Wednesday, August 10, 2022

Sensasi Adenium Unik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Setahun berselang, petuah-begitu kreasi kamboja jepang itu dijuluki-menggemparkan dunia adenium. ‘Ekspresinya benar-benar menonjol,’ tutur Aris Budiman alias Adeng, pelopor adenium sekaligus juri berbagai kontes.

Pantas Adeng terpikat petuah. Kehadirannya menorehkan perkembangan paling mutakhir di kelas adenium unik. Selama ini, lazimnya adenium unik menyerupai bentuk-bentuk tertentu di alam, tapi minus roh. Adenium unik bertema kura-kura bonggolnya mirip hewan bertempurung itu, tapi tidak terlihat ekspresi hidup. Pun liukan penari, angkat beban, dan monyet.

Beda dengan petuah. Dua adenium yang disatukan di pot ceper itu mengekspresikan kisah Resi Bisma menasihati Yudhistira sesaat sebelum perang Baratayuda. Resi Bisma diwakili adenium bersosok bongsor yang terlihat berwibawa dengan mahkota di kepala yang sebetulnya cabang dan daun. Di hadapannya, bonggol lebih kecil menyerupai sosok sang cucu, Yudhistira raja Amarta, yang tengah menunduk takzim mendengarkan petuah Bisma.

‘Tema yang ditampilkan menunjukkan bentuk, ekspresi, dan aktivitas sekaligus pada objeknya,’ ujar Andy Solviano Fajar, juga juri berbagai kontes, memuji petuah. Ukiran wajah di bonggol pun tampak halus dan menyatu sempurna. Pantas 2 kali mengikuti lomba-kontes di Gianyar dan Taman Ayun, Badung, pada April dan Juli 2007, 2 kali pula kreasi I Gede Merta itu menyabet gelar juara ke-1 kelas adenium unik kreasi. ‘Petuah adenium unik terbaik se-Indonesia,’ sanjung Adeng. Kreasi lain ayah 2 anak itu tak kalah memikat.

Destika Cahyana, wartawan Trubus, menjepret adenium yang bentuknya mirip pesilat tengah mengambil ancang-ancang bertarung. Tema bercengkrama-menampilkan 2 adenium seperti 2 orang sedang bersenda-gurau. Senyum dan gelak tawa terpancar dari ekspresi wajah yang ditoreh di 2 bonggol adenium.

Barometer unik

Di kediaman Drs I Made Wardana di Gianyar, ada adenium unik bertema panjat tebing. Bentuk bonggol mawar gurun yang ditanam terbalik itu benar-benar mirip pemanjat tebing tengah meniti bebatuan terjal. Sementara Agus Deddy Suprapta, SH, di Denpasar, mengoleksi adenium unik bertema anjing. Ekspresinya mirip satwa kaki empat itu tengah menyalak. Di ajang kontes di Sanur pada awal Agustus 2007, Adeng dan Kabul-begitu Andy Solviano biasa disapa-tertegun lama di hadapan adenium unik kreasi anjing dan bullfrog. Koleksi I Wayan Balik Beratayana di Gianyar itu termasuk 2 adenium unik kreasi terbesar.

Penelusuran Trubus ke Pulau Dewata itu menguak fakta baru: Bali barometer adenium unik. Padahal pulau yang terkenal keindahan pantai Sanur dan Kuta-nya itu terbilang pendatang di dunia adenium. Menurut para pemain, kamboja jepang baru ramai menggeliat di Bali pada 2005. Padahal anggota famili Apocynaceae itu sudah sejak awal 2000 diperkenalkan di tanahair.

‘Selama 3 tahun malang-melintang di arena kontes, baru di Bali saya melihat adenium unik berkualitas. Ini parade adenium unik terbaik sepanjang sejarah adenium,’ kata Adeng ketika hadir pada kontes di Gianyar. Unik di Pulau Dewata pun berbeda dengan di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Adenium unik di Bali-seperti kata Andy Solviano-memiliki tema yang menampilkan bentuk, ekspresi, dan aktivitas sekaligus. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tema biasanya mengasosiasikan dengan bentuk tertentu, misal binatang.

