Sensor Pupuk di Tanaman Jambu

Rekomendasi

Trubus.id—Dede Suherlan, pekebun jambu air di Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, tidak perlu khawatir lagi memastikan kebutuhan nutrisi pada tanaman jambunya. Dede memasang alat sensor pintar yang berfungsi untuk mendeteksi kandungan unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium.

Penggunaan alat itu juga membantu Dede dalam menentukan ketepatan dosis pupuk.Sebelumnya, ia menghabiskan 4 kg pupuk yang mengandung kalium nitrat (KNO3). Aplikasi pupuk diberikan dengan cara kocor. Ia juga menambahkan 3 kg pupuk mono kalium phospat (MKP).

Dosis itu untuk 70 tanaman jambu air berumur 9 tahun dengan frekuensi pemberian sekali dalam dua pekan. Padahal dari laporan hasil sensor pintar, pemupukan itu percuma. Hasil laporan sensor menyatakan media tanam yang digunakan sudah mengandung unsur nitrogen, fosfor, dan kalium yang berlebih.

Dede Suherlan, pekebun jambu air di Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, tidak perlu khawatir lagi memastikan kebutuhan nutrisi pada tanaman jambunya. Dede memasang alat sensor pintar yang berfungsi untuk mendeteksi kandungan unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium.
Kebun jambu air milik Dede Suherlan di Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. (Trubus/Intan Dwi Novitasari)

Dede lantas menurunkan dosis ketiga unsur hara itu dan mengganti cara pemupukan. Dede beralih cara pemupukan menjadi irigasi tetes. Menurut Dede penggunaan irigasi tetes yang terintegrasi dengan alat sensor pintar lebih menghemat materi dan tenaga.

Ia tidak perlu menyiram satu per satu tanaman. Alat sensor pintar itu dilengkapi menu untuk melakukan pemupukan secara otomatis. “Saya tidak perlu khawatir lagi saat berada di luar kota, karena semua sudah dikendalikan oleh sistem,” ujar Dede.

Dede cukup menyiapkan 700 liter pupuk untuk 70 tanaman. Larutan itu berisi 1,3 KNO3 dan 1 kg MKP. Aplikasi pemupukan setiap dua pekan. Biaya yang harus dikeluarkan hanya Rp164.000. Ia juga menghemat tenaga untuk mengocor karena irigasi tetes sudah menyala secara otomatis.

Alat sensor pintar itu mempermudah dalam melakukan penyiraman. Biasanya Dede membutuhkan waktu hingga 3 jam setiap hari untuk melakukan penyiraman. Setelah menggunakan alat itu ia hanya membutuhkan waktu 30 menit. Alat sensor pintar itu terhubung pada panel. Alat itu besutan dari PT Inovasi Telematika Nusantara.

Artikel Terbaru

Daun Ketapang Babel Tembus Pasar Ekspor

Daun ketapang asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki potensi besar di pasar ekspor. Permintaan dari negara seperti Amerika Serikat,...

More Articles Like This