

Dari tempat itu, tampak di kejauhan 2 kelompok perumahan beratap genting yang dipisahkan oleh sawah dan tegalan hijau. Pada pagi menjelang siang di penghujung Desember itu, kabut agak mengaburkan pandangan. Toh, itu tak mengurangi rasa takjub memandang Sembalun dari kejauhan.

“Yang di sebelah kanan itu Desa Sembalun Bumbung, sementara yang di kiri Sembalun Lawang,” tutur Ir Ahmad Sarjana, kepala Balai Pengawasan dan Sertifi kasi Benih Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mendampingi Trubus. Dilihat dari atas, 2 desa itu seperti menyendiri terimpit di antara kaki-kaki Rinjani.

Makmur

Sebuah patung bawang putih setinggi 1,5 m di pintu Sembalun Bumbung seperti menegaskan posisi Kecamatan Sembalun sebagai penghasil Allium sativum. Rumah tinggal berdinding tembok dan jalan aspal membelah desa bukti berkah keluarga Liliaceae itu untuk seluruh warga.

“Orang Sembalun berjaya karena bawang putih. Apapun bisa dibeli,” kata H Mustiadi. Ucapan mantan kepala Desa Sembalun periode 1972—1988 itu bukan sekadar omong kosong. Bahkan saat aliran listrik belum menembus 2 desa yang merupakan “pintu masuk” menuju Rinjani itu, penduduknya sudah sanggup membeli perangkat elektronik seperti kulkas. Walhasil, lemari es itu Cuma sekadar pajangan atau beralih fungsi jadi lemari pakaian atau makanan.

Setiap tahun ada saja warga desa berjarak tempuh sekitar 3 jam dari Mataram—ibukota NTB—itu yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Maklum keuntungan menanam langsuna—begitu Suku Sasak, penduduk asli Lombok, menyebut bawang putih—minimal 3 kali modal kerja.

Mustiadi menghitung, dengan kebutuhan modal Rp16-juta per ha pada periode 1996—1997 minimal Rp40-juta keuntungan bersih di tangan. Itu hasil penjualan 30 ton produksi bawang putih dengan harga Rp2.000—Rp2.500 per kg. Pantas bila saat itu 100% penduduk  Sembalun berprofesi sebagai petani bawang putih.

Shang-hai

Warga di sana pantas berterima kasih pada saudagar-saudagar asal Cina. Konon mereka—terutama yang dari Shang-hai —lah yang pertama kali memperkenalkan bawang putih. Berawal dari umbi yang dibawa dari negeri Tirai Bambu, kerabat kucai A. schoenoprasum itu membudaya di Sembalun. Itu yang lantas dikenal sebagai bawang putih sangga—merujuk kata Shang-hai. (baca: Langsuna Titipan dari Shang-hai halaman 90)

Mula-mula penanaman hanya di kebun atau pekarangan rumah, sekadar ada untuk keperluan dapur. Pengusahaan besar-besaran dimulai pada 1961. Waktu itu harga kopi yang jadi andalan penduduk anjlok. Umbi beraroma tajam itu jadi penyelamat lantaran saat itu ada pengusaha yang mau menampung dengan harga tinggi. Dengan sekuintal ncuna—sebutan bawang putih di Bima—petani mendapat 2 kuintal beras.

Penanaman memanfaatkan lahan di bawah tajukan tanaman hutan seizin Dinas Kehutanan setempat. Mula-mula areal penanaman hanya 50 ha. Lalu berkembang hingga 450 ha pada 1980. Luasan itu dikelola oleh 10 kelompok terdiri atas 600 petani. Untuk mengatur pengelolaan, diadakan rembuk desa. Hasil musyawarah antara kepala desa, tokoh masyarakat, dan petani maju itu diumumkan 3 minggu sebelum musim tanam.