Modal seni

Kalau unik asal Bali tampil beda itu karena Pulau Dewata punya segudang keunggulan. Bali gudangnya para seniman: perupa, pemahat, dan pengukir. Di sana hampir setiap pria mampu menggoreskan tangan untuk berekspresi. Pantas pada 3 kontes terakhir di Pulau Dewata-Gianyar (April), Badung (Juli), dan Sanur (Agustus), penonton bahkan juri nasional asal Yogyakarta, Solo, dan Ponorogo terkagum-kagum melihat karya para ‘seniman’ adenium.

Toh, Merta dan kawan-kawan bukan pelopor adenium kreasi. Ide kreatif itu bermula dari Pulau Jawa. Nizam A. Khafi d, ketua Perhimpunan Pecinta Adenium Indonesia (PPADI) Jawa Timur, mengamati adenium unik-terutama yang alami-sudah ada sejak 1995. Namun, baru belakangan muncul di kontes.

Adeng menyebut kemunculan pertama pada lomba di Solo, Agustus 2004. Waktu itu jumlahnya masih sangat sedikit. Peserta lebih signifi kan pada kontes di Yogyakarta, September 2004. Pada kontes di Kota Gudeg itu unik mulai dikelompokkan di kelas khusus. Muncul sebagai salah satu pemenang adenium sisik naga-bonggolnya dipahat menyerupai sisik naga. Seiring perjalanan tren adenium di tanahair, jumlah adenium unik di arena kontes terus melonjak. Sekadar menyebut contoh pada kontes di Kediri akhir 2005 tercatat 46 peserta dari total 137 peserta. Pada Trubus Adenium Contest Juni 2007, 33 peserta dari total 143 peserta.

Sementara tren unik di Bali mulai menggeliat pada Agustus 2006. Menurut catatan Anak Agung Ngurah Rai, ketua Asosiasi Penggemar Adenium (ASPAD) Bali, jumlah peserta unik saat itu 15 tanaman dari total 120 peserta. ‘Meski begitu antusiasme masyarakat sangat bagus,’ kata Ngurah Rai. Empat bulan berselang pada kontes di Tabanan, jumlah unik meningkat jadi 30 peserta dari total 155 peserta. Pada kontes di Denpasar pada Februari jumlah unik mencapai 59 peserta, Gianyar (April), 62 peserta dari 175 peserta, dan Badung (Juli), 58 peserta dari 226.

Sempurna

Belakangan setelah jumlah peserta bertambah banyak, pengkelasan dibuat lebih spesifi k: unik alami dan unik kreasi. Adeng membedakan keduanya dari campur tangan manusia. ‘Pada unik alami, campur tangan manusia untuk merekayasa bentuk tidak kentara, disamarkan. Sementara pada unik kreasi, campur tangan manusia justru sengaja diekspos,’ papar pemilik nurseri Watu Putih itu.

Pendapat Tjandra Ronywidjaja, juri senior dari Jawa Timur, hampir senada. Tjandra mengkategorikan unik alami bila keunikan bonggol yang sesuai tema didapat dengan sedikit perlakuan dan tanpa aksesori seperti baju, kain, atau mata palsu. Unik alami bisa juga berasal dari mutasi: kristata, bonggol kuning, atau batang berbenjol-benjol.

Unik kreasi membolehkan penambahan aksesori sebagai penguat tema. ‘Penambahan aksesori memang diperbolehkan,’ kata Adeng. Syaratnya, aksesori dipakai hanya untuk menguatkan tema. Jika aksesori dilepas, sosok adenium masih sesuai tema. Penambahan aksesori berupa pahatan dari bahan lain-misal kayu-sah-sah saja.

Satu kategori lagi, unik harmoni. ‘Ini bila bonggol, daun, dan bunga tampil prima pada tanaman unik,’ kata Tjandra. Contohnya adenium berbentuk kepala kerbau milik Mujiono yang tajuknya bermandikan bunga berwarna merah muda. Di arena kontes, unik harmoni jarang muncul lantaran sulit menciptakan sosok sempurna seperti itu. (baca: Bonggol Unik, Bunga Cantik, halaman 28)

Vs Taiwan dan Thailand

Penampilan atraktif adenium-adenium unik di berbagai kontes membuat para penggemarnya bermunculan. Di Tangerang, Tan Tek San mengoleksi kamboja jepang unik berbentuk rencong, kujang, dan mandau. Ketiganya adenium obesum yang batangnya bermutasi kristata sehingga berbentuk seperti sosok senjata-senjata khas Indonesia itu.

