Wednesday, August 10, 2022

Semua Tentang Ikan Samurai

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Peternak koi itu menggunakan air sungai sebagai sumber air kolam. Anak sungai kemudian dihubungkan dengan selokan kecil selebar 1 m dan dalam 0,5 m. Air masuk dari kolam tertinggi dan keluar ke kolam selanjutnya yang posisinya lebih rendah. Begitu seterusnya. “Mirip sistem terasering pada sawah ya,” kata Zikra L Anwar, peserta kunjung kolam.

Lantaran sumber air tersedia terusmenerus menyebabkan sistem fi lterisasi tidak dibutuhkan sama sekali. Kelebihan lain, oksigen terlarut tetap tinggi karena posisi antarkolam cukup tinggi. Air jatuh menderas menciptakan oksigen yang dibutuhkan nishikigoi—sebutan koi di Jepang yang berarti ikan warna-warni.

Meski demikian bukan berarti kolam model terasiring itu tanpa kelemahan. Menurut Rudy Siswadi yang menghadiri acara itu, kolam bersambung semacam itu amat rentan menyebarkan penyakit. Bila penyakit menyerang ikan di kolam bagian atas, bakal cepat menular ke ikan di bagian hilir. Efek berantai itu jelas sulit dicegah. Air mengalir menjadi media penularan penyakit yang efektif. Untuk menyiasatinya, pengamatan dini suatu keharusan yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Begitu koi di kolam teratas sakit, segera isolasikan. Langkah lain, air harus segera diganti.

Program lama

Itulah kegiatan yang berlangsung pada acara pond visit. Intinya adalah bertukar informasi tentang ikan samurai alias koi. Pond visit sebetulnya program lama yang digulirkan oleh Jakarta Koi Club pada 2003. Sayang acara itu mandek, hanya berlangsung dua kali di kolam milik Tony Soelaiman di Jakarta Pusat. Program itu akhirnya dimunculkan lagi oleh anggota milis ikankoi@ yahoo.com untuk menampung gairah memelihara koi. Antara pond visit lama dan yang baru ada bedanya. Para penggemar koi meski belum mempunyai ikan hias kerabat ikan mas boleh ikut serta.

Pemicu pond visit baru adalah diskusi seputar koi di dunia maya di sebuah situs internet. Di jagat maya itu mereka bertukar informasi seputar koi dan perawatannya. Sebagian peserta diskusi tak saling kenal. Nah, mereka ingin juga bertemu muka agar lebih intens berdiskusi. Maka diwujudkanlah pond visit itu. Untuk pertama kali kunjung kolam berlangsung di Cipayung, Bogor.

Setelah mencermati plus-minus kolam terasering seluas 3.000 m2 milik Udin, peserta beristirahat. Toh, diskusi soal koi masih berlanjut sembari menikmati kopi panas plus pisang goreng di gazebo tepi kolam. Rudy Hartono hobiis koi di Tangerang, Banten, menggulirkan ide dogfood sebagai pakan koi. Ia telah mempraktekkan gagasan itu. Hasilnya koi tumbuh sehat, tetapi biaya perawatan lebih murah.

Di tengah serunya diskusi sesekali terdengar gelak tawa mendengar kisah yang tak lazim. Seperti yang dialami Karomul, country manager untuk wilayah Indonesia, Asia Netcom, sebuah perusahaan teknologi informasi. Ia kaget saat membuka lemari es ketika pulang dari luar kota. “Kok banyak pepes? Pas dibuka, kohaku saya sudah terbujur kaku,” katanya sembari tersenyum geli. Ternyata koi-koi koleksinya menuai ajal akibat satpam di rumahnya kebanyakan memberi pakan. Kondisi itu diperparah dengan matinya pompa dan fi lter. Sang pegawai takut disangka menjual koi kesayangan ke hobiis lain. Ia membuktikan itu dengan membuat pepes koi.

Tiga farm

Saat matahari mulai condong ke barat, perjalanan dilanjutkan ke Oriental Koi. Letaknya, hanya sekitar 1 km ke arah utara  dari Tukang Koi—nama perusahaan milik Udin. Farm itu banyak mendatangkan anakan koi dari M o m o t a r o Koi Farm, salah satu penangkar terkenal di Jepang. K o n s t r u k s I kolam milik Oriental Koi lebih modern dibanding s e b e l u m n y a . Tampak 12 kolam berkapasitas 9— 60 ton tertata rapi. Sistem p o m p a , fi lterisasi, dan sirkulasi air telah diterapkan.

Farm yang dikelola oleh Bohan itu menangkarkan koi dari indukan impor. Anakan yang dihasilkan disebar ke 2 mud pond alias kolam lumpur masing-masing seluas 250 m2. Baru setelah berumur 2 bulan—berukuran 5 cm—anakan dipindahkan ke kolam beton. Tujuannya agar pertumbuhan ikan lebih cepat. Di kolam lumpur ketersediaan bahan organik sebagai pakan koi lebih memadai.

Kolam lain yang disambangi adalah Medali Koi, sebuah ruang pamer koi sekaligus rumah makan.Lokasinya hanya berjarak beberapa kilometer dari Oriental Koi. Sayang, Koramul harus berpisah karena harus terbang ke Surabaya. Rehat sembari makan makan siang berlangsung di sana. Di dindingnya dihiasi poster jawara-jawara koi di Jepang. Beberapa saat kemudian kunjungan dilanjutkan ke Ayunawa Koi Farm di Bogor milik Agus Sjahgusman. Di kolam itulah acara pond visit pertama berakhir. “Stres dan penat terobati,” kata Rudy Siswadi, hobiis di Pondokgede, Bekasi (Destika Cahyana).

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img