Monday, November 28, 2022

Semelai Merawat Warisan

Rekomendasi

Kapal baning Phyllagathis rotundifolia, digunakan suku Semelai untuk mengobati tekanan darah tinggiSuku Semelai mempertahankan warisan leluhur demi menjaga kebugaran.

 

Peret chengrang Agrostistachys longifolia, digunakan warga suku Semelai untuk mengobati sakit perut dan diare berdarahSegedang Smilax calophylla dipercaya sebagai pendongkrak stamina priaChepot Elettariopsis curtisii obat demam dan sakit kepalaHashim Inolan menyirih dan mengunyah pinang untuk menjaga kesehatan gigi dan mulutAlat dan bahan yang digunakan suku Semelai untuk menyirihPahang, Malaysia, pada sebuah rembang petang. Hashim Inolan beranjak dari beranda ke dalam rumah. Sesaat kemudian ia kembali sambil membawa sebuah keranjang terbuat dari daun pandan. Isi keranjang itu perlengkapan menyirih seperti buah pinang seukuran telur ayam. Biasanya ia menumbuk daun sirih, daging biji pinang, dan kapur makan dalam pipa polivinilklorida sebelum melumatnya. Ujung pipa berdiameter 2 cm itu tersumbat kayu.

Namun, Hashim tengah kehabisan daun sirih. Itulah sebabnya senja itu Hashim hanya menikmati biji pinang. Ia tak canggung menerima wartawan Trubus sembari “menyirih”. Di tengah kemajuan pembangunan Malaysia, kebiasaan suku Semelai hingga kini masih bertahan. Suku Semelai mendiami Pos Iskandar di tepi Danau Bera, Negeri Pahang, Malaysia, 3,5 jam bermobil dari Kualalumpur, ibukota negara jiran itu. Wajar jika hampir di setiap rumah tumbuh pohon pinang Areca catechu dan sirih Piper betle.

Hashim percaya menyirih menyehatkan gigi dan mulut. Sirih dan pinang memang terbukti secara ilmiah berkhasiat sebagai antibakteri. Deretan gigi Hashim yang berusia hampir setengah abad itu masih kokoh, belum tanggal, dan tak pernah sakit. Selain budaya menyirih, Semelai juga memegang teguh ramuan herbal untuk mengatasi berbagai penyakit. Contohnya keluarga Rahman Mekchi di Kampung Pathir, Distrik Bera, Negeri Pahang.

Bila anggota keluarga demam, Rahman bergegas mencari daun chepot Elettariopsis curtisii di hutan, 30 menit berjalan kaki dari rumah. Ia menumbuk beberapa helai daun tanaman anggota famili Zingiberaceae itu hingga halus dan aromanya menguar.  Setelah itu ia membalurkannya pada dahi untuk mengompres demam. “Bubur daun chepot juga mengurangi sakit kepala yang menyertai demam,” ujar Rahman.

Ketika cucunya yang berusia 4 tahun demam, Rahman merebus beberapa helai daun dan irisan umbi chepot. Air rebusan itu Rahman gunakan untuk memandikan cucunya yang tengah demam. Jika sulit mendapatkan chepot, Rahman menggunakan tanaman obat lain berkhasiat sama yakni sirih pareh atau sirih biawak Piper cf. caninum. Ia hanya menyeduh beberapa daun, lalu mengguyurkan air hangat suam kuku itu ke tubuh anak yang sedang demam.

Di setiap kampung suku Semelai biasanya terdapat bomoh dan puyang. Bomoh julukan untuk pengobat yang menggunakan tanaman-tanaman berkhasiat obat. Sementara puyang julukan untuk pengobat yang tak hanya menggunakan tanaman obat, tapi juga media supranatural melalui ritual-ritual penyembuhan. Para pengobat itu menggunakan tanaman obat yang tumbuh di  dalam hutan di sekitar Danau Tasek Bera.

Sayangnya profesi puyang mulai langka. Maklum, kemampuan menyembuhkan melalui kekuatan supranatural biasanya diwariskan secara turun-temurun. Sementara sang pewaris terkadang enggan melanjutkan profesi sebagai puyang. Kini yang tersisa hanya bomoh. Seorang bomoh biasanya merangkap sebagai kepala kampung. “Jadi tugas kepala kampung itu banyak. Selain mengurusi warga, juga mesti paham tentang tanaman obat,” ujar Rahman yang menjadi kepala Kampung Pathir.

Namun, kini tak semua penyakit boleh diobati bomoh dan puyang. “Pengobat hanya boleh mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi ringan seperti demam, penyakit kulit, dan diare,” ujar Rahman. Sementara pasien penyakit yang perlu segera ditangani medis seperti penyakit jantung, radang paru-paru, dan diabetes mesti menjalani pengobatan modern oleh para dokter.

Wetland Internasional, lembaga nonpemerintah yang bergerak di bidang konservasi lahan basah, melestarikan kebiasaan suku Semelai dalam pemanfaatan tanaman obat. Lembaga itu mengumpulkan aneka jenis tanaman obat yang kerap digunakan oleh suku Semelai, mengidentifikasi, lalu membudidayakannya di sebuah lokasi di dalam hutan. Lokasi budidaya apotek hidup itu 15 km dari Kampung Pathir yang ditempuh bermobil dan berjalan kaki masing-masing 30 menit.

Lokalisasi penanaman tanaman obat itu memudahkan anggota suku Semelai ketika memerlukan penawar sakit. “Jadi kami tidak perlu lagi berkeliling hutan untuk mencari tanaman obat, cukup mengunjungi kebun koleksi tanaman herbal,” ujar Rahman. Bukan hanya mudah mencari, Rahman dan Hashim juga lebih mudah mewariskan pengetahuan pengobatan kepada generasi berikutnya. Sebab, hilang tanaman hilang juga pengetahuan. (Imam Wiguna)

Keterangan Foto :

  1. Kapal baning Phyllagathis rotundifolia, digunakan suku Semelai untuk mengobati tekanan darah tinggi
  2. Peret chengrang Agrostistachys longifolia, digunakan warga suku Semelai untuk mengobati sakit perut dan diare berdarah
  3. Hashim Inolan menyirih dan mengunyah pinang untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut
  4. Chepot Elettariopsis curtisii obat demam dan sakit kepala
  5. Segedang Smilax calophylla dipercaya sebagai pendongkrak stamina pria
  6. Alat dan bahan yang digunakan suku Semelai untuk menyirih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Jambu Mete, Komoditas Kelas Premium di Pasar Global

Trubus.id — Jambu mete menjadi salah satu komoditas kelas premium di pasar global. Bahkan, jambu mete merupakan produk kacang-kacangan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img