Sunday, August 14, 2022

Semerbak Harum Bisnis Melati

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Essensial Oils of Jasmine populer sebagai campuran kosmetik dan parfum. Di kalangan pembuat parfum di Grasse, Perancis, ada pameo tak ada parfum yang sempurna tanpa campuran essens jasmine. Kalau tak percaya hiruplah parfum No. 3 Chanel atau Joy Daro dari Jean Patou. Aroma wangi dari melati akan menguar.

Setali tiga uang di tanahair. Absolut melati—nama populer minyak melati—digunakan untuk industri parfum, kosmetik, aromaterapi, dan farmasi. Tak heran, walaupun berharga cukup mahal, minyak ini tetap diburu. Di pasar memang beredar sintetisnya, tapi untuk kalangan tertentu asiri alami tetap tidak dapat tergantikan.

Kendala teknologi

Dalam kurun waktu 2 tahun antara 2002—2003 Biro Pusat Statistik mencatat Indonesia mendatangkan 2.480 ton minyak essensial melati dari luar, senilai US$22.776. Kecenderungan impor makin meningkat. Sebagian besar berasal dari Singapura, Th ailand, dan Cina.

Padahal, Indonesia produsen melati. Impor tetap jalan karena belum ada perusahaan yang memproduksi minyak melati. Pekebun-pekebun hanya menjual segar atau berupa roncean. Itulah sebabnya harga melati sangat fl uktuatif.

Saat musim kemarau per kilo mencapai Rp15.000—Rp20.000; panen raya di musim hujan harga merosot hingga Rp4.000—Rp5.000 per kilo. Itu pun tidak semuanya bisa ditampung pasar. Akibatnya bunga dibiarkan menumpuk dan membusuk.Penyulingan melati yang diharapkan memperkecil tingkat fl uktuasi harga belum bisa diwujudkan.

“Menyuling melati tidak sama dengan asiri lain, para pekebun belum mengetahui caranya,” ujar Suyanti Satuhu, peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen, Jakarta. Hal senada diungkapkan Dr Astu Unadi, M Eng, kabid program dan informasi perekayasaan Mekanisasi Pertanian Alsintan. “Jika bahan seperti nilam atau cendana bisa diekstrak dengan suhu tinggi, maka melati harus menggunakan teknologi khusus,” tutur Astu. Teknologi yang dimaksud Astu adalah ekstraksi menggunakan pelarut atau adsorbsi dengan lemak.

Masih marak

Meski tidak dalam bentuk minyak, permintaan melati segar dan roncean tetap mengalir ke sentra-sentra penghasil melati. Sebut saja Tegal, Pekalongan, Batang, Bogor, atau Brebes. Chameli—sebutan melati di India—dari daerah sepanjang jalur pantura itu laku dijual di dalam dan luar negeri.

Aktivitas Haji Taghrib, pekebun sekaligus eksportir melati di Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, bisa dijadikan bukti. Sejak 1970 ia bergelut di melati. Lahannya dari tahun ke tahun terus bertambah. Dari 0,5 ha sekarang menjadi 5 ha. Setiap hari 1,3 kuintal melati dituai oleh pria berpenampilan kalem itu.

Selain hasil sendiri, ia juga menampung produksi dari pekebun lain. Volume serapan bisa mencapai 5 ton per hari. Menurutnya pasar luar negeri tidak sulit didapat. Seorang importir minta dipasok rutin. Setiap hari 40 boks melati dikirim Haji Taghrib ke Singapura. Satu boks berisi 39 kg melati curah dan roncean. Di Singapura kuntum melati digunakan sebagai pelengkap sesaji dalam upacara keagamaan. Ronceannya untuk kalung patung Budha.

Jasminum sambac kualitas ekspor dihargai Rp30.000 per kg. Syaratnya diameter kuntum 0,62—0,75 cm, panjang 1,1—1,3 cm. Bunga dalam keadaan kuncup, berwarna putih, dan segar. Sebagai pengepul besar Taghrib menerima melati dalam berbagai ukuran alias campuran. “Dari 100 kg setoran, biasanya hanya 30—40 kg yang layak dikirim,” ungkapnya.

Melati kualitas ekspor tidak mudah didapat. Musababnya melati yang dihasilkan pekebun berukuran kecil. Untung saja sepanjang jalur pantura Brebes—Tegal, ada 11 pabrik pengolahan teh. Sebut saja Sosro, 2 Tang, Tong Tji, atau Teh Poci. Ke tempat inilah 80% produksi melati Tegal terserap. Sisanya dikirim ke Jakarta. “Total kebutuhan untuk pabrik teh mencapai 20—25 ton segar setiap hari. Tegal baru memasok 10 ton,” ujar Lambertus, dari Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Tegal.

Roncean

Nun di Bangkalan, Madura para pekebun Ratoh ebuh—melati asli Bangkalan—juga mencecap manisnya bisnis malete—sebutan melati di Madura. Saat musim pernikahan harga bisa melonjak hingga Rp150.000—Rp200.000 per kg, normalnya Rp25.000—Rp30.000. Konsumen terbesar usaha dekorasi pernikahan.

Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga Rawabelong Jakarta mencatat setiap minggu ada 4—9 ton melati segar yang datang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Pada musim-musim pernikahan bisa sampai 11 ton per minggu,” ujar Zainal Abidin, S.Sos, Kasie Pelayanan Usaha.

Di Rawabelong ada 25 pedagang khusus melati. Setiap hari mereka menjual hingga 30—50 kg. Melati dijual dalam kemasan 1/4 kg.Setiap kemasan manuru—melati di Ternate—dihargai Rp3.000—Rp5.000, tergantungkualitas dan tingkat kesegaran. “Dari pengepul kami beli Rp10.000—Rp11.000/kg,” ujar Astiah, yang beromzet Rp200.000—Rp500.000/ hari.(Laksita Wijayanti)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img