Bawang putih ditanam dalam bedengan-bedengan selebar 1,10 m dengan jarak tanam 10 cm x 12 cm. Panjang bedengan bervariasi mengikuti kontur lahan. Penanaman nyaris tanpa perawatan intensif. Menurut istilah Mustiadi mereka hanya mengikuti naluri. Tanaman tidak pernah dipupuk atau disemprot pestisida. Paling-paling hanya disiangi sampai panen tiba. Pengairan sangat mengandalkan kemurahan alam. Makanya bawang putih mulai ditanam pada Januari—Februari, awal musim hujan.

Panen raya

Pada 1981, penanaman dialihkan ke lahan sawah. Saat itu keluar peraturan yang melarang penanaman di dalam hutan. Berbarengan dengan itu mulailah para pekebun mengenal budidaya secara intensif. Akibatnya hasil panen melonjak dari 10 ton per ha menjadi 36 ton. Penanaman yang semula hanya sekali setahun dibagi menjadi 3 periode. Yaitu pada Januari—Februari di lahan kebun kopi milik warga, Maret—April di sawah tadah hujan, dan Mei—Juni di sawah beririgasi. Total jenderal lahan yang diusahakan mencapai 913 ha setiap tahun. Penanaman terluas pada musim tanam Mei—Juni.

Dampaknya jelas terasa. Dengan produksi berlipat dan luasan tanam bertambah Sembalun menjadi sentra bawang putih. Saat panen raya tiba, ikatan-ikatan umbi berdaun yang sedang dijemur dengan mudah ditemukan di rumah-rumah penduduk. Seratus persen hasil panen dipasarkan ke Jawa dengan harga memikat. Jakarta dan Surabaya, 2 pasar terbesar. Desa di kaki gunung tertinggi ke-3 di Indonesia itu pun berubah total.

Rumah adat beratap ilalang berganti menjadi tembok beton. Jalan aspal nan mulus dinikmati. Peranti elektronik lumrah ditemukan di setiap rumah meski sampai beberapa lama listrik belum tersedia. Menunaikan ibadah haji seperti perjalanan rutin. Kebanggaan penduduk Sembalun kian membuncah kala panen raya pada 1997 dihadiri Presiden Soeharto.

Imbas impor

Sayang, bulan madu itu tiba-tiba mesti berakhir seiring masuknya bawang putih impor pada 1998. Pendatang dari Cina, Filipina, dan Brazil menyebabkan harga produk lokal tak menentu. “Mendapat harga Rp3.000 per kg untuk menutup biaya saja kita tidak dapat bersaing,” kenang Mustiadi. Bawang impor dibandrol Rp2.500 per kg.

Akibatnya pelanggan dari Jawa menyetop permintaan karena lebih memilih produk impor. Bantuan modal melalui Kredit Usaha Tani justru membuat petani makin tercekik lantaran tak sanggup membayar utang. Sentra bawang putih Sembalun pun kolaps. Musim tanam 1999 masa terakhir penduduk menanam garlic.

Pascaperistiwa itu mau tak mau petani mesti banting setir. Dari 100% mengusahakan bawang putih mereka lantas melirik wortel, kubis, kentang, dan cabai keriting. Hanya saja pendapatan dari menanam sayuran dataran tinggi itu tidak sebanding keuntungan ketika mengusahakan bawang putih. Apalagi risiko kerusakan lebih besar, sayuran mesti dijual sekaligus lantaran tidak tahan lama. Bawang putih awet 1 tahun.

Pantas jika kemudian penduduk mulai menanam bawang putih kembali. Meski kondisi belum sekondusif dahulu perlahan luas penanaman terus bertambah. Dari 913 ha yang dulu sempat tertanam sekarang baru 300 ha yang berproduksi.

Toh para pekebun pantang menyerah. “Tahun ini (2004, red) harga relatif stabil,” kata Mustiadi. Melihat kondisi seperti itu penanaman pada Mei—Juni 2005 diprediksi bakal meluas. Kala umbi dipanen 100—110 hari kemudian, sebuah asa disandarkan. Sangga kembali m e n j a d I t u m p u a n . ( E v y Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kelapa Genjah Merah Bali, Eksotis dan Produktif

Trubus.id—Kelapa genjah merah bali merupakan kelapa baru yang eksotis dan produktif. Secara umum berbunga pada umur 2—2,5 tahun dan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img