Monday, August 8, 2022

Semut Datang Gubal Terbilang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Usman Mansur panen gaharu tanpa inokulasi cendawan dan tanpa menebang pohon.

 

Sepuluh pohon gaharu berumur empat tahun itu tumbuh menjulang. Pohon berdiameter 15 cm sejatinya layak untuk diinokulasikan cendawan. Namun, Usman Mansur malah menyiapkan paku sepanjang 5 cm dan seperempat kg gula pasir atau secangkir madu. Pekebun di Desa Pulauaro, Kecamatan Tabirulu, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, itu mula-mula memanaskan paku sepanjang 5 cm sampai hampir membara lalu menancapkan ke pohon gaharu hingga terbenam. Arah paku agak miring ke bawah dengan sudut kemiringan 30-45 derajat.

Setelah 2-3  pekan, ayah 5 anak itu mencabut paku, lalu memasukkan air gula atau madu yang sudah diencerkan ke dalam lubang bekas paku. Banyak semut berdatangan dan mulai bersarang di lubang bekas paku itu. Selang 1-2 tahun, Usman panen gubal yang terbentuk di sekitar lubang paku itu. Ia tinggal mengerok gubal itu dengan parang atau pisau. Dari sebuah lubang sepanjang 5 cm itu ia memperoleh 100-200 gram gubal kualitas teri atau kacangan berdiameter 3-5 cm dalam 2-3 tahun. Semakin lama waktu panen, kualitas gubal semakin baik.

Tanpa tebang

Sejak pertengahan 2011 lalu, setiap bulan Usman rutin menuai 0,5-1 kg gubal dengan metode memancing semut dari total 10 pohon gaharu. Seorang pengepul datang ke rumahnya untuk mengambil gubal itu. Harga gubal kelas super pada Januari 2012 mencapai Rp30-juta per kg. Dengan cara itu, maka pohon tetap hidup karena tanpa penebangan dan ia dapat mengulangi cara serupa untuk panen gubal pada periode berikutnya.

Usman Mansur tergerak bereksperimen dengan paku dan gula setelah mengamati gaharu di alam. Ia melihat ratusan semut bersarang di area gubal. Menurut ahli gaharu dari Universitas Bengkulu, Dr Ir Mucharromah, semut membuat jalan masuk cendawan inokulan.

Indikasi keberhasilan semut membentuk gubal mulai tampak pada dua bulan pascaperlakuan. Menurut Drs Yana Sumarna MSi, peneliti tanaman kehutanan di Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, kaki semut kerap membawa kapang. Saat semut menyentuh jaringan pohon yang terbuka, kapang mulai menginfeksi jaringan kayu. Kapang itu antara lain Phialophora parasitica.

Jika kulit pohon di sekitar lubang tampak menggembung, artinya gubal mulai terbentuk. Selama ini ia membatasi hanya menancapkan lima paku di sebuah pohon. Prinsip pembentukan gubal adalah membuat pohon sakit. Namun, agar pekebun dapat panen terus-menerus dari sebuah pohon, maka pohon itu tidak boleh terlalu sakit, apalagi mati. Itu sebabnya Usman menyarankan untuk tidak membuat terlalu banyak lubang di sebuah pohon pada saat bersamaan.

Penancapan paku boleh di batang utama, dahan atau ranting asal berdiameter minimal 10 cm. Yang penting hindari penggunaan paku terlalu panjang agar batang tidak terlalu rusak usai pemanenan gubal. Panjang paku idealnya maksimal sepertiga diameter bagian pohon yang akan dipaku. Jika diameter batang 15 cm, maka panjang paku maksimal 5 cm; bila diameter cabang 10 cm, panjang paku, 3 cm.

Menurut Usman, ukuran dan kualitas gubal yang muncul bisa diatur. Untuk memperbesar ukuran gubal, misalnya, ia menggunakan paku yang lebih besar atau membuat beberapa lubang berdekatan. Pengalaman Usman, sebatang pohon gaharu bergaris tengah 15 cm hanya dilubangi di 5 tempat. Jarak antarlubang setidaknya 50 cm, dengan lubang terbawah berjarak minimal 1 m dari permukaan tanah.

Kelas teri?

Menurut ahli gaharu dari Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, Dr Erdy Santoso pembentukan gubal memerlukan infeksi cendawan yang tepat. “Gubal terbentuk kalau terjadi infeksi oleh cendawan. Jika tidak, hanya terbentuk kayu lapuk yang tidak wangi,” kata alumnus Jurusan Biologi Universitas Padjadjaran itu. Periset kelahiran 61 tahun itu mengembangkan cendawan untuk menginfeksi pohon agar menghasilkan gaharu kelas super.

Hasilnya efektif, sebatang pohon berumur 3 tahun menghasilkan setidaknya 2 kg gaharu kelas menengah 2 tahun pascainokulasi. Sayang, panen gaharu yang terbentuk di tengah batang itu tetap dengan menebang pohon. Meski menjanjikan penghasilan berlimpah, banyak pihak tidak sepakat jika panen gaharu dengan menebang pohon. Sebab, pohon gaharu hidup tetap berkontribusi terhadap ketersediaan oksigen, menyerap karbondioksida dari udara, dan meresapkan air hujan. Menebang gaharu, meski nantinya menanam kembali, berarti mengganggu siklus ketiga proses itu.

Alasan lain, pertimbangan ekonomis. Gaharu siap inokulasi mesti berumur minimal 3 tahun, sedangkan panen tercepat pada 2 tahun pascainokulasi. Itu berarti pekebun cuma memperoleh uang 5 tahun sekali. Sebagian untuk modal penanaman kembali, 3 tahun kemudian harus keluar uang lagi untuk inokulasi, lalu menunggu lagi. “Kaya sekejap, miskinnya lama,” kata Usman Mansur. Ia paham benar tentang gaharu lantaran menggeluti kerabat mahkota dewa itu sejak 1997.

Sejak semula ia tidak setuju dengan para tetangga yang kerap keluar-masuk hutan mencari gaharu. Pada 2000, kelahiran 56 tahun silam itu pun mulai membibitkan gaharu. Kontan kelakuan Usman menuai cibiran. Banyak tetangga menganggapnya orang aneh. Pasalnya, orang biasa mencari gaharu di hutan, tidak ada yang menanam di pekarangan. Lagipula, pohon gaharu di hutan saja belum tentu menghasilkan gaharu. Apalagi pohon gaharu di pekarangan. Namun, kini Usman membuktikan bahwa panen gaharu tak harus menebang pohon. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Keterangan Foto :

  1. Pemanfaatan kayu gaharu sebagai sumber aroma wangi pada industri parfum, juga untuk dupa
  2. Pohon gaharu siap inokulasi umur 5-6 tahun
  3. Dr Erdy Santoso: pembentukan gubal perlu infeksi cendawan yang tepat
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img