Di Jakarta, Zulva Halim punya adenium unik bertema 4 wajah-karena 4 sisi dipahat menjadi 4 wajah berbeda-dan topeng monyet. Kevin Handoko di Surabaya punya adenium kura-kura jawara berbagai kontes. Nizam A Khafi d di Gresik mengoleksi kucing emas. Kolektor-kolektor lain bermunculan di Solo, Yogyakarta, Jember, Situbondo, dan Bali.

Bentuk-bentuk unik sang mawar gurun mendapat acungan jempol dari Jung Sheng Lin-pemain tanaman hias kawakan Taiwan. ‘Bonggol unik asal Indonesia jauh lebih baik,’ kata pemilik nurseri Sinox Horticulture itu. Penelusuran Rosy Nur Apriyanti, wartawan Trubus, ke Pulau Formosa memperkuat pendapat itu. Selama 7 hari berkeliling ke 3 nurseri, adenium unik cuma ditemukan di nurseri milik Yui Po Chen di Tian-Wei, Chang-Hua. Obesum berbatang kristata yang sedang memamerkan bunga berwarna merah jadi adenium unik terbaik. Unik lain, lazimnya berupa bonggol-bonggol berbentuk abnormal yang ditata di atas batu. Namun, tak ada unsur ekspresi.

Kondisi serupa di Thailand. Berkali-kali Trubus meliput ke negeri Siam, adenium unik hampir tak pernah ditemukan di nurseri-nurseri. Pun di arena kontes akbar tanaman hias di Suan Luang, Bangkok, setiap Desember. ‘Di Th ailand, penggemar adenium masih menyukai bunga-bunga baru dan sosok tanaman secara keseluruhan. Mungkin ke depan Thailand akan mengikuti Indonesia membuat adenium-adenium unik,’ tutur Anant Kulchaiwatna, pemain adenium kawakan Thailand, kepada Imam Wiguna, wartawan Trubus.

Korespondensi via dunia maya dengan Khuong Hoang, pemain di Saigon, Vietnam, pun menunjukkan adenium unik belum populer di sana. ‘Saya tidak tega menyiksa tanaman dengan mengukir atau memotong-motongnya seperti itu,’ ujar pemilik nurseri Su Co itu, waktu Trubus mengirimkan beberapa foto adenium unik.

Busuk

Namun, membuat adenium unik bukan perkara gampang. Merta ingat, setahun silam dari 11 bonggol yang diolah hanya 3 yang selamat jadi bentuk unik. Baru 5 bulan lalu pemilik nurseri Paras Bali itu menangis gara-gara adenium unik bertema kadal yang di-training selama 6 bulan mati. ‘Itu kesalahan saya. Saya tidak sabar menggoreskan pisau. Eh, ternyata lukanya terlalu banyak sehingga busuk,’ keluh Merta.

Busuk memang musuh seniman adenium unik. Tema bebek koleksi I Wayan Balik Beratayana busuk karena si empunya membuat 2 luka berdekatan untuk membentuk paruh. Kejadian serupa terjadi pada ular, buaya, dan bukit karang milik Agus Deddy Suprapta. ‘Tapi itu memang wajar karena adenium bukan kayu atau batu yang mati. Adenium terus tumbuh, bersifat sukulen, dan bergetah. Risiko busuk karena luka di permukaan bisa mencapai 50-90%,’ kata Merta.

Makanya kreativitas membentuk unik mesti tetap mempertimbangkan kelangsungan hidup adenium. ‘Prinsipnya kreativitas untuk mempertahankan bentuk harus proporsional dengan upaya menjaga pertumbuhan tanaman,’ tutur Prof Dr Ir Sri Setyati Harjadi, MSc, guru besar bidang hortikultura Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Beragam bentuk bisa dibuat sepanjang fungsi-fungsi fisiologis tanaman-pengambilan air dan hara dari tanah oleh akar, pengolahan jadi energi bersama karbondioksida dengan bantuan sinar matahari di daun, dan pendistribusian energi hasil fotosintesis melalui floem-tetap berjalan.

‘Proses-proses itu harus seimbang,’ papar Sri Setyati. Kalau bonggol kisut-tanda asupan air kurang, daun pucat-kekurangan hara mikro atau nitrogen-karena gangguan pada akar. Bonggol kisut dan kusam juga menandakan ada gangguan produksi atau peredaran hasil fotosintesis. Sebaliknya, jika tunas dan daun muncul, berarti pasokan hara dari bawah lancar. Artinya, akar masih berfungsi bagus. Bonggol dan umbi yang mengkilap, gemuk, dan terus membesar berarti fungsi penyimpanan cadangan makanan berjalan lancar.

Itulah yang terlihat pada pesilat milik Merta-hanya ada 1 tunas dengan 4 daun di ‘ketiak’ tapi tanaman tumbuh sehat. Sri Setyati menduga jaringan mesofi l pada batang tanaman sukulen mengandung zat hijau daun. ‘Jadi proses fotosintesis tidak tergantung pada daun,’ kata doktor dari Universitas Louvin, Perancis itu.

‘Unik di Bali menampilkan bentuk, ekspresi, dan aktivitas sekaligus,’ kata Andy Solviano Fajar. Itu yang menyebabkan unik Bali berbeda dengan Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Rp60-juta

Sejatinya pada adenium banyak terdapat titik tumbuh. Perkara posisi dan ukuran titik tumbuh yang dipilih, menurut Sri sangat tergantung pada bentuk unik yang dimaui sang seniman. Pada komponen yang ingin ‘direkayasa’ sehingga lebih panjang, lebih besar, atau lebih banyak, di situlah letak titik tumbuh. Nantinya dari tunas keluar daun yang menjadi ‘dapur’ penghasil makanan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.

Sampai saat itu, jenis obesum paling banyak dipakai sebagai bahan pembentuk unik. Musababnya, secara alami bonggol obesum lebih bervariasi dan unik ketimbang jenis lain. Selain itu ketersediaannya banyak dan harga relatif murah. Toh, mencari bahan asal obesum pun tetap bukan perkara gampang. Untuk bentuk makhluk hidup kelengkapan calon-calon anatomi utama jadi pertimbangan utama. Semakin lengkap anatomi, kekuatan asosiasi-tingkat kemiripan-makin tinggi.

Lantaran prosesnya rumit, pantas harga adenium unik melambung tinggi. Mawar gurun bertema ayam milik kolektor di Kediri dibandrol Rp60-juta. Cangklong bakau karya Zulva Halim dibeli W Djoko Basuki, kolektor di Samarinda senilai Rp10-juta. Di Bali, perpindahan kepemilikan fosil manusia dari tangan I Gede Suyono kepada I Nyoman Gde Parwata Darma senilai Rp7,5-juta jadi transaksi pertama di Pulau Dewata. Para pemain menghitung, nilai jual adenium unik melonjak hingga 10 kali lipat setelah dipoles dari bentuk asli.

Pantas kini pemain adenium-khususnya di Bali-mulai getol memperdalam ilmu si unik. Waktu Destika Cahyana singgah di nurseri milik Merta ada 15 orang yang bergabung membentuk Sanggar Unik. Tujuannya supaya para pencinta adenium itu bisa belajar bersama membuat bentuk-bentuk unik berkualitas.

Para seniman adenium Pulau Dewata pun berobsesi menggelar pameran khusus unik dengan target 500 peserta 9 bulan ke depan. ‘Bila Bali sudah jadi barometer unik, maka adenium unik bakal menyebar ke seluruh Indonesia bahkan mancanegara,’ kata Merta yakin. Kalau Taiwan terkenal dengan obesum bebunga elok, Th ailand sumber arabicum, maka Indonesia barometer adenium unik. (Evy Syariefa/Peliput: Andretha Helmina, Destika Cahyana, Imam Wiguna, dan Rosy Nur Apriyanti)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img